Melihat Aturan Persiapan Pemeriksaan Laboratorium

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Untuk mendapatkan hasil laboratorium yang valid dan terpercaya, maka diperlukan kepastian bahwa semua proses yang dilalui di laboratorium adalah benar dan sesuai standar. Proses di laboratorium meliputi tahap praanalitk, analitik dan pascaanalitik. Untuk pemeriksaan laboratorium yang tergolong faal koagulasi, ternyata faktor pra analitik memiliki kontribusi terbesar untuk terjadinya kesalahan laboratorium. Hal ini dapat dimaklumi mengingat pada tahap praanalitik ini masih terdapat proses yang dilakukan manual. Dibandingkan dengan tahap analitik yang banyak dikerjakan oleh mesin sehingga faktor kesalahan manusia sudah banyak dihindari. Manusia pada tahap analitik ini tetap berperan dalam mengkaji hasil kontrol kualitas alat, memutuskan apakah alat pada hari tersebut pada kondisi siap untuk melakukan pemeriksaan test.

Selanjutnya mengkontrol jalannya mesin untuk memastikan kelancaran pemeriksaan. Pada tahap pascaanalitik oleh karena di era sekarang sudah banyak laboratorium yang memanfaathan kecanggihan sistem informasi, yaitu masing-masing mesin mengirimkan data pada komputer server sehingga hasil pemeriksaan pada 1 pasien yang dikerjakan beberapa mesin dapat terkirim datanya pada 1 komputer, maka tentunya hal ini sangat memudahkan dokter laboratorium dalam memvalidasi hasil. Sekali lagi, kesalahan manusia pada tahap pascaanalitik ini sudah banyak dihindari. Pada tahap pascaanalitik ini, setelah hasil divalidasi dan dinyatakan dapat dikeluarkan oleh dokter, maka selesai sudah rangkaian proses pemeriksaan pada hari tersebut, langkah berikutnya adalah menyampaikan hasil pada pengirim, baik dalam bentuk lembar hasil ataupun sistem online.

Tahap pra analitik memerlukan perhatian, karena pada tahap ini tidak saja pihak laboratorium yang berperan, tetapi juga persiapan pasien. Dalam pemeriksaan laboratorium terutama faal koagulasi maka dihindari pasien dalam keadaan stres, karena dapat memengaruhi kadar analit yang diperiksa. Diperlukan puasa pada pasien karena kekeruhan darah pasien dapat menyebabkan kesalahan membaca oleh mesin pemeriksaan. Darah disentrifugasi terlebih dahulu untuk memisahkan bagian bening dengan sel darah. Akibat sentrifugasi sel darah akan mengendap, bagian atas yang bening yang kita sebut dengan serum atau plasma diambil untuk dilakukan pemeriksaan dengan mencampurnya dengan reagen dan selanjutnya dilakukan pembacaan pada mesin.

Terdapat 2 metode pada mesin yang memeriksa faal koagulasi ini yaitu secara optik dan elektromagnetik. Pada mesin yang berprinsip optik maka kekeruhana plasma yang diakibatkan kadar lemak yang tinggi pada pasien turut mempengaruhi pembacaan pada spesimen, berbeda dengan alat yang berprinsip elektromekanik. Oleh karanya puasa minimal 12 jam sangat dianjurkan untuk pemeriksaan faal koagulasi ini. Puasa ini penderita diperbolehkan minum air putih saja, tidak lainnya. Perubahan warna spesimen yang diakibatkan pecahnya sel darah merah sehingga memberikan warna kemerahan pada spesimen juga turut mempengaruhi hasil, demikian pula warna sampel kuning yang terjadi pada penderita yang mengalam ikterus seperti pada penyakit hati. Pada kasus yang terakhir ini sistem elektromekanik tidak terpengaruh.

Penderita juga harus kooperatif selama pengambilan darah, sebab bila penderita tegang atau banyak bergerak maka mungkin saja terjadi penusukan tidak hanya sekali karena posisi pembuluh darah yang berubah, keadaan traumatik ini sangat dihindari pada pemeriksaan laboratorium karena spesimen yang terambil karena keadaan yang demikian akan berbeda dengan kondisi apabila penusukan dilakukan sekali. Selain itu pasien juga sangat perlu menginformasikan kepada petugas obat-obatan apa saja yang sedang diminum sehingga sangat membantu petugas dan dokter laboratorium dalam menginterpretasikan hasil.

Penggunaan jarum suntik mengikuti ukuran tertentu. Diameter jarum yang terlalu kecil akan menyebabkan spesimen cepat membeku karena aliran darah lambat, sementara dimeter yang terlalu besar akan menyebabkan aliran turbulensi dan akhirnya lisis dari sel darah. Pada pemeriksaan faal koagulasi ini diperlukan spesimen dengan antikoagulan karena koagulasi sebelum pemeriksaan di mesin harus dicegah, sehingga faktor-faktor pembekuan yang ada tetap utuh dan mencerminkan kadar di dalam tubuh penderita. Faktor inilah yang akan diperiksa. Antikoagulan telah tersedia di dalam botol penampung darah. Di dalam laboratorium setiap botol penampung ini mempunyai tutup dengan banyak macam warna, setiap warna memberikan petunjuk kegunaan tabung karena menginformasikan kandungan antikoagulan tertentu, tambahan bahan yang mempercepat koagulasi dan lainnya. Pada prinsipnya, tahap praanalitik ini membutuhkan kerjasama antara pihak laboratorium dan penderita, karena pada tahap ini masih banyak proses yang dikerjakan secara manual, seperti pemilihan tabung dan pengambilan darah. Sedangkan sistem identifikasi pasien telah dapat diatasi dengan adanya sistem barrcode, dan transportasi spesimen telah digunakan transportasi otomatik dengan tabung yang berjalan pada suatu pipa besar transparan (pneumatic tube). Semua ini demi hasil yang valid dan dapat dipercaya.

Penulis: Dr. Yetti Hernaningsih, dr., SpPK(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Rahajuningsih, Usi Sukorini, Yetti Hernaningsih, Arifoel Hajat. 2019. Pemeriksaan Hemostasis. In: Rahajuningsih, Usi Sukorini (Editors). Pemeriksaan Hemostasis. Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia, Jakarta. ISBN: 978-602-50597-7-3

Email: yetti-h@fk.unair.ac.id

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).