UNAIR Kukuhkan Tiga Srikandi Jadi Guru Besar

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
DARI KIRI: Prof. Dr. Rr. Asti Meizarini, drg., M.S., Prof. Dr. Edy Setiti Wida Utami, Dra., M.S, dan Prof. Dr. Sri Sumarmi, S.KM., M.Si., di sela pengukuhan guru besar pada Sabtu (14/12/2019). (Foto: M. Alif Fauzan)

UNAIR NEWS – Rektor Universitas Airlangga Prof Moh Nasih kembali mengukuhkan guru besar baru. Kali ini, pengukuhan dilakukan kepada tiga guru besar yang semuanya adalah perempuan.

Tiga guru besar itu adalah Prof. Dr. Sri Sumarmi, S.KM., M.Si., Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), guru besar aktif FKM ke-13 ; Prof. Dr. Edy Setiti Wida Utami, Dra., M.S, Guru Besar Fakultas Sains dan Teknologi (FST), guru besar aktif FST ke-12 ; dan Prof. Dr. Rr. Asti Meizarini, drg., M.S. Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), guru besar aktif FKG ke-22.

Pengukuhan guru besar berlangsung di Aula Garuda Mukti Kantor Manajemen Kampus C, Sabtu (14/12/2019). Pengukuhan guru besar berlangsung khidmat, diikuti oleh puluhan guru besar UNAIR, sivitas akademika, para tamu undangan, dan kerabat para guru besar yang dikukuhkan.

Prof Nasih mengatakan bahwa kontribusi guru besar adalah melalui pengembangan ilmu pengetahuan. Ia mengimbau kepada tiga guru besar untuk mengemban tugas sebaik-baiknya, mendedikasikan diri untuk pengembangan ilmu dan pengetahuan.

“Pengembangan IPTEK di Indonesia berada di pundak para profesor dan doktor. Kalau bukan doktor dan profesor untuk melakukan inovasi inovasi, siapa lagi,” ucapnya.

Tak hanya itu, rektor juga mengajak masyarakat untuk berdaya dan mendorong penciptaan teknologi yang bersumber daru pikiran para guru besar.

Cegah Stunting Sejak Calon Pengantin

Dalam pidatonya, Prof. Dr. Sri Sumarmi, S.KM., M.Si., memaparkan tentang pencegahan stunting sejak menjadi calon pengantin (Catin). Menurutnya, catin wanita adalah sasaran yang paling tepat untuk intervensi gizi prakonsepsi karena mereka adalah calon ibu hamil.

“Keberadaan gizi prakonsepsi sangat penting sebagai upaya preventif dalam mengatasi masalah kesehatan ibu dan anak, termasuk untuk pencegahan stunting,” jelasnya.

Prof. Mamik menjelaskan, kehamilan adalah kondisi yang tidak biasa yang terjadi pada wanita. Untuk itu, perlu diberikan perhatian khusus pada ibu hamil sehingga anak yang akan dilahirkan menjadi sehat. Terutama pada status gizinya.

Bayi yang lahir sehat adalah modal awal untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul, bebas stunting. Generasi yang tinggi. Sementara bayi stunting adalah kantong masalah kesehatan, terutama masalah kesehatan terkait gizi.

Bayi yang dilahirkan oleh ibu pendek dan status gizinya buruk berisiko melahirkan anak stunting. Selain itu, anak juga berisiko mengalami penyakit degeneratif dimasa depan. “Pemenuhan gizi pada saat sebelum hamil sangat penting. Masa prakonsepsi sangat penting untuk mencegah masalah stunting dan atau masalah gizi lainnya,” papar Prof. Mamik.

Biji Sintetik dan Kriopreservasi 

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Dr. Edy Setiti Wida Utami, Dra., M.S, menyampaikan gagasan dan temuannya terkait peranan embryo somatic untuk mikropropagasi dan pelestarian plasma nutfah tumbuhan.

Prof. Setiti menyebutkan, berbagai pendekatan telah diupayakan guna melestarikan keanekaragaman secara berkelanjutan. Salah satunya yakni melalui pelestarian tumbuhan secara in vitro.

Pelestarian tumbuhan secara in vitro memiliki beberapa kelebihan dibanding metode lain, yaitu lebih menghemat tempat, tenaga, biaya serta membuat pertukaran plasma nutfah lebih mudah dilakukan. Pelestarian in vitro, cocok digunakan untuk tumbuhan yang memiliki tipe biji rekalsitran. Yaitu biji dengan kadar air tinggi sehingga tidak dapat disimpan pada temperatur dan kelembapan rendah.  

Pada kajian ilmiahnya, Prof. Setiti menggunakan teknologi biji sintetik dan kriopreservasi sebagai teknik penyimpanan tanaman dalam jangka menengah dan jangka panjang. Dari segi ekonomi, teknik benih sintetik dapat digunakan untuk propagasi secara massal, terutama untuk genotipe unggul sebagai bibit untuk perkebunan monokultur.

Beberapa kelebihan benih sintetik antara lain, keseragaman genetik, produksi massal dengan biaya yang rendah, tanaman bebas patogen, dapat langsung ditanam dan sebagai media penyimpanan plasma nutfah.

Ke depan, Prof. Setiti berharap riset mikropropagasi melalui kultur in vitro dapat dikembangkan lebih lanjut pada tanaman berguna, yakni tanaman sumber obat, tanaman sumber energi, tanaman pangan, dan tanaman hortikultura. Sehingga keanekaragaman plasma nutfah di Indonesia dapat terus lestari dari generasi ke generasi.

Perkembangan Material Kedokteran Gigi Era Artificial Intelligence

Dalam pidatonya, Prof. Dr. Rr. Asti Meizarini, drg., M.S., menguraikan mengenai pengembangan material restorasi jenis porselen. Mahkota porselen awal disusun menggunakan feldspar sebagai material utama. Kemudian pada tahun 1903 dibuat dengan feldspathic oleh Land.

Guru besar Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UNAIR ke-22 itu melanjutkan, pengembangan terus dilakukan hingga pada tahun 1965 ditemukan pembuatan mahkota jaket porselen (all ceramic) pertama yang dilakukan McLean dan Hughes. Material ini diperkuat dengan 40-50% alumunium oksida yang dilapisi porselen feldspathic untuk memperbaiki estetika.

Sejumlah metode untuk pembuatan material restorasi gigi terus dikembangkan, bahkan merambah pada komputasi dan mesin. Di antaranya, computer-aided design/computer-aided manufacturing (CAD/CAM) bersama Sistem Cerec yang dikembangkan Dr. Moermann tahun 1982, Sistem In-Ceram (1989) sampai dengan restorasi Procera (1993).

Untuk menunjang kemampuan mesin dalam proses pengerjaan pembuatan material restorasi gigi juga dilakukan penambahan material lain yang bermikrostruktur halus meliputi aluminate-leucite, leucite glass ceramics, lithium disicilate glass ceramics, glass infiltrated oxide ceramics, glass infiltrated spinell, dan glass-infiltrated zirconia alumnina.

“Pembuatan material restorasi gigi semakin mudah karena adanya artificial intelligence (AI), sehingga sistem konvensional tak lagi dibutuhkan. Pasien juga diuntungkan karena tidak perlu lagi dilakukan proses pencetakan rongga mulut. Diharapkan, perkembangan AI dapat diimbangi dengan hasil penelitian material ceramic baru,” pungkas ujar Asti. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu