Pengenalan Periksa Mulut Sendiri “Samuri” Pada Komunitas Waria

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Tim pengabdian masyarakat dari Departemen Ilmu Penyakit Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga.

Departemen Ilmu Penyakit Mulut (IPM) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga kembali menggelar kegiatan pengabdian masyarakat (pengmas). Kali ini, kegiatan pengmas diadakan bekerjasama dengan Puskesmas Ngagel Rejo dan komunitas binaan yaitu Persatuan Waria Kota Surabaya (PERWAKOS) Cabang Wonokromo. PERWAKOS Cabang Wonokromo merupakan komunitas yang memiliki anggota sekitar 30 orang dan berada di wilayah kerja Puskesmas Ngagel Rejo.

Kegiatan pengmas ini dilatarbelakangi oleh adanya hubungan antara tingginya prevalensi infeksi pada HIV/AIDS pada komunitas dengan resiko tinggi yaitu waria. Salah satu kelompok yang berisiko tinggi terinfeksi HIV/AIDS adalah golongan waria. Kaum waria yang bergabung dalam suatu komunitas dimana 80% dari mereka adalah pekerja seks komersial (PSK). Keadaan ini menyebabkan komunitas tersebut sebagai kelompok berisiko tinggi terhadap penularan HIV/AIDS. Hal ini disebabkan kehidupan seks kaum waria memiliki dampak penyebaran HIV/AIDS cukup tinggi dengan relasi seks yang berisiko secara anogenital dan orogenital dan sering berganti pasangan.

Ketua kegiatan pengmas, Nurina Febriyanti Ayuningtyas, drg., M.Kes., Ph.D., Sp.PM menyampaikan alasan pemilihan komunitas binaan yaitu Persatuan Waria Kota Surabaya (PERWAKOS) Cabang Wonokromo karena “terpuruknya perekonomian dan sedikitnya lapangan pekerjaan, maka terjadi juga peningkatan jumlah PSK. Peningkatan jumlah PSK menyebabkan terjadinya persaingan mencari pelanggan antar mereka saingga banyak PSK yang beroperasi diluar lokalisasi serta lolos dari pantauan DEPKES. Dengan demikian dikawatirkan akan terjadi fenomena gunung es bagi penyebaran HIV.

Bidang Kedokteran Gigi dapat berperan dalam berbagai tingkatan yang berkaitan dengan masalah AIDS, baik melalui diagnosis dini maupun perawatan penyakit gigi dan mulut HIV/ AIDS dan penanggulangan bahaya tertular serta pemutusan rantai penularan kepada pasien lain. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas perlu dilakukan sosialisasi, deteksi penyakit gigi dan mulut terkait HIV/AIDS, pencegahan/perawatannya dikalangan PSK.”

Stigmatisasi waria sebagai pembawa HIV/AIDS menjadi problematika masyarakat. Hal tersebut memicu keikutsertaan peran komunitas waria untuk mengembangkan hidup anggotanya dan menghindari labelling pada diri mereka. Tingkat pengetahuan masyarakat komunitas waria tentang pola penyebaran infeksi virus HIV yang berpengaruh terhadap usaha pencegahan dengan tujuan untuk memutuskan rantai penularan infeksi dalam pencegahan dan pola penyebaran dan penularan penyakit HIV/AIDS sangat minim, kurangnya tenaga kesehatan/paramedis dan peran masyarakat yang peduli kesehatan juga menyebabkan tidak tercovernya penularan infeksi ini.

Tujuan dari kegiatan pengmas ini adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang cara pencegahan HIV /AIDS dengan memberikan penyuluhan atau sosialisasi mengenai penyakit HIV/AIDS, juga memberikan pengetahuan, dan penguasaan ipteks bagaimana dampak penyakit HIV/AIDS tersebut pada rongga mulut untuk memberi edukasi teknik “SAMURI” (periksa mulut sendiri) sehingga komunitas waria dapat melakukan pemeriksaan kesehatan rongga mulut secara mandiri dalam usaha pencegahan dan deteksi dini HIV/AIDS yang salah satunya dilakukan dengan tujuan untuk memutuskan mata rantai penularan infeksi HIV/AIDS.

“Ada 28 waria yang sudah dikumpulkan data pemeriksaanya hari ini, mereka juga dibekali dengan brosur dan kipas edukasi mengenai teknik “SAMURI” untuk dibawa pulang agar bisa lebih mudah untuk melakukan pemeriksaan mulut secara mandiri dirumah,” tambah Nurina.

Selain dilakukan screening dan pemeriksaan rongga mulut juga diadakan mobile klinik VCT oleh Puskesmas Ngagel Rejo untuk memeriksa HIV secara berkala setiap 3 bulan. Waria yang mengikuti kegiatan screening ini juga dibekali dengan brosur berisi tentang edukasi tentang HIV/AIDS. Peserta juga diberikan sebuah kipas edukasi teknik “SAMURI” dan cara menyikat gigi yang benar.

“Kegiatannya menarik, saya jadi lebih paham tanda-tanda infeksi HIV/AIDS dalam rongga mulut dan cara mencegahnya karena mengingat pekerjaan saya setiap hari berhubungan dengan relasi seks yang berisiko dan sering berganti pasangan,” ungkap salah satu waria yang mengikuti kegiatan ini.

“Kalau tahu lebih dini ‘kan jadi lebih cepat juga penanganannya,” tambahnya.

Diharapkan dengan diadakannya kegiatan pengmas ini akan dapat memudahkan masyarakat luas khususnya komunitas binaan yaitu Persatuan Waria Kota Surabaya (PERWAKOS) Cabang Wonokromo memperoleh informasi tentang deteksi dini infeksi virus HIV/AIDS dirongga mulut beserta perawatannya.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu