Menjaga Kualitas Air Sumur di Sidoarjo

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh suara jatim

Peristiwa bencana alam kerap menjadi sumber masalah bagi lingkungan sekitar. Salah satunya adalah menyemburnya lumpur di lokasi pengeboran minyak di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur sejak tanggal 29 Mei 2006. Luapan lumpur panas selama beberapa tahun menyebabkan tergenangnya kawasan permukiman, pertanian, dan perindustrian di tiga kecamatan. Lumpur panas tersebut menutupi sekitar 250 hektar tanah, termasuk tujuh desa, sawah, perkebunan tebu, dan saluran-saluran irigasi. Prakiraan volume semburan Lumpur antara 50.000 – 120.000 m3/hari sehingga air yang terpisah dari endapan Lumpur berkisar 35.000 – 84.000 m3/hari.

Masalah yang terjadi adalah potensi tercemarnya air sumur warga yang berada di area terdampak. Karakterisitik lumpur adalah bertekstur lempung berliat memiliki pH sekitar 6,6-7 dengan logam berat berbahaya berupa timbal (Pb), copper (Cu), mangan (Mn), cobalt (Co), boron (Br), besi (Fe), cadmium (Cd), dan molybdenum (Mo). Menjadi pertanyaan besar bagi kita semua adalah apakah air sumur warga yang digunakan masih layak konsumsi atau sudah tercemar logam berbahaya?

Air sumur warga yang diduga tercemar oleh luapan lumpur menjadi penting untuk diperiksa kualitasnya. Pengambilan sampel dilakukan dengan mengambil air tanah dari sumur warga pada tahun 2014 di 6 lokasi yang diambil secara sesaat. Lokasi tersebut berada di Kec. Tanggulangin dan Kec. Porong. Komponen logam berat yang terpilih adalah logam besi (Fe), cadmium (Cd), mangan (Mn), zink (Zn), dan timbal (Pb). Evaluasi dilakukan menggunakan standar masimal konsentrasi yang diterbitkan oleh WHO (Guideline for Dringking-Water Quality 3rd edition) dan PERMENKES 492/2010 Persyaratan Kualitas Air Minum.

Hasil yang didapatkan sangat menyenangkan hati masyarakat. Tingkat keberadaan logam berat berbahaya tersebut tidak membahayakan, kecuali keberadaan Mn yang lebih tinggi dari standar. Tingkat konsentrasi logam besi, cadmium, zink, dan timbal di dalam air sumur tidak melebihi batas maksimum yang telah ditetapkan bahkan sebagian besar di bawah nilai batas deteksi alat. Wow luar biasa. Artinya bahwa air sumur warga AMAN dari bahaya kesehatan akibat logam tersebut. Namun, satu logam yang perlu diperhatikan adalah tingkat mangan (Mn) yakni mencapai 1,76 mg/l. Angka tersebut di atas standar WHO dan PERMENKES sebesar 0,4 mg/l. Tapi tenang, tidak semata-mata hal tersebut akibat dari luapan lumpur. Logam berat Mangan (Mn) yang terdeteksi di air sumur tersebut dimungkinkan berasal dari dua sumber. Sumber pertama berasal dari kandungan unsur Mn yang asli berada di tanah. Air sumur dangkal secara alami mengandung Mn yang cukup karena sebagian besar Mn memang ditemukan di tanah bagian dalam. Sedangkan sumber kedua diduga berasal dari cemaran lumpur Sidoarjo yang menyembur keluar dari dalam tanah kemudian meresap ke dalam sumur (penelitian sebelumnya menyebutkan kandungan Mn di sedimen lumpur sebesar 7,2 %).

Apa itu mangan (Mn)?Mangan merupakan unsur esensial bagi manusia dan hewan. Mangan diperlukan berbagai enzim seluler pada tubuh manusia dan hewan seperti manganese superoxide dismutase dan pyruvate carboxylase, serta mengaktifasi enzim lainnya yaitu enzime kinase, decarboxylase, transferase, dan hydrolase. Namun kelebihan paparan secara kronis sampai pada dosis yang tinggi dapat membahayakan kesehatan. Agency for Toxic Substance and Disease Registry – CDC menerangkan bahwa Mn yang masuk ke dalam tubuh melalui oral mampu menuju ke darah, otak, melintasi plasenta, hingga ke janin yang sedang berkembang dan dapat mengakibatkan gangguan sistem saraf.

Kepedulian dan kesadaran masyarakat terhadap pencemaran air harus ditingkatkan sejak dini. Tidak hanya akibat masalah bencana tersebut, tapi juga akibat kegiatan yang lain seperti aktifitas industri, pertanian, dll. Kesadaran bisa dimulai dari peningkatan pengetahuan dengan diberikan penyuluhan tentang kualitas air bersih, pelatihan cara filtrasi air hingga layak digunakan, serta penguatan keberlanjutan air secara kelembagaan (rancangan anggaran dana desa, urun rembug kelompok peduli, dll). Dengan bantuan pemerintah, diharapkan masyarakat bisa lebih mandiri dalam penyediaan dan pengawasan kualitas air untuk kebutuhan sehari-hari.

Logam berat yang terdapat di dalam air sumur gali berupa besi (Fe), kadmium (Cd), zink (Zn), and timbal (Pb) tidak melebihi standar. Sedangkan tingkat konsentrasi Mangan (Mn) masuk ke dalam kriteria melebihi standar kualitas air bersih dan tidak disarankan untuk dikonsumsi. Masyarakat di wilayah tersebut disarankan untuk menggunakan air PDAM, air dalam galon atau air kemasan untuk keperluan memasak dan minum. Sedangkan untuk keperluan mencuci, mandi, dan hal keseharian bisa menggunakan air sumur karena tidak berpotensi membahayakan. Untuk menurunkan tingkat mangan (Mn) bisa digunakan alat teknologi tepat guna seperti aerator sederhana dan menggunakan teknik bioremediasi (yakni penurunan tingkat mangan dengan menanam tanaman khusus). 

Penulis: Retno Adriyani

Link terkait tulisan di atas: Heavy Metals Contamination in Groundwater Around Sidoarjo Mud Vulcano Area, East Java Indonesia

https://medic.upm.edu.my/upload/dokumen/20190826155031VOL_15_SUPP3_AUGUST_2019.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu