Periksa Mulut Sendiri (SaMuRi) untuk Deteksi Kelainan Praganas di Rongga Mulut

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Pemeriksaan rongga mulut pada buruh pabrik PT. Maju Melaju. (Foto: istimewa)

Departemen Ilmu Penyakit Mulut (IPM) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga kembali menggelar kegiatan pengabdian masyarakat (pengmas). Kali ini, kegiatan pengmas diadakan di PT. Maju Melaju Mitra Gudang Garam yang bertempat di Desa Dradahblumbang Kecamatan Kedungpring, Lamongan. PT. Maju Melaju Mitra Gudang Garam merupakan sebuah pabrik penghasil rokok dengan jumlah buruh wanita ±3000 orang dan buruh laki-laki ±700 orang.

Kegiatan pengmas ini dilatarbelakangi oleh adanya hubungan antara paparan tembakau terhadap kesehatan rongga mulut pekerja pabrik. Diperkirakan masyarakat yang bekerja sebagai pekerja pada industri rokok beresiko terpajan secara jangka panjang pada bahan yang berpotensi memicu terjadinya kanker mulut.

Ketua kegiatan pengmas, Dr. Desiana Radithia, drg., Sp.PM.(K) menyampaikan alasan pemilihan lokasi kegiatan pengmas ini sangat memperhatikan sasarannya, yaitu para buruh pabrik. “Kegiatan pengmas ini awalnya akan dilakukan di pabrik meubel mengingat resiko pajanan para buruh pabrik terhadap debu kayu dan bahan kimia yang berpotensi memicu kanker mulut. Namun kami memindahkan acara ke pabrik rokok berdasarkan permintaan dari mitra pengmas kami yaitu Puskesmas Dradahblumbang, untuk menyesuaikan dengan program kerja mereka. Pekerja di pabrik rokok pasti menghirup zat-zat residu dari tembakau, dan dalam jangka panjang hal tersebut juga berpotensi memicu kanker rongga mulut,” kata dosen yang juga menjabat Koordinator Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Program Studi Ilmu Penyakit Mulut ini.

Tujuan dari kegiatan pengmas ini adalah untuk memberi edukasi teknik “SAMURI” (periksa mulut sendiri) sehingga pekerja pabrik dapat melakukan pemeriksaan kesehatan rongga mulut secara mandiri dan memberdayakan masyarakat agar dapat mengolah sendiri bahan alam untuk dijadikan obat kumur guna mengatasi keluhan rongga mulut yang dialami.

 “Ada 100 buruh yang sudah dikumpulkan data pemeriksaan rongga mulutnya hari ini. Selain diperiksa dan diberi penyuluhan, mereka juga dibekali dengan petunjuk edukatif mengenai teknik “SAMURI” yang dibentuk sebagai kipas untuk dibawa pulang, agar bisa lebih mudah mempraktekkan pemeriksaan mulut secara mandiri di rumah,” Dr. Desiana menambahkan.

Selain dilakukan screening dan pemeriksaan rongga mulut juga diadakan demo membuat obat kumur dari bahan-bahan herbal yaitu daun sirih dan jeruk nipis. Pekerja pabrik yang mengikuti kegiatan screening ini juga dibekali dengan brosur berisi tentang edukasi tentang lesi praganas dan resep untuk membuat obat kumur. Peserta juga diberikan sebuah kipas edukasi teknik “SAMURI” dan cara menyikat gigi yang benar. Pada pengmas kali ini berhasil dikumpulkan sebanyak 100 pekerja pabrik yang diperiksa rongga mulutnya, 96 orang diantaranya adalah perempuan.

Sebagai narasumber, Hening Tuti Hendarti, drg., MS., Sp.PM.(K) juga mengapresiasi kegiatan ini, “Ketika diajarkan bagaimana melakukan “SAMURI” dan demo pembuatan obat kumur, banyak dari buruh yang tertarik untuk bertanya”. Hal ini menurut beliau menunjukkan respons yang sangat baik dan menunjukan antusiasme pekerja pabrik terhadap tindakan pencegahan kanker mulut.

“Kegiatannya menarik, saya jadi lebih paham tanda-tanda kanker mulut dan cara mencegahnya karena mengingat pekerjaan saya setiap hari berhubungan dengan tembakau,” ungkap Vina, salah satu pekerja pabrik yang mengikuti kegiatan ini.

“Kalau tahu lebih dini ‘kan jadi lebih cepat juga penanganannya,” tambahnya.

Diharapkan dengan diadakannya kegiatan pengmas ini akan dapat memudahkan masyarakat luas khususnya pekerja pabrik PT. Maju Melaju Mitra Gudang Garam memperoleh informasi tentang deteksi dini suatu keganasan di rongga mulut beserta perawatannya, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengamati kelainan yang terjadi pada mukosa mulut dan tidak menganggap remeh tanda-tanda di rongga mulut meskipun tidak menimbulkan rasa sakit. Pemberdayaan masyarakat untuk peningkatan kesehatan mulut di desa Dradahblumbang juga diharapkan dapat dicapai dengan mengajarkan cara membuat obat kumur dari bahan herbal yang mudah didapat, sehingga menurunkan risiko berbagai infeksi dalam rongga mulut.

Penulis: Dr. Desiana Radithia

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi: deisy.radithia@fkg.unair.ac.id

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu