Dekan FIB UNAIR Teliti Pengolahan Sampah Plastik di Surabaya dalam Kacamata Gender

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Artikel Ilmiah oleh Feri Fenoria

UNAIR NEWS – Krisis lingkungan global saat ini merupakan satu-satunya masalah terpenting yang dihadapi dunia kita. Sebagai kota bisnis dan industri yang menyerap banyak orang, Surabaya juga menciptakan masalah terkait limbah dan polusi.

Permasalahan tersebut diteliti oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga, Diah Ariani Arimbi, S. S., M,A., Ph.D. Diah meneliti bagaimana pengolahan sampah plastik dari sisi gender.

Pengolahan sampah plastik dari sisi gender membuktikan bahwa perempuan lebih banyak memanfaatkan kembali penggunaannya daripada pria. Pria lebih condong menggunakan plastik sekali pakai dan jarang menggunakannya kembali.

“Koresponden yang saya ambil di beberapa mall Surabaya banyak wanita terutama istri lebih primpen dalam menggunakan plastik,” ungkapnya.

Diah juga menambahkan bahwa hasil penelitiannya menunjukkan bahwa 25 dari 30 orang  mengatakan cukup mengerti tentang pengolahan sampah plastik. Serta lima orang lainnya tidak mengerti tentang hal itu. 

Selain itu, ia mengungkapkan jumlah plastik yang digunakan telah meningkat secara drastis ditambah dengan peningkatan intensitas belanja. Tidak mungkin untuk menahan kebiasaan atau belanja warga. Iklan yang mengundang mereka untuk saling membantu dengan mengonsumsi beberapa produk.

Kebiasaan tersebut juga sulit untuk mengontrol aktivitas belanja mereka karena kemakmuran terutama kekayaan finansial. Masyarakat mengatakan tidak mungkin untuk mengendalikan hasil mereka karena semakin banyak gaji yang mereka dapatkan, semakin banyak uang yang mereka habiskan. Hal tersebut membuktikan semakin banyak plastik yang mereka konsumsi semakin banyak bahan bakar yang mereka gunakan untuk mencapai mall dan semakin banyak energi yang digunakan. 

Kendati demikian, satu sisi pemerintah Surabaya sudah intensif mengundang warganya untuk menjaga kebersihan lingkungan dan meminimalkan limbah padat. Tetapi para pelaku bisnis seperti toko justru memberikan kantong plastik untuk menampung pembelian belanja mereka.

Pada umumnya, pemerintah tidak dapat mengendalikan secara maksimal bahwa pihaknya selalu mendapat dampak buruk itu. Jelas bahwa politik selalu menciptakan risiko bagi warga negara. 

Pemerintah sebagai agen budaya lokal lupa membawa warganya untuk menjunjung tinggi kearifan lokal. Dalam proses ini, budaya lokal tidak berfungsi karena gelombang globalisasi.

Penulis: Aditya Novrian

Editor: Khefti Al Mawalia

https://www.oapen.org/download?type=document&docid=1002492#page=71

D.A. Arimbi, N. Wulan & F. Colombijn, Eniviromentalism and Consumerism: The Contradistion of Globalitation in Behavior Consumption of The Urban Middle Class in Surabaya, Urban Studies: Border and Mobility, Taylor and Francois Group, ISBN: 978-1-139-58034-3. Hlm. 223.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu