Evaluasi Performa Analik Instrumen Otomatis Pemeriksaan Darah Lengkap dengan Six Sigma

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Banyak keputusan medis penting di layanan kesehatan memerlukan hasil laboratorium. Keputusan tersebut meliputi penentuan terhadap pasien untuk dirawat, dipulangkan dari perawatan atau observasi, bahkan penentuan tindakan terapi seperti kemoterapi, tranfusi darah, radioterapi bahkan operasi. Sebanyak 60-70% tindakan medis tersebut memerlukan hasil laboratorium. Perlu upaya untuk meminimalisir eror hasil laboratorium agar medical error dapat dicegah.

Ada 3 tahap dalam proses layanan laboratorium, meliputi tahap pra analitik, analitik, dan pasca analitik. Tahap pra analitik merupakan tahap yang dimulai persiapan pasien, pengambilan bahan pemeriksaan, serta transportasi menuju laboratorium. Proses penanganan bahan dan pemeriksaan analisis terhadap bahan merupakan tahap analitik yang berlangsung di laboratorium. Pelaporan hasil laboratorium dan interpretasinya oleh dokter yang merawat merupakan tahapan pasca analitik.

Eror dapat terjadi baik pada tahap pra analitik, analitik, maupun pasca analitik. Berbagai studi menunjukkan eror terbanyak terjadi pada tahap pra analitik. Namun demikian, minimnya eror yang terjadi pada tahap analitik merupakan suatu fenomena gunung es. Banyak eror pada tahap analitik yang tidak terdeteksi, terjadi karena kurang ketatnya evaluasi mutu pada tahap analitik.

Tingkat mutu tahap analitik laboratorium dievaluasi dengan penilaian mutu internal dan mutu eksternal. Penilaian mutu internal dilakukan dengan menghitung nilai coefficient of variant (CV) yang menunjukkan reliabilitas suatu parameter laboratorium. Variant index score merupakan evaluasi yang dilakukan dalam penilaian mutu eksternal yang utamanya menilai validitas hasil laboratorium. Penilaian mutu yang saat ini dianggap lebih baik, yaitu six sigma, dimana menggabungkan validitas dan reliabilitas hasil laboratorium dibandingkan batas toleransi variasi hasil laboratorium yang telah ditentukan.

Six sigma merupakan suatu indikator mutu yang dapat digunakan untuk mengevaluasi suatu proses. Sistem ini pertama kali ditemukan oleh Motorolla tahun 1980. Implementasi six sigma telah meluas ke berbagai industri termasuk industri penerbangan yang mengutamakan keselamatan. Saat ini, banyak laboratorium telah mengaplikasikan six sigma sebagai indikator mutu agar kualitas layanan meningkat.

Hematology analyzer merupakan instrumen otomatis yang digunakan untuk pemeriksaan darah lengkap. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan kadar hemoglobin, jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit serta jumlah jenis sel darah putih. Pemeriksaan ini merupakan salah satu pemeriksaan terbanyak yang dilakukan di Rumah sakit. Manfaat dari pemeriksaan ini digunakan untuk diagnosis anemia, kondisi infeksi, kelainan pembekuan darah dan banyak dimanfaatkan dalam pemeriksaan awal sebelum operasi, kemoterapi, radioterapi, serta banyak manfaat lainnya.

Agar hasil pemeriksaan darah lengkap dari Hematology Analyzer akurat, sehingga tindakan medis terhadap pasien tepat, perlu dievaluasi performa analitik instrumen tersebut. Dengan evaluasi tersebut dapat disimpulkan apakan instrumen layak untuk digunakan dalam pelayanan laboratorium. Studi ini mengevaluasi performa analitik Hemalogy Analyzer Cell Dyne Ruby dengan six sigma. Dengan studi ini, diharapkan pasien mendapatkan hasil pemeriksaan darah lengkap yang valid dan reliabel untuk mendapatkan layanan kesehatan yang berkualitas.

Metode dan Hasil

Analisis sigma dihitung dengan rumus sigma = (TEa – CV)/ Bias. Total Error Allowable  (TEa) merupakan batas toleransi variasi hasil laboratorium. Studi ini menggunakan nilai Tea dari CLIA. Data coefficien of variant (CV) dan  bias berasal dari hasil pemeriksaan tiga bahan kontrol bernilai rendah, normal, and tinggi yang dilakukan setiap hari.

Ada beberapa tingkatan mutu di laboratorium berdasarkan nilai sigma yang didapatkan. Level tersebut adalah world class (bila nilai sigma > 6), excellent (5-6), good (4-5) , marjinal (3-4), kurang (2-3), dan tidak bisa diterima (<2). Semakin tinggi nilai sigma yang capai, semakin kecil kemungkinan eror dapat terjadi. Sebaliknya, semakin rendah nilai sigma maka semakin besar kemungkinan eror dapat terjadi. Nilai sigma lebih dari 6 merupakan level world class. Itulah mengapa digunakan kata six pada nilai sigma. Nilai minimal sigma dalam layanan suatu proses manufaktur biasanya 3.

Hasil studi menunjukkan rata-rata nilai sigma untuk seluruh parameter pemeriksaan darah lengkap dengan Hematology Analyzer Cell Dyne Ruby adalah 4,75. Instrumen tersebut memberikan  performa yang “baik” dengan analisis sigmametrik. Hal ini menunjukkan instumen tersebut layak untuk digunakan dalam pelayanan laboratorium kepada pasien.

Penulis: Muhamad Robiul Fuadi dr SpPK (K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://indonesianjournalofclinicalpathology.org/index.php/patologi/article/view/1375

Muhamad Robiul Fuadi (2019). Using Six Sigma to Evaluate Analytical Performace of Hematology Analyzer. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory. Vol 2 no 25. p-ISSN:  0854-4263. e-ISSN:  2477-4685

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).