Teliti Perkembangan Restorasi Gigi Sejak Era Sebelum Masehi, Prof. Asti Raih Predikat Guru Besar UNAIR

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr. Rr. Asti Meizarini, drg., M.S., saat menyampaikan orasi dalam pengukuhan guru besar yang digelar pada Sabtu (14/12/2019). (Foto: M Alif Fauzan)

UNAIR NEWS – Tujuan utama dalam bidang kedokteran gigi adalah membantu merawat serta memperbaiki kualitas hidup pasien. Hal tersebut dapat dilakukan melalui tindakan pencegahan, penyembuhan rasa sakit, hingga restorasi gigi. Oleh sebab itu, diperlukan material yang sesuai untuk tujuan tertentu dan selalu berkembang menyesuaikan waktu.

Sebagai contoh, penggunaan material dalam proses restorasi gigi yang diperkirakan telah dimulai sejak sekitar 3000 BC. Arkeolog menemukan bukti bahwa pada zaman dahulu sudah terdapat layanan kesehatan kuno yang dapat mendiagnosa gigi buruk, mencabut, serta menggantikan gigi yang telah dicabut melalui material kawat sampai lempeng emas.

Dalam orasinya di acara pengukuhan guru besar Universitas Airlangga (UNAIR) pada Sabtu (14/12), Prof. Dr. Rr. Asti Meizarini, drg., M.S., menguraikan mengenai pengembangan material restorasi jenis porselen. Mahkota porselen awal disusun menggunakan feldspar sebagai material utama. Kemudian pada tahun 1903 dibuat dengan feldspathic oleh Land.

“Hasilnya memiliki estetika yang baik, tetapi dari segi kekuatan fleksuran masih rendah sehingga resiko kegagalan klinis lebih tinggi. Agar mahkota porselen semakin kuat, maka digunakan rangka logam. Selanjutnya, pada tahun 1962 terjadi penambahan leucite guna memperbaiki koefisien termal ekspansi antara rangka logam dengan porselen,” tuturnya.

Guru besar Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UNAIR ke-22 itu melanjutkan, pengembangan terus dilakukan hingga pada tahun 1965 ditemukan pembuatan mahkota jaket porselen (all ceramic) pertama yang dilakukan McLean dan Hughes. Material ini diperkuat dengan 40-50% alumunium oksida yang dilapisi porselen feldspathic untuk memperbaiki estetika.

“Saat ini, pembuatan all ceramic restorations dilakukan melalui cara casting, heatpressed, ataupun machined karena dapat lebih dikontrol. Hal ini diawali oleh Grossman dan diperkenalkan kepada komunitas dokter gigi tahun 1984. Material ini disebut dicor. Sayangnya, dicor masih memiliki kelemahan dari segi kekuatan fleksural,” jelas Prof. Asti.

Sejumlah metode untuk pembuatan material restorasi gigi terus dikembangkan, bahkan merambah pada komputasi dan mesin. Di antaranya, computer-aided design/computer-aided manufacturing (CAD/CAM) bersama Sistem Cerec yang dikembangkan Dr. Moermann tahun 1982, Sistem In-Ceram (1989) sampai dengan restorasi Procera (1993).

Untuk menunjang kemampuan mesin dalam proses pengerjaan pembuatan material restorasi gigi juga dilakukan penambahan material lain yang bermikrostruktur halus meliputi aluminate-leucite, leucite glass ceramics, lithium disicilate glass ceramics, glass infiltrated oxide ceramics, glass infiltrated spinell, dan glass-infiltrated zirconia alumnina.

“Pembuatan material restorasi gigi semakin mudah karena adanya artificial intelligence (AI), sehingga sistem konvensional tak lagi dibutuhkan. Pasien juga diuntungkan karena tidak perlu lagi dilakukan proses pencetakan rongga mulut. Diharapkan, perkembangan AI dapat diimbangi dengan hasil penelitian material ceramic baru,” pungkas Prof. Asti. (*)

Penulis : Nabila Amelia

Editor    : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).