Pengaruh Kondisi Lingkungan Fisik dengan Kejadian Difteri

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh suara.com

Difteri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Pada tahun 2017, jumlah kasus difteri adalah 954 dengan jumlah kematian 44 kasus di 140 kabupaten / kota di Indonesia. Kasus difteri dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti status imunisasi tidak lengkap serta kondisi lingkungan fisik. Studi literature tentang faktor lingkungan fisik, menyatakan terdapat beberapa faktor lingkungan fisik yang berhubungan atau berpengaruh dengan kejadian difteri.

Manusia merupakan sumber utama penularan Corynebacterium diphtheriae. Setiap bakteri memiliki suhu optimal. Pada suhu optimal ini, pertumbuhan bakteri berkembang pesat. Suhu mempengaruhi pembelahan sel bakteri pada suhu tertentu yang tidak sesuai dengan kebutuhan bakteri, sehingga dapat menyebabkan gangguan sel. Kuman difteri cukup tahan terhadap udara panas dan dingin, juga tahan terhadap debu dan muntah selama 6 bulan. Bakteri difteri bisa mati pada suhu 60ºC selama lebih dari 10 menit. Desinfektan dapat dengan mudah membunuh bakteri ini. Karakteristik lain dari bakteri ini, dapat disebarkan dengan debu dan dibunuh langsung ke sinar matahari dalam beberapa jam.

Kartono menyebutkan bahwa suhu rumah tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian difteri, di mana proporsi suhu tidak nyaman dalam kasus (56,0%) dan kontrol (44,0%) tidak terlihat berbeda secara signifikan. Kelembaban bisa menjadi faktor risiko yang terkait dengan terjadinya difteri, sebagaimana dinyatakan oleh penelitian Saifudin dan Kartono. Kelembaban ruangan dalam penelitian Saifudin dikaitkan dengan kasus difteri. Rumah atau kamar yang memiliki kelembaban buruk memiliki risiko sebanyak 60 kali lebih besar untuk terpapar difteri dibandingkan dengan mereka yang memiliki kelembaban yang baik. Kuman difteri resisten terhadap kelembaban tinggi, oleh karena itu, berbagai ventilasi yang memenuhi syarat diperlukan untuk mengurangi kelembaban dan mengurangi kuman ini.

Spesies Corynebacterium adalah batang nonmotile gram positif, dan ukurannya antara 2-6 μm panjang dan diameter 0,5 μm. Partikel-partikel berdiameter lebih dari 10 μm mungkin dengan cepat jatuh dari udara karena massanya berada di bawah kondisi lingkungan terutama suhu dan kelembaban relatif yang berlaku. Sedangkan partikel yang lebih kecil dapat bertahan lama di udara serta dapat mengikuti arus udara pada jarak yang cukup jauh.

Jenis lantai rumah yang terbuat dari papan atau panggung dapat menyebabkan peningkatan kelembaban rumah karena bukan bahan tahan air. Selain itu efek tanah dan kelembaban tinggi rumah dapat mempengaruhi kekebalan tubuh seseorang yang selanjutnya akan meningkatkan kerentanan tubuh terhadap penyakit, terutama penyakit menular. Penelitian lain yang sebagian besar menggunakan lantai keramik di rumahnya, tidak memiliki hubungan yang signifikan.

Pencahayaan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri. Rumah dengan penerangan yang buruk 16,6 kali lebih mungkin untuk mendapatkan difteri dibandingkan dengan rumah dengan penerangan yang baik. Dampak positif pencahayaan yang baik dapat mengurangi kelembaban udara. Variabel pencahayaan rumah tidak signifikan berkorelasi dengan kejadian difteri. Ketika Sinar Matahari datang hanya melalui jendela dan ventilasi, maka, paparan ruangan terhadap sinar matahari (ultraviolet) terbatas, kemungkinan tidak akan cukup untuk mengurangi kelembaban ruangan dan kemampuan untuk membunuh kuman menjadi terbatas. Ruangan yang sehat harus memiliki pencahayaan alami yang baik sehingga sinar matahari dapat masuk dengan mudah dan dapat membunuh mikroorganisme di dalam rumah. Menyediakan ruangan dengan banyak lubang untuk sinar matahari dapat memberikan efek sehat bagi penghuninya.

Kepadatan orang yang tinggi orang memungkinkan penularan melalui kontak langsung melalui udara atau kontak tidak langsung. Kartono menyatakan bahwa ada korelasi yang signifikan antara kepadatan < 4 m2 / orang dengan kejadian difteri di Garut dan Tasikmalaya. Berdasarkan uji multivariat, kepadatan hunian yang melebihi standar untuk terjadinya difteri adalah 15,7 kali lebih tinggi dibandingkan dengan dalam kepadatan standar. Ini juga sesuai dengan penelitian Sitohang. Oleh karena itu, ada korelasi yang signifikan antara kepadatan < 4 m2 / orang dengan terjadinya difteri di Cianjur, orang yang tidur di kamar padat yang meningkatkan risiko 6 kali lipat penyakit difteri dibandingkan dengan orang yang tidur di kamar tidur yang kotor.

Berdasarkan ulasan tersebut, faktor lingkungan yang dapat berkorelasi dengan terjadinya difteri di Indonesia adalah melebihi kelembaban standar, pencahayaan, melebihi kepadatan standar penduduk dan penggunaan jenis lantai (non keramik, non-diplester).

Penulis: Dr. Lilis Sulistyorini,  Ir., M.Kes (Co Author)

Berikut adalah link terkait tulisan di atas:

Physical Environmental Factors of Diphtheria in Indonesia: A Systematic Review of the Literature

Link     : https://medic.upm.edu.my/upload/dokumen/20190826155031VOL_15_SUPP3_AUGUST_2019.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu