Pengaruh Faktor Organisasi terhadap Penurunan Risiko Penularan Penyakit pada Perawat Lewat Pendekatan AIDS RISK Reduction Model

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi perawat rumah sakit. (Sumber: hellosehat)

Perawat adalah petugas kesehatan yang memilki peran penting terhadap palayanan kesehatan. Perawat akan sangat rentan terpapar berbagai penyakit di tempat kerja jika tidak menerapkan  patient care standart. Hal ini didukung bukti bahwa ada 17 persen perawat yang tidak menggunakan sarung tangan, 19 persen tidak membuang bahan terkontaminasi sampah medis dengan benar, tertusuk jarum, dan berbagai masalah lainnya yang disebabkan oleh penerapan universal precaution  yang kurang baik.

Beberapa faktor yang diduga mempengaruhi perilaku perawat untuk dapat bekerja sesuai SOP dan Universal Precaution antara lain, faktor individu, faktor lingkungan kerja, dan faktor organisasi. AIDS RISK Reduction Model (ARRM) merupakan  salah satu  suatu pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi kejadian ketidak patuhan terhadap Universal Precaution. Model ini telah banyak diterapkan dan cukup efektif meskipun memiliki berbagai kekurangan. Dengan penerapan ini diharapakn tidak hanya untuk mencegah penularan HIV/AIDS namun juga  untuk mengurangi transmisi penyakit pada perawat.

ARMM adalah kombinasi dari  Health Belief Model (HBM) dan Social Cognitive Theory (SCT) dan diapat digunakan untuk  mendeskripsikan bagaimana proses individu yang mempengaruhi perilaku pasien. ARMM dikembangkan berdasarkan  model Problem Solving secara Psycological. ARRM terdiri dari tiga tahapan yaitu  Labelling, Commitment dan Enactment. Menurut Pecquet Faktor Organisasi yang dapat mempengaruhi perilaku perawat, antara lain komitmen manajemen, komunikasi manajemen, peraturan dan prosedur, lingkungan kerja, supervisi, kesempatan dan apresiasi terhadap risiko. Faktor tersebut juga dapat dikategorikan menjadi Safety Climate.

Menurut CDC, safety climate adalah persepsi perawat terkait safety di lingkungan pekerjaan rumah sakit yang terdiri dari dukungan dari top manajemen, hambatan untuk melakukan  safe work practice, perarturan di tempat kerja, meminimalisir konflik antar pekerja, umpan balik yang diberikan supervisor, ketersediaan alat pelindung diri dan kontrol teknik di lingkungan kerja.

Penelitian ini dilakukan pada dua rumah sakit tipe B di Provinsi  Sulawesi Selatan yang memliki strandar klinis dan kebijakan yang relatif sama, sehingga dapat meminimalisir perbedaan fasilitas dan kapabilitas, terutama pada pelayanan yang diberikan oleh perawat. Besar sampel dihitung berdasarkan jumlah perawat yang ada, kemudian ditambah 20 persen untuk mengantisipasi drop out dan respon yang invalid. Sampel kemudian dipilih secara random.

Data  hasil penelitian menunjukkan bahwa 37,8 persen perawat memliki pendidikan profesi NERS dan 62,2 persen pendidikan S1 perawat, 81,5 persen adalah perawat perempuan, 18,5 persen perawat laki-laki. Sebagian besar dari mereka berusia 26-35 tahun, 49,6 persen dan berusia 26-45 tahun 39,5 persen. Faktor organisasi berpegaruh terhadap  komitmen perawat untuk  mengurangi risiko penularan penyakit.

Faktor Organisasi secara umum tidak berpengaruh terhadap Labeling. Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian Catania et al. yang menyatahan bahwa Lebeling lebih disebabkan oleh  faktor individu dan bukan oleh faktor organisasi. Faktor organisasi mempengaruhi komitmen perawat untuk dapat melakukan tindakan pencegahan dan pengurangan risiko penularan penyakit. Faktor organisasi dapat meningkatkan motivasi, kepatuhan, dan rasa cinta akan pekerjaan oleh perawat di tempat kerja. Hal ini akan membuat rasa nyaman dan meningkatkan komitmen untuk mengurangi risiko  penularan penyakit.

Ketika persepsi perawat tentang faktor organisasi kurang, maka komitmen mereka untuk ikut serta dalam penurunan risiko penularan penyakit akan menjadi lebih kecil. Ada baiknya jika organisasi tidak hanya berorientasi pada  upaya pengurangan transmisi penyakit pada perawat saja, hal ini karena perawat akan merespon dengan baik dan akan mencari jalan terbaik untuk melindungi diri mereka sendiri dari penularan penyakit.

Peraturan dan prosedur dalam faktor organisasi juga berpengaruh terhadap upaya penurunan transmisi penyakit. Peraturan dan SOP ditempat kerja perlu untuk ditaati agar terhindar dari berbagai masalah kesehatan yang dapat ditimbulkan oleh adanya kelalaian yang dilakukan oleh perawat. Mark et All menyatakan bahwa kejadian infeksi tambahan di RS cukup tinggi baik bagi pasien atau perawat itu sendiri.

Pendekatan perlu dilakukan pada  perawat untuk dapat fokus mengubah kebiasaan yang tidak baik dan selalui melakukan  tugas sesuai SOP yang berlaku. Sikap kerja yang positif dan didikung oleh peraturan yang baik  dapat mengurangi kejadian kecelakaan (baik tertusuk jarum ataupun laiinya) pada perawat. (*)

Penulis : Tri Martiana, Suarnianti, Firman Suryadi Rahman

Informasi lengkap dapat dilihat di :

http://www.jgid.org/article.asp?issn=0974-777X;year=2019;volume=11;issue=3;spage=93;epage=101;aulast=Suarnianti%2C c

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu