Kadar Kolesterol Total dan C-Reactive Protein (Crp) sebagai Penanda Prognostik Urosepsis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh nusaherba

Urosepsis adalah suatu kondisi ketika infeksi saluran kemih menyebabkan sindrom responinflamasi sistemik (SIRS). Sepsis dapat menyebabkan perubahan hemodinamik tubuh dan metabolisme hingga ke tingkat sel. Utamanya organel seluler yang paling terpengaruh adalah mitokondria. Respirasi seluler dan transportasi oksigen dalam mitokondria dapat terganggu oleh karena sepsis. Oleh sebab itulah, sepsis berat dan syok septik dapat menyebabkan sindrom disfungsi organ multipel hingga kematian. Konsekuensi serius inilah yang menjadi landasan bagi para ilmuwan dan peneliti untuk mencari penanda yang dapat memprediksi bagaimana penyakit ini akan berkembang. Hingga hari ini, beberapa variabel klinis dan laboratorium, seperti kadar kolesterol total dan C-reactive protein (CRP) dispekulasikan dapat digunakan sebagai penanda prognostik untuk urosepsis. Namun, studi lebih lanjut diperlukan untuk menentukan biomarker mana yang terbaik untuk memprediksi prognosis pasien urosepsis.

Salah satu penanda prognostik untuk urosepsis adalah Kolesterol. Kolesterol ditemukan menurun ketika bakteri memasuki tubuh manusia dan melepaskan toksinnya. Perkembangan sepsis juga akan menurunkan kolesterol seiring dengan tingkat keparahan penyakit ini. Tubuh menggunakan kolesterol untuk melawan bakteri. Endotoksin dalam bakteri gram negatif dan asam lipotiat (LTA) dalam bakteri gram positif akan berikatan di antara ikatan  lipopolisakarida (LPS) dan kolesterol (lipoprotein), ikatan molekul yang terbentuk ini disebut protein pengikat lipopolisakarida (LBP). Ikatan ini merupakan upaya untuk menetralkan racun dari bakteri dan mengurangi respon seluler. Selain itu, LBP juga mempresentasikan monomer endotoksin (LPS) ke beberapa sel imun, seperti CD14 yang terikat pada membran monosit, neutrofil, dan makrofag. Dengan cara inilah, infeksi lebih lanjut dapat dicegah. Proses inflamasi sistemik dalam urosepsis juga menurunkan sintesis kolesterol karena pelepasan sitokin seperti TNF𝝰, IL-1, dan IL-6.

Studi prospektif ini membandingkan kadar kolesterol total dan C-reactive protein(CRP) untuk menilai prognosis urosepsis. Sampel untuk penelitian ini yaitu 30 pasien yang didiagnosis dengan urosepsis di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo. Semua responden diklasifikasikan berdasarkan tingkat keparahan klinis, kadar kolesterol total, kadar CRP, MAP, leukosit darah, pemeriksaan urinalisis, kultur urin dan kultur darah, BGA (analisis gas darah), SGOT, SGPT, BUN, dan kadar kreatinin serum. Pada hari ketiga pasien dinilai kembali tingkat keparahan klinisnya, kadar kolesterol total, dan CRP. Penilaian ulang kadar total kolesterol dan CRP dilakukan kembali pada hari pasien dinyatakan sembuh atau meninggal atau hingga hari ke-14 pengobatan. Uji korelasi dilakukan untuk mengetahui apakah kolesterol dan CRP memiliki hubungan dengan hasil dan prognosis pasien.

Kadar CRP pasien urosepsis ditemukan lebih tinggi pada pasien dengan hasil yang memburuk dan lebih rendah pada pasien dengan hasil kondisi yang lebih baik. Adapun pasien yang meninggal pada hari ketiga dan terakhir, kadar CRP ditemukan lebih tinggi pada pasien yang meninggal di hari terakhir. Selisih kadar CRP hari pertama dan terakhir pada pasien dengan hasil yang memburuk menunjukkan nilai positif. Sedangkan pada pasien dengan hasil yang membaik, selisihnya menunjukkan nilai negatif. Sementara itu, kadar kolesterol total ditemukan tertinggi pada hari pertama pasien yang meninggal, diikuti oleh pasien dengan sepsis prognosis buruk, dan terendah pada pasien yang kondisinya membaik. Selain itu, kolesterol ditemukan menurun secara konstanmengikuti perkembangan sepsis. Interpretasi data berdasarkan korelasi Spearman menunjukkan bahwa kadar CRP pada hari pertama, ketiga, keempat belas, dan delta CRP (hari 14 dikurangi hari 1) pada pasien dengan urosepsis menunjukkan korelasi yang signifikan.

CRP meningkat perlahan 12 – 18 jam setelah onset pertama sepsis, kadarnya mencapai tingkat puncak dalam 36 – 50 jam. Jika stimulasi pelepasan CRP dari sepsis dihilangkan, kadar CRP akan turun dengan cepat. Karena inilah,kadar CRP hanya akan turun jika tindakan untuk menghilangkan proses inflamasi seperti terapi obat dilakukan. Hasil penelitian ini mencerminkan bahwa kadar CRP yang tinggi berkaitan dengan prognosis buruk, sedangkan kadar CRP yang rendah berkaitan dengan prognosis yang baik. Tingkat CRP yang tinggi juga mengindikasikan bahwa banyak organ telah mengalami kegagalan.

Oleh karena itu, penelitian ini menyimpulkan bahwa kadar kolesterol total dan CRP dapat digunakan sebagai prediktor prognosis urosepsis. Studi ini juga menyarankan bahwa pengukuran kadar kolesterol total dan CRP harus dilakukan secara berkala pada pasien dengan urosepsis. Tindakan ini akan membantu dokter mengidentifikasi kondisi pasien untuk memberikan terapi yang memadai. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa kadar kolesterol total adalah prediktor yang lebih baik untuk prognosis urosepsis dibandingkan dengan CRP.

Sebagai ringkasan, baik CRP dan kolesterol total dapat digunakan sebagai penanda prognostik untuk urosepsis pada hari pertama, ketiga, dan terakhir. Kolesterol total yang rendah berarti prognosis pasien buruk, sedangkan kolesterol total yang lebih tinggi berarti prognosis yang lebih baik. Di sisi lain, kadar CRP yang lebih tinggi menunjukkan prognosis yang lebih buruk, sedangkan kadar CRP yang lebih rendah menunjukkan prognosis yang lebih baik. Diantara keduanya, kadar kolesterol total adalah penanda prognostik yang lebih baik karena menunjukkan korelasi yang lebih besar terhadap hasil dan prognosis urosepsis dibandingkan dengan CRP.

Penulis: Prof Dr Soetojo, dr, SpU(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://www.indianjournals.com/ijor.aspx?target=ijor:ijphrd&volume=10&issue=4&article=223 Septa Surya Wahyudi, Budiono, Tarmono, Soetojo, Doddy M. Soebadi, Sunaryo, Hardjowijoto. Total Cholesterol and C-reactive Protein (CRP) Levels as Prognostic Markers for Urosepsis. Indian Journal of Public Health Research & Development. 2019;10(4):1217-1222.

DOI : 10.5958/0976-5506.2019.00877.5

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu