Bunga Matahari Sebagai Sumber Obat Antimalaria Baru

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Detik Health

Penyakit malaria masih menjadi persoalan kesehatan yang serius di dunia termasuk di Indonesia. Penyakit malaria ini sangat memengaruhi angka kematian dan kesehatan, utamanya pada kelompok berisiko tinggi seperti bayi, balita dan ibu hamil. Di Indonesia sendiri, dilaporkan  terdapat 1,25 hingga 2,5 juta orang memiliki kasus malaria dengan 45% hingga 50% disebabkan oleh parasit Plasmodium falciparum.

Upaya penanggulangan terhadap penyakit ini memang telah banyak dilakukan, namun angka kesakitan dan kematian malaria di beberapa negara masih tinggi. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya konflik antar penduduk, migrasi manusia secara besar-besaran, perubahan iklim dan lingkungan, sistem pelayanan kesehatan  yang kurang baik, serta timbulnya galur parasit malaria yang resisten terhadap obat antimalaria dan galur nyamuk Anopheles  yang resisten terhadap insektisida.  Tumbuh dan menyebarnya resistensi terhadap semua obat antimalaria lapis pertama yang dipakai pada pengobatan dan pencegahan malaria telah menimbulkan banyak masalah pada program penanggulangan malaria. Obat baru yang terjangkau bagi masyarakat di daerah penularan malaria sangat mutlak diperlukan bila dampak malaria ingin dikurangi atau bahkan diatasi.

Penelitian untuk mendapatkan obat antimalaria baru, baik obat sintesis maupun yang berasal dari bahan alam, khususnya dari tumbuhan masih terus berlanjut. Penelitian terhadap bahan alam dalam usaha menemukan senyawa baru antimalaria dilakukan secara intensif oleh para peneliti di dunia pada dasawarsa terakhir ini. Sekitar 80% penduduk dunia, masih menggunakan bahan alam untuk mengobati berbagai macam penyakit. Diketahui lebih dari 1200 tanaman obat telah digunakan dari berbagai negara di dunia untuk mengobati malaria, dan lebih dari 75% pasien memilih menggunakan pengobatan tradisional untuk mengobati malaria .

Salah satu tanaman yang dipakai tersebut adalah Helianthus annuus (Asteraceae), dengan nama lokal di Indonesia adalah” Bunga Matahari”. Secara tradisional, masing-masing bagian tanaman “Bunga Matahari “sudah banyak digunakan untuk berbagai pengobatan penyakit, termasuk malaria. Teh dari bunga matahari dilaporkan bermanfaat dalam pengobatan penyakit malaria dan paru-paru, begitu pula daun telah lama digunakan untuk pengobatan tradisional malaria dalam bentuk infus dan dekoksi oleh komunitas pedesaan Ambalabe, Madagascar .

Berdasar hal diatas, untuk itu  dilakukan penelitian terhadap masing-masing bagian dari tanaman Bunga Matahari dalam aktivitasnya menghambat parasit penyebab penyakit malaria. Hasil pengujian secara in vitro terhadap parasit P.falciparum dari akar, batang, biji, bunga dan daun dari tanaman Bunga Matahari menunjukkan bahwa bagian akar tanaman ini mempunyai daya hambat paling tinggi dibandingkan bagian lain tanaman bunga matahari dengan harga IC50 sebesar  2.3 ± 1.4 μg/mL dan termasuk dalam aktivitas penghambatan yang sangat kuat.

Selanjutnya dilakukan pengujian aktivitas antimalaria terhadap hewan coba mencit yang telah terinfeksi malaria terhadap semua bagian tanaman Bunga Matahari. Pada model hewan malaria, variabilitas eksperimental yang besar dari hasil dikaitkan dengan obat, parasit dan interaksi inang. Untuk alasan etis, jumlah hewan yang digunakan terbatas agar lebih akurat mengkarakterisasi efek antiparasit. Model hewan malaria yang digunakan merupakan data penting dalam program penemuan dan pengembangan obat antimalaria.  Hasil penelitian ternyata juga menunjukkan bahwa akar dapat menghambat pertumbuhan parasit P. berghei paling kuat dengan  ED50 sebesar 10.6 ± 0.2 mg/kgBB dibandingkan bagian batang, biji, bunga dan daun dari tanaman Bunga Matahari.

Selain pengujian aktivitas, penelitian mengenai mekanisme kerja dalam menghambat parasit sangatlah diperlukan untuk memperkuat bukti ilmiah. Salah satu target biokimiawi yang sangat potensial untuk pengembangan obat malaria adalah mekanisme detoksifikasi heme . Beberapa pustaka menyatakan bahwa heme bebas bersifat toksik bagi parasit karena mempunyai kemampuan untuk melisis membran parasit malaria serta dapat menghambat aktivitas beberapa enzim. Oleh karena itu parasit malaria mengembangkan mekanisme detoksifikasi heme untuk merubah heme yang toksik menjadi tidak berbahaya.

Adanya hambatan detoksifikasi heme menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian parasit malaria karena lisisnya membran serta terganggunya aktivitas beberapa enzim. Dengan demikian bahan yang mempunyai aktivitas penghambatan detoksifikasi heme tinggi, sangat berpotensi sebagai bahan antimalaria . Hasil uji penghambatan detoksifikasi heme menunjukkan bahwa Ekstrak Etanol  Akar  (IC50 =0,359) “ Bunga Matahari” mempunyai aktivitas yang bahkan lebih tinggi dibandingkan Klorokuin Difosfat ( IC50 =0,567) sebagai standard obat antimalaria.

Berdasarkan semua pengujian secara in vitro dan in vivo yang telah dilakukan dalam penelitian ini, diketahui bahwa bahwa bagian akar ”bunga matahari” memiliki aktivitas antimalaria tertinggi dibandingkan dengan bagian batang, biji, bunga, dan daun “Bunga Matahari”. Demikian juga untuk mekanisme antimalaria dalam menghambat detoksifikasi heme, ekstrak  etanol dari akar “Bunga matahari” memiliki aktivitas penghambatan terbesar dibandingkan dengan bagian lain , bahkan penghambatannya lebih besar daripada klorokuin difosfat sebagai obat standar antimalaria. Jadi, dapat disimpulkan bahwa akar ‘bunga matahari’ mengandung senyawa antimalaria yang potensial sebagai sumber untuk pengembangan obat antimalaria baru berbasis tanaman.

Penulis: Wiwied Ekasari

Informasi detail dapat dilihat di

https://www.hindawi.com/journals/ecam/2019/7390385/

Wiwied Ekasari, Dwi Widya Pratiwi, Zelmira Amanda, Suciati, Aty Widyawaruyanti, Heny Arwati. 2019. Various Parts of Helianthus annuus Plants as New Sources of Antimalarial Drugs. Hindawi Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine, Article ID 7390385, 7 pages.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu