Analisis Perubahan Kadar Gula Darah dan Glut 4

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh halodoc

Penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa angka kejadian penyakit diabetescenderung terus meningkat, termasuk diabetes mellitus tipe 2. Pada tahun 2020 di seluruh dunia diperkirakan terdapat 250 juta penderita diabetes mellitus tipe 2. Menurut WHO di Indonesia jumlah penderita pada tahun 2000 sejumlah 8,4 juta yang pada tahun 2030 diprediksi menjadi 21,3 juta. Dibutuhkan biaya yang cukup tinggi untuk penanganan penyakit diabetes mellitus tipe 2, dan banyaknya komplikasi yang dapat terjadi (misalnya penyakit kardiovaskuler) dengan angka kematian yang tinggi, maka penyakit diabetes mellitus tipe 2merupakan penyakit strategis yang perlu diperhatikan terutama dalam mencegah timbulnya atau memperlambat kemungkinan terjadinya komplikasi. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, diperoleh bahwa proporsi penyebab kematian akibat diabetes mellitus tipe 2 pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan menduduki ranking ke-2 yaitu 14,7%. Dan daerah pedesaan, penyakit diabetes menduduki ranking ke-6 yaitu 5,8%. Pada dasarnya komplikasi yang terjadi pada penderita DM adalah akibat dari terbentuknya ROS.

Penatalaksanan diabetes mellitus tipe 2 yang paling utama adalah pengendalian kadar gula darah, karena memegang peranan sangat penting dalam mencegah komplikasi. Saat ini  diyakini bahwa stres oksidatif memainkan peran penting dalam pengembangan komplikasi pembuluh darah dalam diabetes khususnya diabetes mellitus tipe 2. Menurut studi epidemiologi, kematian diabetes dapat dijelaskan terutama oleh peningkatan penyakit pembuluh darah selain hiperglikemia.  Kontrol glikemia secara ketat merupakan prioritas utama dalam pentalaksanaan penyakit diabetes, namun kenyataanya selama ini hanya sebagian kecil pasien yang mencapai target glikemik jangka panjang (Syahbuddin, 2010). Berdasarkan fenomena tersebut dan karakteristik perjalanan penyakit diabetes mellitus tipe 2yang progresif, maka saat ini digunakan strategi baru yang lebih dini dan lebih agresif dalam penggunaan obat hipoglikemik dalam jangka panjang. Oleh karena itu, penemuan obat baru yang mampu mengendalikan keadaan glikemik dan termasuk meredam terjadinya ROS akibat diabetes mellitus tipe 2 harus semakin ditingkatkan terutama penggunaan bahan alam sebagai bagian dari terapi nutrigenomik.

Indonesia merupakan negara kepulauan dan teripang emas merupakan hewan laut yang sangat banyak ditemukan di perairan di Indonesia. Teripang emas (Sticopus hermanii) banyak mengandung senyawa bioaktif antara lain adalah triterpene glycosida (saponins), fenolik, maupun mineral kromium. Selain itu juga mengandung berbagai macam vitamin dan mineral yang mempunyai aktivitas anti oksidan. Saponin berperan meningkatkan fosforilasi tirosin dari subunit β reseptor insulin, menghambat tyrosine phosphatase, serta menstimulasi aktivitas transport glukosa, seperti GLUT4.Fenolik dapat menstimulasi peningkatan pengeluaran insulin dari sel beta pancreasdan memberikan perlindungan terhadap kerusakan sel akibat oleh stres oksidatif yang berhubungan dengan radikal bebas,sedangkan kromium dapat meningkatkan jumlah reseptor insulin, sehingga ikatan antara insulin dengan sel meningkat, menghambat protein tyrosine phosphatase 1 dan mengaktifkan insulin reseptor tyrosine kinase (IRTK).Berdasar kandungan yang terdapat pada teripang emas tersebut di atas, maka diharapkan teripang emas dapat dipakai sebagai pengobatan diabetes mellitus tipe 2.

Untuk membuktikan apakah teripang emas dapat dipakai sebagai obat untuk diabetes mellitus tipe 2, maka perlu dilakukan penelitian “Analisis perubahan kadar gula darah dan GLUT 4 pada model tikus Diabetes Mellitus yang diberi ekstrak Teripang emas (Sticophus hermanii)”. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa ekstrak teripang emas dapat menurunkan kadar gula darah dan meningkatkan kadar GLUT4 otot skeletal (diperiksa dengan elisa) pada model tikus diabetes mellitus tipe 2.

Penelitian ini adalah penelitian eksperimen laboratoris, dengan rancangan acak lengkap. Tiga puluh tikus Wistar secara random dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok 1 adalah kelompok kontrol negative (tikus normal), dan kelompok P2 – P4 adalah tikus wistar yang dibuat diabetes mellitus tipe 2 dengan pemberian STZ 50 mg/kg BB secara i.p. Kelompok P2 adalah kelompok kontrol positif (tanpa pemberian apa-apa), P2 adalah kelompok yang diberi metformin 100 mg/kg BB (obat lini pertama diabetes mellitus tipe 2), kelompok 4 dan 5 adalah kelompok yang diberi ekstrak teripang emas dengan dosis 8.5 mg/kg BB dan 17 mg/kg BB. Lama pemberian metformin maupun teripang emas selama 2 minggu, selanjutnya tikus wistar hewan coba dikorbankan untuk mengukur kadar gula darahnya dengan  stikNesco multicheck dan kadar GLUT4 otot dengan metode elisa.

Hasil penelitian ini adalah menunjukkan kadar gula darah tikus model diabetes mellitus tipe 2 menurun secara signifikan, dengan pemberian ekstrak teripang emas dosis 8.5 mg/ kg BB  dan 17 mg / kg BB dan memberikan efek sama dengan pemberian metformin 100 mg / kg BB. Selain itu,  kadar gula darah otot tikus model diabetes mellitus tipe 2 meningkat secara signifikan, dengan pemberian ekstrak teripang emas dosis 8.5 mg/ kg BB  dan 17 mg / kg BB dan memberikan efek sama dengan pemberian metformin 100 mg / kg BB, dan Kadar Glut 4 otot tikus model diabetes mellitus tipe 2meningkat secara signifikan, dengan pemberian ekstrak teripang emas dosis 8.5 mg/ kg BB  dan 17 mg / kg BB dan memberikan efek sama dengan pemberian metformin 100 mg / kg BB.

Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian ekstrak teripang emas dengan dosis 8.5 mg / kg BB atau 17 mg / kg BB pada tikus model diabetes mellitus tipe 2 secara statistik memberikan efek yang sama dengan dengan pemberian metformin100 mg / kg BB, hanya saja tampaknya pemberian dosis 8.5 mg / kg BB memberikan efek yang lebih baik.

PENULIS : Safitri1, B Purwanto2*, L Rochyani3, G I Prabowo1 and D Sukmaya4

1Medical Biochemistry Department, Faculty of Medicine, Airlangga University 2Physiology Department, Faculty of Medicine, Airlangga University


3Faculty of Dentistry, Hang Tuah University


4Faculty of Medicine, Surabaya University.

JUDUL JURNAL : Effect of Sticophus hermanii extract on fastingblood glucose and skeletal muscle glut4 on type 2diabetes mellitus rats model.

(IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science 217 (2019) 012025) Link: https://doi.org/10.1088/1755-1315/217/1/012025

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu