Memecahkan Masalah Apakah Kita Indonesia Melaui Sejarah Maritim

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Maritimtours.com

Beberapa waktu yang lalu media sempat ramai dengan kasus Agnes Mo yang memberikan statement darahnya bukan dari Indonesia. Dia mengakui memiliki darah keturunan campuran namun tinggal di Indonesia. Bahkan permasalahan tersebut menjadi pro dan kontra dalam masyarakat Indonesia.

Permasalahan tersebut jika melihat sejarah memang nenek moyang kita merupakan imigran dari beberapa ras dan menetap di Nusantara sebagai wilayah barunya. Dalam penelitian sejarah maritim mencatat bahwa ras manusia yang sekarang ini ada sudah dikenal sekitar 10.000 tahun yang lalu. Terdapat dua ras yang kita kenal saat ini yakni ras Austromelanesoid dan ras Mongoloid.

Menelusuri Melalui Sejarah Maritim Kuno

Membahas Austronesia, tidak terlepas dari sebuah rumpun bahasa di Kawasan Indo-Pasifik. Kelompok penutur bahasa Austronesia tersebar dari Madagaskar bagian barat Samudera Hindia hingga Pulau Paskah di Oseania Timur serta Formosa dan Hawai di Pasifik Utara hingga Selandia Baru di Pasifik Selatan. Rumpun Bahasa ini telah mendiami separuh dari wilayah bumi.

Nama Austronesia berasal dari kata Latin auster “angin selatan” dan kata Greek nêsos “pulau”. Para penutur bahasa Austronesia dihipotesiskan berasal dari daerah yang sekarang disebut China bagian selatan (Taiwan). Mereka sekitar 4000 tahun yang lalu bermigrasi ke Taiwan, kemudian menyebar ke Filipina, Indonesia, dan ke Madagaskar dekat benua Afrika serta ke seluruh lautan Pasifik.

Persebaran Bahasa Austronesia hingga ke Afrika telah menunjukkan adanya migrasi dan diaspora dari Taiwan pada zaman dahulu. Para peneliti antropologi dan ahli lingustik meneliti persebaran Bahasa Austronesia. Seperti Robert Blust yang berpendapat bahwa penutur Bahasa Austronesia di Madagaskar adalah nenek moyang kelompok Bahasa Jawa-Bali-Sasak yang memiliki hubungan erat dengan kelompok Bahasa Melayo-Chamic dan Bahasa Barito di Kalimantan Selatan.

Pendapat Blust diamini oleh beberapa pakar seperti Adelaar dan Blench yang juga berpendapat bahwa nenek moyang penduduk Madagaskar  memiliki hubungan secara linguistic bahkan biologis dengan masyarakat Indonesia khususnya wilayah Kalimantan, Sumatera, dan Jawa.

Berdasarkan penelitian dari Nitihaminoto pada tahun 2004 menyatakan bahwa di pesisir selatan Jawa banyak ditemukan situs-situs dari periode paleometalik. Situs tersebut diantaranya: Jatiagung dan Panggulmlati di Jember, Meleman dan Tempursari di Lumajang, Panggul di Trenggalek, Krakal di Gunung Kidul, Gunungwingko di Bantul, dan Ayamputih di Kebumen. Situs tersebut membuktikan bahwa kehidupan masa lalu pada zaman dahulu sangat berdekatan dengan muara sungai yang besar.  Sungai yang digunakan pada zaman tersebut difungsikan pelayaran masyarakat rumpun Austronesia.

Situs lain di Kawasan Pacitan adalah Situs Punung yang pertama kali ditemukan oleh van Stein Callenfels pada tahun 1927. Menurut dia bahwa situs yang terletak di Gunung Sewu tersebut merupakan perbengkelan alat-alat batu berbentuk beliung persegi dan mata panah. Hampir sama dengan situs Kendenglembu yang juga terdapat beliung persegi membuktikan rumpun Autronesia juga banyak ditemui di selatan pesisir Jawa.

Situs Limbasari dan Tipar Ponjen yang ada di Purbalingga memberikan gambaran sama tentang dua tempat sebelumnya yang membuktikan perbengkelan alat-alat neolitik berkembang juga di Purbalingga. Permukiman di situs tersebut juga membuktikan adanya Menhir yang membuktikan juga berkembang hingga zaman megalitik. Masyarakat juga menggunakan beliung persegi untuk keperluan nonpraktis terutama untuk keperluan religi, seperti untuk bekal kubur dan benda upacara religi. Kebutuhan masyarakat akan beliung persegi dapat dipenuhi dengan cara memproduksi dan mendistribusikannya. Masyarakat memandang beliung persegi sebagai benda ekonomi yang mempunyai kegunaan dan bersifat langka. Mengingat kegunaannya yang cukup penting dalam beberapa aktivitas bermukim, maka benda ini sangat dibutuhkan.

Penemuan tiga situs diatas telah memberikan penjelasan bahwa rumpun Bahasa Austronesia memang memiliki dikenal mengembara dan memiliki akar budaya sama. Hubungan antara Jawa dan Madagaskar dapat ditarik dengan tiga hal penting. Tiga hal tersebut berupa bahasa, genetik, dan etnografi.

Kerajaan Sriwijaya Penerima Keberagaman

Memasuki masa kerajaan, penduduk Nusantara lebih beragam lagi. Kerajaan bercorak agama juga menandakan budaya Nusantara sudah memiliki keberagaman. Contohnya kerajaan Sriwijaya yang menjadi kerajaan maritim pada abad ke-7.

Mengutip sedikit dari buku Adrian B. Lapian dalam karyanyaOrang Laut, Bajak Laut, Raja Laut bahwa pengamanan jalur perdagangan internasional dari dan menuju Sriwijaya, Indonesia menyimpan banyak cerita tentang kejayaan di laut.Kerajaan Sriwijaya yang pada saat itu berkembang di wilayah barat Nusantara sudah menjadi kerajaan bercorak maritim. Sriwijaya sebagai kerajaan maritim memfokuskan pada peran pelabuhan di Selat Malaka sebagai pintu pembuka dengan negara luar. Perdagangan yang dilakukan kedua pihak sudah menerapkan kebijakan-kebijakan yang saling menguntungkan.

Banyak pedagang luar seperti Cina, Arab, dan India datang ke Nusantara untuk berdagang. Tidak hanya itu, mereka juga menikahi penduduk lokal dalam kerajaan. Pernikahan antar bangsa dan ras terjadi sehingga keanekaragaman budaya di Nusantara sangat kental.

Agama Islam yang sekarang menjadi agama mayoritas rakyat Indonesia juga tidak terlepas dari pedangang luar Nusantara. Uka Tjandrasasmita, pakar sejarah dan Arkeologi Islam, mengungkapkan bahwa Islam datang ke Sriwijaya khususnya pada abad ke-7 dan ke-8. Pada abad ini, dimungkinkan orang-orang Islam dari Arab, Persia, dan India sudah banyak yang berhubungan dengan orang-orang di Asia Tenggara dan Asia Timur.

Sejarah yang mencatat itu semua dapat menjadi gambaran bahwa kita memang terlahir dari berbagai budaya. Tidak mengherankan jika lagu “nenekku moyangku seorang pelaut” menggambarkan manusia dahulu memang seorang pelaut dan penjelajah dari satu bangsa ke bangsa yang lain hingga mendiami wilayah Indonesia. Terlepas dari itu semua, perbedaan yang kita miliki menjadi alat pemersatu bangsa yang mencirikan Indonesia dalam Bhineka Tunggal Ika yang dicetuskan oleh para pendiri bangsa.

Penulis:  Aditya Novrian

Mahasiswa Ilmu Sejarah FIB UNAIR

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu