Monosodium Glutamate (MSG) dan Stress Oksidatif

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI kecambah kacang ijo. (Foto: Istimewa)
ILUSTRASI kecambah kacang ijo. (Foto: Istimewa)

Peningkatan penggunaaan bahan penyedap dalam pola konsumsi makanan menjadi gaya hidup masyarakat yang saat ini semakin berkembang.  Bahan penyedap makanan tersebut mengandung senyawa L-asam glutamat yang digunakan dalam bentuk garamnya yaitu monosodium glutamat (MSG). Berdasarkan rekomendasi WHO dan FAO, MSG merupakan bahan tambahan penyedap makanan yang aman untuk dikonsumsi, maksimal 6 mg/Kg berat badan orang dewasa (tidak lebih dari 2 gram per hari).Pada konsumsi MSG 30 mg/kg berat badan/hari, kadar asam glutamate dalam darah mulai meningkat, hal tersebut menunjukkan bahwa kadar glutamate dalam tubuh sudah mulai melebihi kemampuan metabolisme tubuh. Peningkatan kadar tersebut bila masih dapat dikendalikan dalam waktu 3 jam akan dapat  menurun kembali ke kadar normal atau kadar semula.Peningkatan yang signifikan baru mulai terjadi pada konsumsi 150 mg/kg berat badan/hari. Efek ini makin kuat bila konsumsi MSG bersifat jangka pendek dan besar atau dalam dosis tinggi, dan bila tersaji dalam bentuk makanan berkuah.

Konsumsi MSG dalam jumlah yang berlebihan akan menyebabkan glutamat dalam tubuh meningkat  sehingga menyebabkan metabolisme sel meningkat yang akan memicu tubuh menghasilkan produk yang bersifat reaktif yaitu Reactive Oxygen Species (ROS). Peningkatan ROS yang tidak diimbangi dengan antioksidan akan memicu timbulnya stress oksidatif.Stress oksidatif yang timbul akibat kadar glutamat dalam darah yang berlebihan akan menyebabkan kerusakan pada hipotalamus, sehingga akan mempengaruhi produksi hormon dari kelenjar Hipofisis yang berperan pada fungsi reproduksi. Hormon tersebut diantaranya Folicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH). Stress oksidatif akan menekan produksi FSH yang akan mempengaruhi perkembangan folikel sampai menjadi folikel de graaf. Folikel-folikel yang berkembang tersebut yang selanjutnya akan menghasilkan estrogen.

Kecambah Kacang Hijau  dan Stress Oksidatif karena MSG

Kecambah kacang hijau (taoge) merupakan bahan pangan lokal yang banyak dikonsumsi masyarakat, mudah didapatkan dan murah harganya. Kecambah kacang hijau mengandung vitamin C dan vitamin E yang dapat berperan sebagai antioksidan untuk menekan efek radikal bebas. Vitamin E (α-tokoferol) merupakan vitamin larut lemak yang memiliki aktivitas antioksidan yang memutus rantai reaksi stress oksidatif. Vitamin C (Asam askorbat) dikenal sebagai redoks katalis yang dapat mengurangi dan menetralkan ROS. Nilai gizi kecambah kacang hijau lebih baik daripada nilai gizi biji kacang hijau. Hal tersebut terjadi karena pada proses perkecambahan terjadi pembentukan senyawa tokoferol (vitamin E) dan terjadi perombakan makromolekul menjadi mikromolekul sehingga meningkatkan daya cerna.

Kami berargumentasi bahwa kecambah kacang hijau dapat menekan efek MSG pada kadar hormon FSH dan estrogen. Vitamin C dan Vitamin E pada kecambah kacang hijau berperan sebagai anti oksidan yang akan menghambat stress oksidatif yang timbul akibat konsumsi MSG berlebihan. Jika stress oksidatif dapat ditekan, maka kerusakan pada nukleus arkuata hipotalamus tidak terjadi, sehingga tidak menghambat sekresi Follicle Stimulating Hormone (FSH) dari kelenjar hipofisis yang berperan dalam pematangan folikel ovarium.

Penelitian ini dilakukan pada 35 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) galur Wistar usia 2 bulan berat 150-200 gram yang terbagi dalam 7 kelompok yang diberi perlakuan. I Kelompok kontrol (P1) diberi aquadest 37 hari; II (P2) aquades 7 hari+MSG 0,03 mg/gBB hari ke 8-37; III (P3) ekstrak 72mg/200gBB hari 1-37+MSG 0,03mg/gBB; IV (P4) ekstrak 144mg/200gBB hari 1-37+MSG 0,03mg/gBB; V (P5) aquades 7 hari+MSG 0,7 mg/gBB hari ke 8-37; VI (P6) ekstrak 72mg/200gBB hari 1-37+MSG dosis 0,7mg/gBB; VII (P7) ekstrak 144mg/200gBB hari 1-37+MSG 0,7mg/gBB. Setelah perlakuan, saat tikus dalam masa estrus, tikus dieutanasia, diambil serum nya untuk dilakukan pemeriksaan kadar FSH dan hormon estrogen dengan metode ELISA.

Hasil analisis didapatkan bahwa Pemberian MSG pada dosis 0,03 mg/g BB maupun 0,7mg/g BB mempengaruhi kadar FSH dan hormon estrogen. Pemberian ekstrak kecambah kacang hijau baik pada dosis 72mg/200gBB maupun 144mg/200gBB mempengaruhi kadar FSH dan estrogen akibat paparan MSG. Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kecambah kacang hijau berpengaruh terhadap kadar FSH dan hormon estrogen.

Hasil peneliti ini menunjukkan bahwa kecambah kacang hijau sebagai antioksidan mampu untuk menekan efek MSG terhadap kadar FSH dan hormon estrogen. Selanjutnya kadar hormon reproduksi yang optimal akan dapat mengoptimalkan fungsi organ reproduksi.

Penulis : Dr. Widati Fatmaningrum, dr.,M.Kes.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :

Fatmaningrum, W dan Ningtyas, W (2019). Mung bean sprout extract suppresses Monosodium Glutamate (MSG) effect on the reproductive hormones (FSH and Estrogen) in female Wistar rats.Majalah Obstetri Ginekologi, Vol. 27 No I April 2019 : 24-27

http://dx.doi.org/10.20473/mog.V1|2019.24-27.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu