Terapi Heparin untuk Penyakit Jantung Koroner

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh tirto

Terjadinya sumbatan pembuluh darah seperti stroke berulang, penyakit jantung koroner berulang, atau autoimun seperti lupus eritematosus, dan lainnya, dianjurkan memberi terapi agar darah yang cenderung mengental mendekati atau normal kembali. Obat yang dalam istilah masyarakat dikenal dengan obat pengencer darah atau antikoagulan tersebut antara lain golongan heparin. Heparin awalnya diberikan secara injeksi dan dalam perkembangan tekini ditemukan bentuk yang  dapat diberikan oral. Viskositas darah yang kental dapat disebabkan karena adanya kelainan genetik pada seseorang yang mengakibatkan faktor-faktor pembekuan darah bekerja berlebihan, atau faktor penghambat bekerjanya faktor-faktor pembekuan diproduksi kurang atau terdapat kelainan fungsi hingga tidak berfungsi menghambat laju pembekuan darah.

Pada keadan normal, faktor pembekuat darah dan protein penghambat yang disebut inhibitor dalam keadaaan keseimbangan sehingga darah dipertahankan cair dalam pembuluh darah. Apabila keseimbangan terganggu, maka terjadilah viskositas darah kental atau encer. Heparin dalam menyebabkan viskositas darah encer adalah dengan mengikat protein yang disebut antitrombin-3 kemudian bekerja menghambat aktivasi faktor pembekuan darah yaitu faktor II dan faktor X. Apabila faktor pembekuan darah dihambat bekerjanya maka otomatis darah akan sulit membeku.

Obat pengencer darah ini harus terkontrol agar dosis yang diberikan sesuai, target darah yang kental menjadi encer tercapai, tetapi tidak berlebihan yang menyebabkan darah sangat encer sehingga sulit dihentikan ketika terjadi perdarahan. Apakah akibat yang ditimbulkan bila obat antikoagulan tidak dikendalikan? Akibat yang terberat adalah perdarahan di otak yang mengakibatkan stroke. Penderita yang awalnya adalah stroke karena adanya sumbatan oleh trombus akibat viskositas darah yang kental, kemudian diterapi dengan antikoagulan dengan dosis yang tidak dimonitor maka dapat terjadi stroke dengan penyebab baru yaitu perdarahan otak. Hal ini menjadi dasar pentingnya memonitor terapi antikoagulan pada seorang penderita. Selain itu pada beberapa kasus. Heparin diketahui dapat menyebabkan julah trombosit menurun yang disebut trombositopenia. Keadaan trombositopenia ini tentunya menyebabkan kecenderungan perdarahan semakin berat, karena trombosit adalah pertahanan pertama tubuh dalam membuat sumbat perdarahan, yang kemudian disusul oleh faktor-faktor koagulasi sebagiannya dihambat kerjanya oleh heparin ini.

Untuk memonitor dosis obat ini diperlukan pemeriksaan laboratorium. Macam pemeriksaan dan kegunaannya telah dijelaskan dalam artikel yang terkait tulisan ini. Terdapat suatu nilai laboratorium yang harus dicapai seseorang dengan terapi antikoagulan termasuk heparin. Nilai target ini tergantung pada penyakinya. Tentunya nilai target ini tidak sama dengan orang normal dengan viskositas darah yang normal. Pada penderita yang cenderung viskositas darahnya kental, nilai target ini dapat 1.5-2.5 kali di atas rentang normal. Apabila nilai target telah tercapai, menandakan dosis obat telah cukup dan dicapai dosis pemeliharaan. Tetapi apabila nilai target masih kurang, berarti dosis harus ditambah, demikian sebaliknya. Pemantauan laboratorium ini harus dilakukan berkala, dan pasien diharuskan meminum obat seumur hidup kecuali bila penyebab primernya dapat diatasi sehingga pasien sembuh. Namun yang sering terjadi adalah penyebab primer tidak diketahui atau tidak bias dikendalikan seperti mutasi genetik.

Penderita tidak boleh menghentikan minum obat ketika akan dilakukan pemeriksaan laboratorium. Selama di laboratorium, perlu diberitahukan kepada petugas jenis obat yang dikonsumsi. Hal ini akan sangat membantu petugas dan dokter yang bekerja di laboratorium, ketika didapatkan hasil yang abnormal, informasi terkait obat yang dikonsumsi akan sangat menolong, karena petugas dan dokter yang bertugas di laboratorium tentunya tidak mengetahui riwayat penyakit penderita sebelumnya. Demikian pula petugas analis akan memberikan perhatian khusus terhadap luka bekas jarum suntik yang berpeluang sulit dihentikan dengan cara menekan lebih lama pada tempat luka.

Pemeriksaan laboratorium yang rutin dikerjakan dan tersedia luas di banyak laboratorium adalah pemeriksaan plasma prothrombin time (PPT) dan activated partial thromboplastin time (APTT). Khusus untuk memonitor heparin, APTT lebih sensitif. Pemeriksaan lain yang jarang dikerjakan karena keterbatasan laboratorium yang mengerjakan adalah pemeriksaan anti-Xa, protamine dan trombodinamik.

Penulis: Dr. Yetti Hernaningsih, dr., SpPK(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.intechopen.com/online-first/examination-of-laboratory-for-monitoring-heparin-anticoagulant-therapy

Yetti Hernaningsih, Ersa Bayung Maulidan. 2019. Examination of Laboratory for Monitoring Heparin Anticoagulant TherapyAnticoagulation drugs. The Current State of the Art.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu