Pemeriksaan Molekuler Atasi Wabah Hepatitis A

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Sains Kompas

Hepatitis A adalah infeksi hati yang sering kali bersifat akut disebabkan oleh virus hepatitis A. Virus hepatitis A ditularkan melalui feses atau makanan yang terkontaminasi virus ini oleh penderita. Penyakit ini erat hubungannya dengan tingkat kebersihan dan sanitasi dan bisa menyerang pada semua kelompok umur. Manifestasi klinis hepatitis A sering kali tidak muncul pada kelompok usia kurang dari 5 tahun. Namun gejala meningkat dengan meningkatnya usia terinfeksi virus ini. Gejala yang sering muncul pada penderita hepatitis A yaitu anorexia, mual, muntah, demam ringan, jaundice dan hepatomegali. Komplikasi penyakit ini adalah terjadinya hepatitis fulminan namun jarang sekali terjadi. Masa inkubasi virus ini yakni 2-7 minggu (rata-rata 4 minggu).

Indonesia yang memiliki tingkat kebersihan dan sanitasi yang beragam menyebabkan terjadinya wabah hepatitis A. Bahkan hampir tiap tahun terjadi, meskipun penyakit ini merupakan penyakit akut namun harus tetap waspada. Pada tahun 2018, pada bulan Januari di salah satu sekolah Sekolah Menengah Atas (SMA) di Lamongan dan pada bulan Maret di salah satu Pondok Pesantren di Bangkalan terjadi wabah hepatitis A. Wabah ini menyerang murid, santri serta staf dikedua tempat tersebut. Pemeriksaan dilakukan setelah banyak yang muncul tanda dan gejala seperti hepatitis. Pemeriksaan serologis IgM hepatitis A merupakan pemeriksaan yang sering dilakukan apabila terjadi wabah. Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Surabaya bekerjasama dengan Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga melakukan penelusuran ke tempat terjadinya wabah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 50% dari individu yang memiliki tanda dan gejala memiliki hepatitis IgM anti HAV (+).

Pemeriksaan lain yang dilakukan untuk memastikan adanya virus ini adalah dengan pemeriksaan molekuler menggunakan metode Polymerase chain reaction (PCR). Pemeriksaan molekuler berguna untuk mengetahui sumber penularan virus ini. Hasil pemeriksaan ini didapatkan bahwa virus dikedua tempat ini termasuk dalam subtype yang sama yakni IA namun memiliki strains yang berbeda. Hal ini ditunjukkan dengan perbedaan asam amino. Perbedaan strains yang terjadi pada kedua tempat ini mengartikan bahwa sumber terjadinya wabah hepatitis A juga berbeda.

Pada penelitian ini juga dilakukan penelitian terkait hubungan pengetahuan dengan tingkat kejadian wabah hepatitis A. Hasil ini menunjukkan bahwa pengetahuan tidak berhubungan di Bangkalan namun memiliki hubungan di Lamongan. Perbedaan karakteristik tempat terjadinya wabah mempengaruhi proses penularan wabah ini. Di sekolah siswa tidak 24 jam tinggal, sehingga juga bisa memilih dan menggunakan fasilitas kebersihan di rumah. Keadaan ini berbeda dengan keadaan yang ada di pondok yang ada asrama dimana siswanya 24 jam berada dalam lingkungan yang sama. Siswa tidak bisa memilih fasilitas kebersihan sehingga mau tidak mau menggunakan fasilitas yang sudah ada di lingkungan tersebut. Hal ini lah yang menjadi salah satu penyebab perbedaan penularan wabah hepatitis A. Sehingga berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan tidak berhubungan dengan kejadian wabah hepatitis A karena banyak faktor yang mempengaruhi kejadian ini.

Pengobatan hepatitis A ini bersifat suportif. Hal ini berarti bahwa tidak ada obat khusus untuk hepatitis A karena sering kali akan sembuh sendiri. Pengobatan hanya dilakukan untuk mengobati gejala yang mengiringi perjalanan penyakit ini. Karena wabah ini sering terjadi penting sekali melakukan pencegahan untuk menanggulangi wabah ini. Pencegahan yang bisa dilakukan yakni dengan meningkatkan kebersihan diri dan lingkungan. Selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sehingga memutus rantai penularan virus ini. Saluran pembuangan kotoran diusahakan jauh dari sumber air minum sehingga tidak terjadi penularan. Pencegahan lain yaitu dengan cara vaksinanasi, namun vaksinasi ini tidak masuk menjadi vaksin program wajib pemerintah.

Vaksin dilakukan di tempat kesehatan atas kesadaran sendiri untuk mencegah penularan virus ini. Sehingga dapat disimpulkan bahwa wabah yang sering kali terjadi di Indonesia khususnya yang terjadi di Lamongan dan Bangkalan berasal dari sumber yang berbeda dan tingkat pengetahuan tidak mempengaruhi kejadian wabah ini. Banyak faktor yang mempengaruhi kejadian wabah ini, namun wabah ini sangat erat hubungannya dengan tingkat kebersihan dan sanitasi. Mari memulai dari diri kita sendiri untuk mencegah hepatitis A dengan cara meningkan kesadaran diri akan pentingnya kebersihan.

Penulis : Maria Inge Lusida

https://www.spandidos-publications.com/10.3892/br.2019.1261

Dewi Setyowat, Teguh Mubawadi, Yudied Agung Mirasa, Didik Purwanto, Mochamad Amin, Takako Utsumi, Soetjipto Soetjipto, Juniastuti Juniastuti dan Maria Inge Lusida. 2019. Molecular epidemiology of hepatitis A outbreaks in two districts in Indonesia in 2018: Same subtype, but different strains. Biomedical Reports.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu