Nyeri Alat Gerak Pada Anak, Berbahayakah?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Hello Sehat

Seorang anak yang sedang dalam usia pertumbuhan tidak jarang mengalami nyeri alat gerak atas, bawah dan tulang belakang tanpa didahului riwayat trauma. Nyeri pada alat gerak baik otot, pembuluh darah, tulang, ataupun persendian sebenarnya tidak serupa.  Tidak mudah bagi seorang anak, terutama balita, untuk mengungkapkan rasa nyeri tersebut. Sebaliknya, orang tua kadang tidak memahami keluhan anak. Tidak jarang keluhan nyeri dianggap sebagai mencari perhatian atau hanya merupakan dampak dari aktivitas anak yang berlebihan. Pada umumnya orang tua baru khawatir apabila terdapat hal yang diduga memang dapat menyebabkan rasa nyeri tersebut, misalnya terdapat riwayat trauma, terdapat luka atau memar, terdapat demam, ataupun anak tampak benar-benar kesakitan.

Beberapa hal yang harus diperhatikah oleh orang tua tentang nyeri pada anak, umumnya memang merupakan hal yang tampak secara kasat mata. Tetapi orang tua perlu memilah nyeri yang tidak kasat mata dengan mempertimbangkan usia anak, apakah anak sudah berjalan atau belum, apakah terdapat penurunan aktivitas, apakah terdapat penurunan kesehatan, serta yang tidak boleh diabaikan adalah apakah keluhan nyeri tersebut berulang, periodik, berkurang atau bertambah berat.

Kadang seorang anak tidak dapat mendeskripsikan tentang kejadian kecelakaan yang dialami, terutama balita.  Orang tua merasa tidak ada yang serius dan hanya memberikan obat gosok, minyak oles, atau membawa untuk dipijat. Beberapa nyeri sistem muskuloskeletal yang sering timbul pada anak.

Growing pain

Merupakan rasa nyeri seperti ngilu pada tungkai (paha depan, lutut, betis), yang terjadi pada saat proses metabolisme anak sedang pada puncaknya, misalnya saat tidur malam hari. Rasa nyeri terasa berdenyut denyut, terus menerus, kadang membuat anak terbangun dan menangis. Nyeri ini lebih berhubungan dengan aktivitas anak; karenanya paling sering timbul pada usia pra sekolah dan TK; nyeri akan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan.

Heel Pain (Sever’s disease)

Nyeri pada tumit akibat peradangan pada jaringan ikat, terjadi akibat aktivitas berlebih, sepatu yang tidak nyaman, atau tanpa alasan tertentu. Rasa nyeri dapat terasa sangat hebat sehingga kompres dingin tidak membantu, maka obat anti nyeri dapat diberikan. Pada umunya nyeri dapat hilang dengan mengistirahatkan kaki, menggunakan sepatu yang pas dan nyaman, serta mengurangi aktivitas yang dapat memicu peradangan seperti loncat, sepak bola, dan lari.

Yang penting adalah bagaimana orang tua mengetahui tentang “growing pain”dan “heel pain”; tidak perlu panik, tetapi juga tidak mengabaikan kemungkinan penyakit lain yang lebih serius yang memerlukan pertolongan medis. Secara keseluruhan, nyeri yang kemungkinan besar harus diperiksa lebih lanjut bila disertai hal-hal berikut. Di antaranya, persistent, tetap nyeri pada keesokan hari, sudah mengganggu aktivitas anak, nyeri terjadi pada persendian, nyeri berkaitan dengan trauma atau cedera, disertai gejala seperti bengkak, merah, nyeri saat ditekan, demam, pincang, bercak-bercak merah di kulit, serta terdapat penurunan nafsu makan dan anak menjadi lemah atau mudah lelah.

Untuk negara berkembang seperti Indonesia, dari seluruh gejala nyeri sistem muskuloskeletal pada anak, infeksi tulang merupakan penyakit yang seyogyanya dapat diketahui dini untuk dapat diterapi tuntas agar tidak membawa kecacatan di kemudian hari yang akan sangat menurunkan kualitas hidup seorang anak. Infeksi tulang pada anak sebagian besar terjadi akibat infeksi di saluran napas atas atau infeksi kulit yang menyebar melalui darah menginfeksi tulang; jadi tidak melalui tulang yang cedera. Tidak jarang saat infeksi mengenai tulang, orangtua tidak ingat adanya infeksi sebelumnya.

Infeksi pada tulang (osteomyelitis) pada fase akut, bila ditangani dengan pemberian antibiotik memadai, dapat sembuh tanpa menyisakan kemungkinan kambuh ataupun jatuh dalam keadaan kronik yang semakin sulit ditangani tanpa intervensi pembedahan. Diagnosa awal menjadi tidak mudah bila dokter yang pertama kali memeriksa tidak memikirkan kemungkinan diagnosa banding osteomyelitis hematogen pada anak dengan nyeri tungkai disertai demam. Bila anak tersebut ditangani dengan pengobatan tradisional maka hampir pasti diagnosa osteomyelitis akan terlewati. Delapan puluh persen kasus osteomyelitis kronik yang berobat pada poliklinik orthopedi RSUD Dr Soetomo merupakan kasus yang awalnya sudah ditangani dokter umum, bidan, atau pengobatan tradisional. Hanya dua puluh persen kasus yang benar-benar baru pertama kali berobat, termasuk karena infeksi TBC. Delapan puluh persen kasus tersebut seharusnya sudah sembuh dengan terapi obat antibiotik yang memadai.

Seluruh kasus osteomyelitis kronik memerlukan intervensi pembedahan untuk membersihkan tulang dari jaringan mati (nanah), dan harus dilakukan kultur karena biasanya kuman yang ada merupakan jenis kuman yang kebal terhadap antibiotik standard. Seluruh penangan tersebut tidak murah, memakan waktu, bahkan tidak jarang berakhir dengan kecacatan.

Penulis: Dr. Komang Agung Irianto Suryaningrat, dr., Sp.OT(K)

Detail tulisan ini dapat dilihat di

Link: https://paediatricaindonesiana.org/index.php/paediatrica-indonesiana/article/view/2076

Komang Agung Irianto, Adhinanda Gema, William Putera Sukmajaya. 2019. Acute hematogenous osteomyelitis in children: a case series. Paediatrica Indonesiana. 2019;59(4):222-8

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu