Karakteristik Abnormalitas Ginekologi dan Jenis Diversi Urin di RSU Dr. Soetomo

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh jatimnow

Gangguan ginekologi stadium lanjut dapat memiliki pengaruh berupa konsekuensi pada saluran kemih. Keganasan ginekologi yang paling umum, kanker servik uteri, sebagian besar ditemukan dan baru terdiagnosis pada stadium lanjut. Sebuah studi menunjukkan bahwa empat puluh persen pasien kanker servik uteridatang dengan karsinoma stadium 3B dan memerlukan diversi urinakibat gangguan saluran kemih. Kelainan ginekologis lainnya seperti kista ovarium dan SOT juga seringkali disertai dengan gangguan saluran kemih bagian atas.

Umumnya, hidronefrosis timbul pada pasien ginekologi sebagai konsekuensi dari invasi tumor ke ureter, pergeseran massa tumor, metastasis retroperitoneal, atau pembesaran kelenjar getah bening. Hidronefrosis kronis kemungkinan besar diikuti oleh kerusakan parenkim ginjal, akibatnya terjadi nefropati obstruktif yang ireversibel. Kondisi ini menyebabkan kerusakan jaringan ginjal yang seringkali manifestasinya asimptomatis pada awal perkembangan penyakit. Pada akhirnya, ginjal yang terus memburuk akan menunjukkan manifestasi klinis seperti uremia, gangguan cairan dan keseimbangan elektrolit, infeksi saluran kemih, penurunan kesadaran, hingga dapat menyebabkan kematian. Konsekuensi seperti ini harus segera dicegah. Oleh karena itu, banyak pasien ginekologi membutuhkan terapi diversi urin.

Diversi urin pada kelainan ginekologis diperlukan pada kondisi obstruksi ureter, urosepsis, uremia dan hiperkalemia, kolik ginjal persisten, dan hidronefrosis yang memburuk ditandai dengan peningkatan kreatinin serum dan penurunan Glomerular Filtration Rate (GFR). Berbagai jenis diversi urin digunakan sendiri atau dikombinasikan untuk mengoptimalkan pengalihan urin sesuai dengan tingkat keparahan penyakit dan komplikasi yang terjadi. Tiga pilihan diversi urin adalah kateter retrograde double J (DJ stent), ureterokutaneostomi (UCS), dan percutaneous nephropyelostomy (PNS). Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa tingkat kegagalan DJstent cukup tinggi pada kasus trombosis ureter ekstrinsik akibat keganasan, ditambah lagi jika disertai dengan hidronefrosis persisten dan nyeri punggung bawah. Dibandingkan dengan obstruksi pada tingkat proksimal pelvis atau ginjal, obstruksi ureter di segmen distal saluran kemih yang terjadi akibat keganasan menunjukkan tingkat kegagalan DJstent yang lebih tinggi. Menurut studi yang sudah ada, meskipun kasus yang berbeda memiliki tingkat keberhasilan diversi urin yang berbeda pula, tidak ada hubungan yang jelas antara stadium hidronefrosis dengan tingkat keberhasilan pemasangan DJ stent pada pasien karsinoma serviks.

Pada akhirnya, penentuan jenis dan waktu diversi urin yang akan menentukan kualitas hidup pasien gangguan ginekologi bergantung pada pilihan dokter. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui profil pasien dengan kelainan ginekologis yang membutuhkan diversi urin, mengetahui jenis diversi urin berdasarkan kelainan ginekologis, mengetahui manfaat diversi urin pada kelainan ginekologi stadium lanjut, dan mengetahui manfaat pemilihan diversi urin yang tepat sesuai dengan kelainan ginekologi. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Dr. Soetomo dan melibatkan seluruh pasien dengan kelainan ginekologi yang menjalani prosedur DJ stent retrograde, ureterokutaneostomi, dan nefrostomipada periode 2012 hingga 2015.

Data yang dikumpulkan dari Januari 2012 hingga Desember 2014 menunjukkan sebagian besar kasus yang ditemukan adalah kanker serviks yaitu sebanyak 105 kasus (84,7%)  sedangkan yang paling sedikit yaitu kista ovarium sebanyak 4 kasus (3,2%). Hidronefrosis yan menjadi komorbiditas kelainan ginekologi juga diteliti dan didapatkan bahwa kelainan yang paling menonjol yaitu karsinoma serviks dengan hidronefrosis bilateral pada 105 pasien (84,7%), diikuti dengan SOT dengan hidronefrosis bilateral pada 10 pasien (8,1%) dan kasus paling sedikit adalah kista ovarium dengan hidronefrosis bilateral yang terjadi hanya pada 1 pasien (0,8%).

Prosedur yang berbeda dilakukan berdasarkan karakter masing-masing kasus. Secara umum, kelainan ginekologi terbagi menjadi 2, yaitu yang dapat dioperasi (operable) dan tidak dapat dioperasi (non-operable). Dari seluruh kasus yang dapat dioperasi, Total Abdominal Hysterectomy (TAH) dilakukan pada 15 pasien, Unilateral Salpingo-Oopherectomy (USO) pada 11 pasien, dan kistektomi pada 3 pasien. Sementara itu, 95 kasus didapatimasuk dalam kategori tidak dapat dioperasi. Dari seluruh kasus urologi, diversi urin berhasil dilakukan pada 106 kasus DJ stent (terdiri dari 8 kasus (7,5%) hidronefrosis (HN) unilateral dan 98 kasus (92,5%) HN bilateral), 6 kasus percutaneous nephropyelostomy (PNS) (6 kasus (100%) HN bilateral), dan 11 kasus ureterocutaneostomy (UCS), sedangkan kegagalan pemasangan diversi urin ditemukan pada 1 pasien. Pasien yang berhasil menjalani diversi urin menunjukkan peningkatan fungsi ginjal.

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, kegagalan penempatan DJstent di ginjal ipsilateral pada pasien hidronefrosis ditemukan berhubungan dengan stadium karsinoma serviks dan hidronefrosis yang dialami pasien. Tanpa mempertimbangkan sisi ginjal yang sakit, analisis statistik dilakukan dan ditemukan hubungan yang jelas antara stadium hidronefrosis dengan keberhasilan penempatan DJ stent retrograde pada pasien karsinoma serviks uterus. Hubungan berupa korelasi positif yang ditemukan menunjukkan bahwa semakin tinggi derajat hidronefrosis, semakin tinggi pula probabilitas kegagalan DJstent. Di sisi lain, stadium karsinoma serviks uterus, rentang waktu antara diagnosis dan penempatan DJstent, serta tingkat kreatinin serum sebelum operasi tidak berhubungan secara signifikan dengan keberhasilan penempatan DJstent retrograde.

Dapat disimpulkan bahwa gangguan ginekologi yang paling umum menyebabkan obstruksi ginjal bilateral dan unilateral adalah karsinoma serviks uterus. Tiga jenis diversi urin yaitu kateter retrograde double J (DJ stent), ureterokutaneostomi (UCS), dan percutaneous nephropyelostomy (PNS) adalah pilihan utama untuk kelainan obstruksi ginjal. Diantara ketiganya, yang paling umum digunakan adalah DJ stent. Prosedur diversi urin juga ditemukan dapat meningkatkan kreatinin tanpa menghiraukan jenis diversi urin yang dipilih. Selain itu, stadium hidronefrosis ditemukan memiliki korelasi positif dengan kegagalan penempatan DJ stent retrograde pada pasien karsinoma serviks uterus.

Penulis: Prof Dr Soetojo, dr, SpU(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://e-journal.unair.ac.id/FMI/article/view/14347

Soetojo, Ambo Tuwo Nurdin (2019). Charateristics of Gynecological Abnormalities and Types of Urine Diversion at Dr Soetomo Hospital, Surabaya, Indonesia, in Three-Year Period. Folia Medica Indonesiana, 55(2):134-138. http://dx.doi.org/10.20473/fmi.v55i2.14347

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu