Inilah Efek Kombinasi Spirulina-Chitosan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh liputan6 com

Diabetes mellitus (DM) merupakan sindroma yang ditandai dengan kenaikan kadar gula darah (hiperglikemia). Federasi Diabetes Internasional pada tahun 2012 menyatakan bahwa jumlah individu pengidap DM sebanyak 371 juta orang. Pada kondisi hiperglikemik proses penyembuhan membutuhkan waktu yang lebih panjang akibat penumpukan advance glication end-products (AGE) yang meningkatkan sitokin pro-inflamasi yang akan mengakibatkan proses inflamasi menjadi lebih panjang. Hal tersebut dapat mengganggu proses pembentukan tulang, menghambat proses penyembuhan, dan memicu resorpsi tulang.

Persiapan pembuatan gigi tiruan membutuhkan tulang yang prominen untuk memfasilitasi retensi dan stabilisasi gigi tiruan. Pencabutan gigi akan mengurangi dimensi dan volume tulang, padahal perawatan prostodontik memerlukan tulang yang prominen. Pada pasien dengan DM, pencabutan gigi akan memicu respon biologis yang menyebabkan perubahan anatomis irreversibel.

Angiogenesis merupakan pembentukan pembuluh darah baru dan merupakan penanda penyembuhan luka. Kelainan angiogenesis pada pasien DM dapat diatasi salah satunya dengan cara preservasi soket dengan bahan yang dapat menekan inflamasi, resorpsi dan mempercepat penyembuhan. Pada masa kini banyak bahan alam yang dapat digunakan sebagai pilihan alternatif  terapi. Dua bahan yang dikenal mempunyai sifat potensial untuk menekan inflamasi dan juga mempercepat penyembuhan luka adalah spirulina dan kitosan. Kitosan merupakan polisakarida natural yang berasal dari kitin yang melalui proses deasetilasi sehingga didapatkan sifat osteokonduktif yang kuat dan dapat meningkatkan regenerasi tulang. Kitosan dan spirulina mengandung kaempferol yang bersifat antioksidan serta merupakan penghambat sitokin pro-inflamasi.

Kombinasi spirulina dan kitosan dapat mempercepat proses penyembuhan tulang karena kombinasi bahan tersebut memproduksi pH alkali yang sesuai dengan aktivitas alkaline phosphatase. Kombinasi 12% spirulina dan 20% kitosan pada soket pencabutan tikus wistar (Rattus novergicus)dapat memicu proses remodelling tulang yang ditandai dengan peningkatan jumlah sel osteoblas dan penurunan jumlah sel osteoklas.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris dengan kelompok kontrol post test only  dengan keseluruhan jumlah sampel 36 ekor tikus wistar yang dibagi menjadi tiga kelompok (Non DM, DM tidak terkontrol, DM terkontrol) dan kemudian dibagi lagi menjadi enam sub kelompok. Kelompok kontrol (K1, K2, dan K3) diinduksi dengan 3% carboxymethyl cellulose Na, kelompok perlakuan diinduksi dengan 12% spirulina dan 20% kitosan. Pada hari ke-14 mandibula hewan coba diambil. Lumen kapiler, sel osteoblas, dan sel osteoklas dihitung menggunakan pemeriksaan hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) dan hasilnya dianalisis menggunakan Shapiro-Wilk, Levene’s, one way ANOVA, dan post hoc Tukey untuk mengetahui signifikansinya.

Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa terdapat peningkatan signifikan pada jumlah lumen kapiler, sel osteoblas, dan penurunan jumlah sel osteoklas pada seluruh kelompok perlakuan. Kombinasi 12% spirulina dan 20% kitosan menurunkan kadar ROS dan NFκB sehingga mampu meningkatkan degradasi matriks ekstraseluler dan mempercepat angiogenesis serta menghambat aktivasi capcase-3 yang menstimulasi apoptosis sel. Selain itu kombinasi 12% spirulina dan 20% kitosan mampu menghambat akumulasi ROS yang juga menghambat ekspresi sitokin pro inflamasi sehingga resorpsi tulang juga berkurang. Sifat osteokonduktivitas dan osteointegritas dari kitosan dapat menstimulasi pertumbuhan tulang dan menyeimbangkan jumlah osteoklas dan osteoblas sehingga proses penyembuhan luka dan perbaikan jaringan tulang dapat terjadi.

Maka dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kombinasi 12% spirulina dan 20% kitosan secara efektif dapat mempercepat proses penyembuhan soket post ekstraksi pada tikus wistar model DM tipe 1.

Penulis: Dr. Nike Hendrijantini, drg., M.Kes., Sp.Pros(K)

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat di: www.contempclindent.org/article.asp?issn=0976-237X;year=2018;volume=9;issue4;spage=582;epage=586;aulast=Hendrijantini

Hendrijantini N, Rostiny R, Kuntjoro M, Sidharta K, Wiyono DS, Anindyanari A, et al. The effect of combination spirulina–chitosan on angiogenesis, osteoclast, and osteoblast cells in

socket models of hyperglycemic Rattus norvegicus. Contemp Clin Dent 2018;9:582-6.

DOI: 10.4103/ccd.ccd_617_18

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu