Ketahui Faktor yang Mempengaruhi Gangguan Menstruasi pada Pekerja Wanita

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh tirto.id

Gangguan menstruasi adalah kondisi ketika siklus mentruasi mengalami anomali atau kelainan. Gangguan menstruasi adalah  indikator penting untuk  menunjukkan gangguan sistem reproduksi bagi wanita. Gangguan menstruasi sering dikaitkan dengan berbagai penyakit seperti  kanker serviks, kanker payudara infertilitas dan diabetes mellitus. Gangguan menstruasi pada pekerja wanita penting untuk ditelaah, hal ini karena  pekerja wanita juga terpapar hazard di lingkungan kerja yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan reproduksi termasuk gangguan menstruasi.

Artikel ini dibuat berdasarkan penelitian yang dilakukan pada 199  pekerja  wanita di Industri Sepatu Sidoarjo.  Pekerja wanita yang mengalami gangguan menstruasi di lokasi penelitian adalah 85.4 persen. Secara statistik dapat diperoleh informasi bahwa faktor risiko gangguan menstruasi pada pekerja wanita antara lain status nutrisi, umur pertama kali menstruasi, penggunaan kontrasepsi, lama penggunaan kontrasepsi. Stress kerja juga dapat menyebabkan gangguan hormon yang dapat menyebabkan  gangguan mentsruasi.  Indeks job stress pada pekerja wanita cukup tinggi, di antara pekerja wanita yang memiliki job stress rendah, sedang dan tinggi masing- masing  89 persen, 88,1 persen dan  96,7 persen mengalami gangguan menstruasi.

Kegiatan industri yang semakin maju membuat kesempatan wanita untuk ikut bekerja diberbagai sektor industri, hal ini membuat angka partisipasi tenaga kerja wanita meningkat. Pekerja wanita tentu memiliki kondisi fisik dan fisiologis yang berbeda dengan tenaga kerja laki-laki. Hal ini tentu harus manjadi perhatian khusus bagi dinas terkait dan juga bagi manajemen perusahaan. Keberadaan  tenaga kerja wanita sendiri telah di lindungi oleh UU Ketenagakerjaan dimana dia akan memperoleh perlindungan dan hak untuk cuti saat haid, hamil dan melahirkan sesuai dengan UU yang berlaku di Indonesia.

Data menunjukkan bahwa 50% wanita di dunia mengalami gangguan menstruasi. Di Indonesia angka gangguan menstruasi mencapai 55% dan 64,25% mengalami dysmenorrhea. Gangguan menstuasi yang terjadi pada tenaga kerja wanita dapat menimbulkan terjadinya peningkatan ketidakhadiran dan penurunan kinerja sehingga produktivitas akan menurun dan biaya produksi menjadi tidak efisien. Tenaga kerja wanita umumnya bekerja pada bagian cutting, dan finishing. Pada lokasi industri tersebut, terdapat banyak faktor yang dapat menyebabkan gangguan menstruasi  seperti temperatur yang tinggi,  kebisingan yang tinggi karena lokasinya yang berdekatan dengan mesin injeksi yang dapat menjadi pencetus terjadinya  gangguan mentruasi pada pekerja wanita.

Status nutrisi, menarche, penggunaan kontrasepsi, tipe kontrasepsi, lama penggunaan kontrasepsi memiliki hubungan dengan kejadian gangguan menstruasi pada tenaga kerja wanita. Pekerja wanita yang memiliki nutrisi yang kurang baik dapat menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan hormon FSH dan LH sehingga siklus mestruasi  dapat menjadi tidak teratur. Menarche atau usia peratama kali menstruasi berkaitan dengan terjadinya dysmenorrhea sedangkan Menarche tarda berhubungan umumnya disebabkan oleh faktor hereditas.

Penggunaan alat kontrasepsi, tipe kontrasepsi dan lama penggunaannya juga berhubungan dengan terjadinya nyeri saat menstruasi. Penggunaan kontrasepsi hormonal menurut WHO dapat menyebabkan pendarahan yang berlebih saat menstruasi dan gangguan siklus menstruasi. Alat kontrasepsi suntik setiap 3 bulan memiliki angka keluhan yang tinggi jika dibandingkan dengan alat kontrasepsi lainnya. Hal ini dikarenakan ketidakseimbangan hormon dalam tubuh menjadi lebih besar dan lebih sering menyebabkan terjadinya gangguan siklus menstruasi, dan pendarahan lebih jika dibandingkan dnegan alat kontrasepsi lainnya.

Stress kerja juga dikaitkan dengan terjadinya gangguan menstruasi.  Stress kerja dapat merangsang Hypotalamus sehingga dapat menyebabkan terjadinya gangguan menstruasi. Pekerja wanita yang mengalami stress kerja sedang dan tinggi dan mengalami gangguan mesntruasi adalah  88,1% dan 96,7%. Stress kerja ini dapat terjadi karena lokasi kerja yang dekat mesin sehingga terpapar suhu yang relatif tinggi dan kebisingan yang disebabkan oleh adanya mesin produksi. Pengandalian stress kerja perlu dilakukan oleh perusahaan guna mengurangi dampak yang dapat ditimbulkan terhadap pekerja  wanita yang ada di perusahaan sepatu. Penelitian lebih lanjut untuk mengetahui berbagai faktor risiko yang lebih spesifik ditempat kerja terhadap terjadinya gangguan menstruasi perlu dilakukan agar kita dapat memberikan perlindungan dan memperkecil risiko terjadinya permasalahan kesehatan pada tenaga kerja wanita.

Penulis : Tri Martiana

Detail tulisan ini dapat dilihat di:

https://medic.upm.edu.my/jurnal_kami/malaysian_journal_of_medicine_and_health_sciences_mjmhs/mjmhs_vol15_supplement_3_august_2019-51211

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu