Manfaatkan Alam untuk Cegah DBD

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh liputan6.com

Saat ini larvarsida yang paling banyak digunakan untuk mengendalikan larva Aedes sp adalah temephos 1% (Abate). Penggunaan insektisida untuk waktu yang lama untuk target yang sama memberikan tekanan seleksi, yang mendorong perkembangan populasi Aedes aegypti untuk menjadi lebih kebal. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah ini adalah menemukan insektisida biologis yang lebih selektif dan aman. Insektisida biologis diartikan sebagai insektisida yang bahan dasarnya berasal dari tanaman yang mengandung bahan kimia (bioaktif) yang beracun bagi serangga tetapi bersifat biodegradable, sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia, selain itu insektisida biologis juga lebih selektif. Penelitian tentang larvasida biologis telah banyak dilakukan di Indonesia tetapi belum sepenuhnya diterapkan di masyarakat.

Obat-obatan dan vaksin untuk mencegah demam berdarah masih dalam penelitian. Salah satu cara untuk mengendalikan penyakit ini adalah dengan mengendalikan vektor dengan memutus siklus hidup nyamuk menggunakan larvasida dan insektisida. Saat ini larvasida yang paling banyak digunakan untuk mengendalikan larva Aedes adalah 1% temephos (Abate). Studi lain juga menyatakan bahwa status kerentanan in vitro dari larva Aedes aegypti diklasifikasikan sebagai toleran terhadap tempo larvasida. Selain status kerentanan, insektisida sintetik juga memiliki efek buruk terhadap lingkungan. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mencaribahan biologis yang lebih selektif dan lebih aman. Insektisida biologis sebagai insektisida yang pada dasarnya merupakan bahan yang berasal dari tanaman yang mengandung bahan kimia (bioaktif) yang bersifat toksik terhadap serangga tetapi rentan (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan realtif aman bagi manusia. Selain itu insektisida nabati juga bersifat selektif, yang hanya membunuh larva saja dan aman untuk manusia.

Indonesia memiliki flora yang sangat beragam, mengandung cukup banyak jenis vegetasi yang merupakan sumber bahan insektisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan vektor. Jenis-jenis tanaman yang telah diuji dan memiliki efektivitas sebagai Larvasidadalam pengendalian Aedes sp (Vektor DBD) yaitu RhizomeKunyit Putih (Curcuma zedoaria), BatangPohon Tanjung (Mimusops Elengi L.), BijiJarak Pagar(Jatropha curcas), DaunCengkeh (Syzygium aromaticum L.), DaunJeruk Purut (Citrus hystrix), DaunJeruk Limau(Citrus amblycarpa), DaunJeruk Bali(Citrus Maxima), BuahBit (Beta vulgaris L), DaunSirih (Piper betle, Linn.), DaunPandan wangi (Pandanus amaryllifolius (Roxb)), DaunLidah Buaya (Aloe vera), DaunLegundi (Vitex trifolia), danBijiMimba (Azadirachta indika (A.Jus).

Tanaman-tanaman tersebut di atas rata-rata memiliki kandungan senyawa minyak atsiri, saponin, dan flavonoid. Saponin memiliki rasa yang pahit dan tajam serta dapat menyebabkan iritasi lambung bila dimakan. Saponin merupakan senyawa aktif permukaan dan bersifat seperti sabun, serta dapat dideteksi berdasarkan kemampuannya membentuk busa jika dikocok dalam air dan menghemolisis sel darah.Saponin dapat merusak membran sel dan mengganggu proses metabolisme serangga sedangkan polifenol sebagai inhibitor pencernaan serangga.Flavonoid diketahui memiliki aktivitas sebagai antioksidan dan zat teratogenik. Flavonoid berperan penting dalam tanaman sebagai pembentuk pigmen kuning, merah atau biru pada mahkota bunga. Flavonoid juga memiliki aktivitas sebagai anti mikroba dan insektisida.

Untuk mengukur tingkat toksisitas suatu senyawa dapat digunakan beberapa      pengukuran, yaitu LC50 (Lethal Concentration 50%), LD50 (Lethal Dose 50%) dan ED50 (Efective Dose 50%). LC50 adalah konsentrasi suatu Insektisida (biasanya dalam makanan, udara atau air) untuk mematikan 50% hewan coba. LC50 biasanya dinyatakan dalam mg/L atau mg/serangga. Semakin kecil nilai LD50 atau LC50, semakin beracun Insektisida tersebut. Suatu senyawa dikatakan aktif pada uji larvasida dengan konsentrasi maksimal 1000 ppm. Jika memiliki harga LC50 ≤ 500ppm dan dikatakan tidakaktifjikamemiliki harga LC50>500ppm,sedangkan senyawa murni dikatakan aktif dan mempunyai sifat bioaktifitas  jika  memiliki harga LC50≤ 50ppm dan tidak aktif jika LC 50 > 200 ppm.

Tanaman yang telah diteliti mengandung minyak esensial, saponin, dan flavonoid, yang efektif sebagai larvarsida. Larvasida hayati yang mengandung minyak atsiri, saponin dan flavonoida efektif sebagai larvasida dan metode ekstraksi yang paling banyak digunakan adalah meserasi dengan pelarut ethanol. Perlu ada penelitian lebih lanjut untuk membuat formulasi yang baik sehingga dapat digunakan di masyarakat sebagai larvarsida yang mudah, murah dan aman.

Penulis: Dr. R. Azizah, SH., M.Kes

Berikut adalah link terkait artikel berikut:

The Effectiveness Of Biological Control Efforts As Larvaside Vectors In Disease Dengue Fever : A Systematic Review

https://medic.upm.edu.my/upload/dokumen/20190826155031VOL_15_SUPP3_AUGUST_2019.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu