Epidemiologi, Tantangan Diagnostik dan Mutasi Dari Infeksi Virus Dengue di Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Indonesiamengglobal

INA-RESPOND network atau  Indonesia Research Partnership on Infectious Disease adalah sebuah jaringan multisenter untuk penelitian klinis penyakit infeksi di Indonesia, yang melakukan penelitian tentang penyebab demam akut di Indonesia yang membutuhkan rawat inap (Etiology of Acute Febrile Illness Requiring Hospitalization /AFIRE). Penelitian kami dilaksanakan di delapan rumah sakit tersier di tujuh kota di Indonesia: Bandung, Denpasar, Jakarta, Makassar, Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta, mulai tahun 2013 hingga 2016. Kami melakukan studi kohort observasional multisenter terhadap penyakit demam akut yang membutuhkan rawat inap pada anak-anak dan orang dewasa di Indonesia dari 2013-2016, menilai epidemiologi, perjalanan klinis, dan virologi infeksi virus dengue. Infeksi dengue adalah penyebab utama penyakit demam akut yang dirawat di rumah sakit di Indonesia.

Dengue adalah penyakit virus, ditularkan oleh nyamuk yang insiden globalnya telah meningkat secara dramatis dalam beberapa dekade terakhir. Infeksi dengan salah satu dari empat serotipe dapat menyebabkan gejala mulai subklinis hingga yang mengancam jiwa. Indonesia dan daerah subtropis lainnya adalah hiper-endemik, sehingga berisiko tinggi terkena dampak penyakit.

Pada observasi kami sepanjang tahun 2013 hingga 2016, didapatkan serotipe DENV 1-4 beredar sepanjang periode studi, dengan tingkat keseluruhan tertinggi pada bulan-bulan Januari hingga Maret. DENV-3 mendominasi di semua kota kecuali DENV-1 di Denpasar dan DENV-2 di Surabaya. Pada pengamatan kami, terdapat 2 penderita yang terinfeksi 2 serotipe disaat bersamaan. Analisis filogenetik DENV-1 menunjukkan kluster di genotipe I, tetapi terdapat 1 spesimen dari Bandung yang but a specimen collected from Bandung in 2  diambil tahun 2013 memiliki genotipe IV. Untuk specimen DENV-2 cenderung berkumpul di genotipe  c Cosmopolitan. Spesimen DENV-3 terkluster di genotipe I sedangkan spesimen DENV-4 sebagian besar di genotipe II, meskipun 1 spesimen di tahun 2015 dari  Denpasar memiliki genotipe I.

Kami mengamati DENV-1 dengan substitusi TS119 (C! T) di serotyping primer annealing site yang menyebabkan kegagalan deteksi rutin. Akurasi diagnostik di klinik perlu dioptimalkan. Dokter harus mempertimbangkan untuk mengikuti algoritma diagnostik yang mencakup pengujian konfirmasi DENV, sementara pembuat kebijakan harus memprioritaskan pengembangan kapasitas laboratorium untuk diagnosis DENV.

Penelitian kami adalah sebuah studi kohort observasional multicenter dilakukan di Indonesia untuk menilai penyebab demam akut yang membutuhkan rawat inap. Informasi klinis dan spesimen dikumpulkan pada saat pendaftaran, 14-28 hari, dan 3 bulan dari 1.486 anak-anak diatas 1 tahun dan orang dewasa. Total 468 (31,9%) kasus infeksi DENV dikonfirmasi oleh tes laboratorium rujukan. Berdasarkan tanda dan gejala klinis dari 468 kasus infeksi DENV, 187 diklasifikasikan sebagai DF (40%); 270 sebagai DBD kelas I dan II (57,7%); dan 11 kasus sebagai DBD kelas III dan IV atau manifestasi atipikal (2,3%). Tujuh puluh satu kasus adalah primer dan 397 adalah sekunder infeksi. Kasus yang parah lebih sering terjadi pada infeksi sekunder daripada infeksi primer

Dari jumlah tersebut, 414 (88,5%) didiagnosis infeksi dengue secara akurat dan 54 telah salah didiagnosis sebagai infeksi lain oleh center. Seratus awalnya diduga kasus demam berdarah akhirnya diklasifikasikan sebagai ‘non-demam berdarah’; patogen lain diidentifikasi pada 58 kasus tersebut.

Sementara perbedaannya tidak signifikan secara statistik, temuan kami menambah tubuh bukti  kasus infeksi sekunder lebih rentan menjadi parah (2,8% vs 0%, p <0,15). Keparahan arah kasus cenderung DENV-1 (3 kasus) dan DENV-3 (8 kasus). Mortalitas infeksi DENV rendah (0,6%). Paparan DENV sebelumnya ditemukan pada 92,3% subjek > 12 tahun. DENV beredar sepanjang tahun di semua kota, dengan insiden lebih tinggi dari Januari hingga Maret. DENV-3 dan DENV-1 adalah serotipe dominan. Studi ini mengidentifikasi DENV-1 dengan substitusi TS119 (C → T) di situs anil primer serotipe, yang menyebabkan kegagalan penentuan serotipe.

DENV adalah etiologi umum penyakit demam akut yang membutuhkan rawat inap di Indonesia. Keakuratan diagnostik di lokasi klinis perlu dioptimalkan karena kesalahan diagnosis infeksi DENV dan perkiraan demam berdarah yang berlebihan dapat berdampak negatif pada manajemen dan hasil. Mutasi pada situs anil dari primer serotyping dapat membingungkan diagnosis. Dokter harus mempertimbangkan mengikuti algoritma diagnostik yang mencakup pengujian konfirmasi DENV. Pembuat kebijakan harus memprioritaskan pengembangan kapasitas laboratorium untuk diagnosis DENV.

Penulis: Dwiyanti Puspitasari, dr, DTMH, MCTM, SpAK

Informasi detil penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6822776/pdf/pntd.0007785.pdf

Utama IMS, Lukman N, Sukmawati DD, et al. Dengue viral infection in Indonesia: Epidemiology, diagnostic challenges, and mutations from an observational cohort study. PLoS Negl Trop Dis. 2019;13(10):e0007785. Published 2019 Oct 21. doi:10.1371/journal.pntd.0007785

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu