Strategi Tentukan Diagnosis Dini Sepsis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi penyakit sepsis. (Sumber: NakitaGridID)

Sepsis merupakan penyakit infeksi dengan mortalitas tinggi hingga mencapai 50-60 % di RSUD Dr. Soetomo. Insidens penyakit ini cenderung meningkat seiring tahun dan mengenai pasien usia tua, 45-64 tahun. Organisasi dunia terkait selalu mengembangkan alat atau kriteria baru untuk mendeteksi sepsis lebih dini dengan harapan pasien lebih cepat terobati dan angka mortalitas akan menurun.

Selama ini kultur masih merupakan baku emas untuk mendiagnosis sepsis, tetapi kultur membutuhkan waktu minimal 24 jam hingga 5 hari. Kultur memberikan hasil yang spesifik namun kurang senitif. Terbukti sebanyak 79 pasien pada penelitian ini dengan diagnosis sepsis berdasarkan kriteria qSOFA yang meliputi penilaian perubahan kesadaran dengan Glasgow Coma Scale < 13, tekanan darah < 100 mmHg dan frekunsi pernafasan < 22 kali per menit, ketika dilakukan uji kultur darah, memberikan hasil kultur darah positif sebanyak 25 pasien.

Hal itu menandakan bahwa kultur bukanlah pemeriksaan yang sensitif, namun spesifik. Penelitian ini bertujuan mencari biomarker yang dapat dengan cepat membantu diagnosis sepsis.

Pada penelitian sebelumnya didapatkan data bahwa leukosit CD64 meningkat signifikan pada sepsis dengan hasil kultur positif. Parameter ini selama ini masih dalam taraf penelitian, keuntungannya dibandingkan dengan kultur, waktu pemeriksaan lebih cepat, hanya memerlukan waktu 1-2 jam saja, harga juga tidak lebih mahal dibandingkan kultur, namun kerugiannya tidak semua fasilitas kesehatan mempunyai alat untuk mendeteksi, hanya terbatas pada rumah sakit ipe A.

Granulosit imatur, pemeriksaan ini cukup sederhana, dapat dikerjakan secara manual di semua fasilitas kesehatan, hanya saja memerlukan tenaga ahli seorang dokter untuk mengamati morfologi sel di mikroskop. Biaya terjangkau dan lebih murah daripada kultur. Waktu pemeriksaan juga lebih cepat, membutuhkan waktu 1-2 jam sejak pengambilan darah.

Prokalsitonin, parameter ini sebenarnya sudah merupakan parameter rutin yang dimintakan dokter untuk diagnosis cepat, kelemahannya meningkat signifikan hanya pada sepsis yang disebabkan bakteri. Sedangkan sepsis yang disebabkan oleh virus dan jamur tidak. Biaya pemeriksaannya cukup mahal, lebih mahal dibandingkan kultur. Terkait waktu tentunya lebih cepat daripada mengerjakan kultur.

Presepsin merupakan parameter baru yang keberadaannya banyak memberikan harapan di berbagai penyakit termasuk sepsis. Beberapa penelitian menyatakan bahwa presepsin meningkat pada sepsis. Biaya pemeriksaan hampir sama dengan kultur, namun waktu lebih cepat dibandingkan kultur.

Idealnya, semua pemeriksaan ini dapat dikerjakan pada pasien dengan kecurigaan sepsis, karena satu dengan lainnya saling mendukung untuk dapat membuat kesimpulan suatu sepsis.

Namun kebijakan sistem asuransi BPJS terkait pembiayaan menyebabkan hal ini tidak dapat dilakukan. Dengan plafon biaya yang terbatas dokter harus cerdik menentukan pilihan pemeriksaan laboratorium yang paling mungkin dikerjakan untuk menekan mortalaitas pasien. Intinya, diagnosis cepat harus dilakukan. Pada penelitian ini, pemeriksaan granulosit imatur, presepsin dan prokalsitonin cukup baik, tetapi tidak terbukti untuk leukosit CD64.

Dengan mempertimbangkan keuntungan dan kerugian masing-masing pemeriksaan, dan dengan mempertimbangkan fasilitas kesehatan yang ada di pusat layanan kesehatan di Indonesia, serta ketersediaan pembiayaan melalui jaminan kesehatan BPJS, maka langkah yang dapat dilakukan adalah mengerjakan pemeriksaan granulosit imatur pada pasien dengan kecurigaan sepsis baik di tingkat puskesmas, rumah sakit tipe E, D, C, B dan A. Apabila hasil pemeriksaan granulosit imatur positif dan mendukung diagnosis sepsis, maka apabila pusat layanan kesehatan tersebut sekiranya belum mampu merawat pasien sepsis, hendaknya segera dirujuk ke pusat layanan kesehatan lebih tinggi.

Pemeriksaan kultur dan tes kepekaan antibiotik yang masih merupakan baku emas dikerjakan di tempat pasien dirawat inap baik dikerjakan oleh laboratorium rumah sakit tersebut bila fasilitas mendukung atau dapat dirujuk untuk pemeriksaan laboratoriumnya. Dengan demikian pemeriksaan granulosit imatur dapat dikategorikan sebagai pemeriksaan skrining untuk sepsis.

Biomarker yang menjadi parameter penelitian pada studi ini dapat dikerjakan bila fasilitas ada dan ketersediaan dana mencukupi, baik atas biaya asuransi atau swadana keluarga pasien. Tentunya hasil akan didapatkan lebih cepat dibandingkan kultur dan dapat lebih cepat memulai pengobatan dengan antibiotik empirik bila kondisi pasien memerlukan antibiotik segera. (*)

Penulis: Yetti Hernaningsih

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.balimedicaljournal.org/index.php/bmj/issue/view/27

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu