Guru Besar UNAIR Manfaatkan Mikroalga untuk Pengembangan Biodiesel Terbarukan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Produk Biodiesel dari mikroalga Chlorella vulgaris. (Foto: Asthesia Dhea)

UNAIR NEWS – Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam terutama minyak bumi. Minyak bumi dimanfaatkan untuk bahan bakar baik di bidang industri maupun transportasi. Hanya saja, kekayaan minyak bumi di Indonesia mulai menurun dari tahun ke tahun.

Pemerintah berencana mengalokasikan subsidi energi bahan bakar fosil dengan menguranginya dan menggunakan energy renewable resource dengan fokus pengembangan biodesel. Dengan adanya permasalahan itu, Prof. Dr. Purkan, S.Si., M.Si., Guru Besar Kimia Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (UNAIR) melakukan penelitian dengan memanfaatkan mikroalga untuk pengembangan biodesel terbarukan.

Pemilihan mikroalga sebagai bahan untuk biodesel bukan tanpa sebab. Pasalnya, mikroalga merupakan mikroorganisme fotosintetik yang dapat berkembang dengan cepat diperairan. Tidak hanya itu, mikroalga mengandung lipid dan hanya membutuhkan karbon dioksida (CO2) serta air (H2O) untuk berkembang.

“Indonesia terkenal sebagai negara perairan, sehingga memungkinkan dimanfaatkan untuk media pembiakan mikroalga. Saat ini mikroalga juga belum banyak dimanfaatkan dengan baik,” terang Prof Purkan.

“Padahal, mikroalga dapat dikultur dengan mudah untuk mendapatkan biomassa sel sebagai sumber ekstrak lipid atau langsung digunakan untuk produksi biodesel,” tambahnya saat ditemui di Ruang Departemen Kimia FST UNAIR.

Jenis Mikroalga yang Digunakan

Dalam penelitian tersebut, terdapat dua jenis mikroalga strain Indonesia yang digunakan. Yakni, Nannochloropsis oculata dan chlorella vulgaris. Uniknya, keduanya memiliki komponen utama pertumbuhan yang sama tetapi berbeda pada jenis mikronutriennya (trace element).

Nannochloropsis oculata memerlukan komponen trace lement lebih banyak dibanding dengan chlorella vulgaris. Penumbuhan chlorella vulgaris relative lebih mudah penumbuhan dan komponen medianya,” ujarnya.

Cara Membuat Biodesel

Prof Purkan menuturkan, hanya dalam kurun waktu enam bulan penelitian tersebut sampai mendapatkan hasil. Dengan memiliki dua cara, yakni in-situ dan ex-situ. Untuk cara in-situ, lanjutnya, sel mikroalga yang telah dikeringkan terlebih dahulu diberi tambahan methanol dan katalis. Kemudian, diberi treatment  dan langsung membentuk biodesel.

Sedangkan untuk cara ex-situ, sel kering mikroalga diekstrak lipidnya terlebih dahulu untuk mendapatkan minyak. Selanjutnya, minyak tersebut diubah menjadi biodesel melalui penambahan methanol dan katalis. Kedua cara tersebut menggunakan methanol high pure untuk menghindari adanya campuran air yang dapat mempengaruhi hasil.

Katalis untuk pembentukan biodesel ada beberapa jenis. Antara lain asam, basa, dan nano partikel. Pemilihan jenis katalis disesuaikan dengan sifat dan jenis sampel mikroalga yang digunakan.

Dari penelitian tersebut dihasilkan bahwa sel mikroalga yang di-treatment dengan katalis nano partikel hasilnya lebih tinggi. Tidak hanya itu, dengan proses in-situ juga lebih tinggi bahkan lebih cepat. Bagi Prof Purkan, cara ex-situ kurang efisien dibandingkan dengan cara in-situ. Hal itu karena cara ex-situ tahapannya yang panjang dengan hasil yang sedikit.

Prof Purkan menjelaskan bahwa penelitian yang saat ini dikembangkan baru pada peningkatkan produk biodesel (rendemen), dan penentuan komponen serta jenis biodeselnya. Pengembangan untuk uji elektrositi hendak dikerjakan ke depan.

Prof. Dr. Purkan, S.Si., M.Si.,  Guru Besar Kimia UNAIR saat ditemui di Ruang Departemen Kimia FST UNAIR. (Foto: Asthesia Dhea) o

Yang menjadi fokusnya saat ini yaitu meningkatkan pengembangan katalisnya supaya biodesel yang dihasilkan lebih tinggi. Dan, yang paling penting adalah memanfaatkan biodiversitas alam yang belum termanfaatkan dan berpotensi.

Dengan begitu, Prof Purkan berharap, ke depan perlu dibuat suatu sentral-sentral yang dapat meningkatkan pemanfaatan biodesel bekerja sama dengan sentral-sentral lembaga riset atau langsung pusat-pusat produksi yang dinaungi oleh pemerintah, supaya dapat dieksplor biodesel itu dari mikroalga dan langsung bisa diterapkan. Sehingga kebutuhan dapat terpenuhi. (*)

Penulis: Asthesia Dhea Cantika

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu