Evaluasi Risiko Muskuloskeletal Disorder Pada Prosedur Pencabutan Gigi Belakang Rahang Atas

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Dictio Community

Dokter gigi melakukan perawatan dalam area yang relatif sempit yaitu rongga mulut, yang dalam pelaksanaannya memerlukan presisi tinggi. Dalam melaksanakan hal tersebut, dokter gigi sering menempatkan diri dalam posisi yang tidak nyaman dan ergonomis dalam jangka waktu panjang.  lebih mementingkan kenyamanan pasien sehingga cenderung tidak memperhatikan kenyamanan diri sendiri. Mereka cenderung memposisikan diri daripada mengatur posisi pasien di dental unit untuk mendapatkan posisi ergonomis tersebut. Hal tersebut dan diperparah dengan waktu istirahat dalam perawatan yang kurang. Sehingga dapat meningkatkan risiko timbulnya muskuloskeletal disorders (MSD). Salah satu tindakan kedokteran gigi yang sering dilakukan adalah pencabutan gigi, dengan tingkat kesulitan yang bervariasi terutama pada pencabutan gigi belakang rahang atas.

Kelainan-kelainan yang termasuk dalam MSD meliputi: kelainan otot, tendon, sendi, tulang belakang, saraf tepi, dan sistem peredaran darah, yang dapat timbul tiba-tiba dan akut atau berlangsung lambat dan kronik. Kelainan tersebut dapat timbul atau diperparah dengan postur saat bekerja yang salah, berada pada posisi statis dalam jangka waktu panjang, dan gerakan berulang. Salah satu metode untuk melakukan penilaian risiko timbulnya MSD adalah dengan menggunakan Rapid Entire Body Assessment (REBA) yang dipublikasikan oleh Hignett S dan McAtamney L dari Universitas Nottingham pada tahun 2000.

Timbul pemikiran bahwa faktor resiko timbunya MSD dapat dievaluasi dari fase awal pekerjaan dokter gigi, yaitu pada fase pendidikan Dokter gigi. Penelitian Hasibuan pada tahun 2011 menunjukkan bahwa 80% mahasiswa kedokteran gigi dan dokter gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Unversitas Indonesia menderita MSD, dan posisi yang paling beresiko adalah posisi berdiri pada tindakan pencabutan gigi terutama gigi belakang rahang atas.  Berdasarkan hal tersebut, dilakukan penelitian untuk mengevaluasi tingkat resiko MSD pada mahasiswa program profesi Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas di Rumash Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Airlangga.

Penelitian dilakukan dengan metode observasi pada klinik Bedah Mulut dan Maksilofasial RSGM Universitas Airlangga pada 73 sampel mahasiswa terdiri dari 14 orang laki-laki dan 59 orang perempuan, dengan menggunakan pengamatan dengan CCTV dengan mengamati resiko MSD menggunan metode REBA, meliputi penilaian pada beberapa bagian tubuh yaitu: leher, punggung, lengan atas dan bawah, pergelangan tangan, dan kaki saat melakukan pencabutan gigi belakang rahang atas. kriteria penilaian adalah postur pada posisi kerja yang sulit, postur yang harus dipertahankan dalam waktu panjang, dan postur pada beban kerja yang berat. Data faktor risiko tersebut dikompilasi kemudian dibuatkan skor yang menunjukkan tingkat resiko MSD yaitu: tidak signifikan (skor 1), rendah (skor 2-3), sedang (4-7), tinggi (7-10), sangat tinggi (³ 11).

Dari penelitian tersebut didapatkan data bahwa 67.12% mahasiswa mempunyai risiko MSD sedang pada tindakan anestesi lokal, 57.53% pada tindakan ekstraksi gigi dengan menggunakan tang. Tindakan dengan resiko MSD tinggi adalah ekstraksi gigi dengan menggunakan elevator dan 1.37% mahasiswa mempunyai resiko rendah pada tindakan anestesi lokal.

Risiko MSD sedang pada tindakan anestesi lokal dan ekstraksi gigi dengan tang, serta risiko tinggi pada tindakan ekstraksi gigi dengan elevator kemungkinan disebabkan oleh perbedaan waktu yang diperlukan dan keperluan untuk mempertahankan posisi statis dalam melakukan tindakan tersebut. posisi statis dalam waktu panjang dapat menurunkan suply darah ke otot yang menyebabkan penumpukan asam laktat yang menyebabkan nyeri akut pada otot yang sedang berkontraksi. Faktor penyebab lain kemungkinan mahasiswa lebih suka bekerja dengan posisi menunduk  karena pengaturan posisi dental unit terlalu rendah yaitu lebih rendah daripada siku.

Posisi tersebut menyebabkan kompresi pada area servikal, tulang belakang, dan otot disekitarnya yang selanjutnya dapat menyebabkan gangguan supply darah sehingga terjadi malnutrisi pada diskus intervetebralis dan mengganggu integritas muskuloskeletal. Gerakan repetitif yang digolongkan pada mikrotrauma juga meningkatkan resiko MSD, gerakan tersebut meliputi gerakan mencengkeram, memelintir, mendorong, dan menarik. Gerakan tersebut bila dilakukan dalam waktu lama menyebabkan pengeluaran energi yang berlebihan sehingga menyebabkan kelelahan dan trauma pada otot sehingga meningkatkan risiko MSD.

Dari penelitian tersebut dapat diasumsikan bahwa pada bidang kedokteran gigi, khususnya pada tindakan ekstraksi gigi konsep ergonomis sangat penting dan harus selalu diaplikasikan dalam melakukan perawatan pada pasien untuk mencegah MSD yang dapat menyebabkan pensiun dini dan secara umum dapat meningkatkan kualitas hidup.

Penulis: Dr. Ni Putu Mira Sumarta,, drg., Sp.BM(K)

Detail tulisan ini dapat dilihat di

https://e-journal.unair.ac.id/MKG/article/view/10367

Anggy Prayudha, Roberto M. Simandjuntak, Ni Putu Mira Sumarta. 2019. Musculoskeletal disorder risk level evaluation of posterior maxillary tooth extraction procedures. Dental Journal, Vol 52, No 1.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu