Menilik Kesehatan Reproduksi Pekerja Wanita di Sidoarjo

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Okezone Ekonomi

Jumlah  pekerja wanita di Jawa Timur cukup tinggi. 40,6% pekerja di Jawa Timur adalah wanita. Pekerja wanita memiliki fisik dan kerentanan yang berbeda jika dibandingkan dengan pekerja laki-laki. Pekerja wanita akan mengalami fase mentruasi, hamil, menopause yang akan membuat pekerja wanita akan menjadi lebih rentan jika terpapar berbagai faktor risiko di lingkungan kerja. Artikel ini dibuat berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada pekerja wanita yang bekerja pada industri minuman kemasan dan plastik  pada bagian Office,  Produksi dan Cleaning Service. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 63,3% pekerja wanita mengalami masalah kesehatan reproduksi, 60,6% pekerja wanita mengalami gangguan menstruasi dan 20,2 % mengalami gangguan kehamilan. 70,6% pekerja wanita bekerja dengan sistem shift pagi, sore dan malam, 78% melakukan pekerjaan yang monoton, 20,2% bekerja pada ruangan dengan suhu lebih dari 280C. Pekerja dengan Work Stress Indeks Tinggi dan Rata-rata sebesar 100% dan 89,5% mengalami gangguan kesehatan reproduksi. Kesehatan reproduksi pada pekerja wanita diduga kuat berhubungan dengan  work stress, temperatur, shift kerja yang dihadapi oleh tenaga kerja wanita.

Suhu di lingkungan kerja akan berpengaruh selain pada produktivitas juga akan berpengaruh terhadap kesehatan pekerja wanita. Panas yang dikeluarkan oleh mesin dapat menyebar ke lingkungan kerja lain di perusahaan sehingga dapat menyebabkan kenaikan suhu  di lingkungan kerja. Suhu yang melebihi nilai optimal disebabkan oleh lingkungan kerja yang memiliki suhu tinggi dan adanya paparan akut di tempat kerja dapat menyebabkan stress kerja pada tenaga kerja wanita  yang pada akhirnya dapat menimbulkan gangguan kehamilan jika pekerja wanita tersebut sedang hamil. Selain itu  lingkungan kerja yang panas juga dapat menyebabkan gangguan mestruasi, keguguran dan stress pada janin. Teori pendukung lain juga menyatakan bahwa suhu lingkungan kerja yang melebihi 280C dapat menyebabkan terjadinya aborsi spontan, berat bayi lahir rendah, dan kelahiran premature. Pekerja wanita yang sedang hamil sebaiknya  tidak berada pada lingkungan kerja yang terlalu panas dan tekanan atmosfer yang tinggi. Jika ada tenaga kerja yang demikian maka hendaknya dipindahkan ke unit pekerjaan lainnya.

Stress kerja yang dialami oleh pekerja wanita dapat memengaruhi siklus menstruasi dan menyebabkan berbagai pemasalahan kehamilan pada tenaga kerja wanita. Berbagai hasil penelitian lain mendukung bahwa stress berat pada tenaga kerja wanita  dapat menyebabkan  sulit hamil, mudah keguguran, persalinanan lama, prekelamsia, bayi lahir prematur dan aborus spontan. Stress dapat meningkatkan  hormon kortisol yang dapat menghambat hormon LH. Hormon LH sangat dibutuhkan  untuk produksi Hormon estrogen dan progesteron. Ketidakseimbangan hormon ini yang akan menyebabkan terjadinya  siklus menstruasi menjadi tidak teratur.

Shift kerja juga diduga memiliki hubungan dengan kesehatan reproduksi wanita. Pekerja wanita terdiri dari pekerja yang tidak memiliki shift kerja  atau yang bekerja pada bagian office dengan jam kerja 08.00- 17.00. Sedangkan pekerja wanita lainnya memilki shift kerja dengan pola 1-3-2.  Pekerja wanita yang memiliki shift kerja ini adalah pekerja wanita pada bagian produksi dan packing. Sebenarnya  pola shift kerja dan rotasi ini adalah bentuk pengendalian risiko secara administratif dari perusahaan. Pada pekerja wanita, shift kerja  dapat menyebabkan stress kerja dan gangguan siklus sirkardian yang dapat menyebabkan berbagai permasalahan kesehatan reproduksi. Pekerja wanita yang bekerja pada shift sore dan malam, rotasi atau perubahan jadwal mendadak  perlu mendapatkan perhatian lebih besar. Hal ini dikarenakan shift kerja malam dan tidak teratur diduga  dapat menyebabkan keguguran pada semester pertama. Kelahiran preterm, berat badan lahir rendah.

Suhu lingkungan kerja yang kurang optimal, stress kerja dan shift kerja malam dan tidak teratur dapat menyebabkan berbagai masalah reproduksi pada tenaga kerja wanita. Pihak perusahaan hendaknya dapat memberikan perlindungan lebih pada pekerja wanita dan khusunya tenaga kerja wanita yang sedang hamil. Tenaga kerja yang hamil sebaiknya dipindahkan ke  unit lain yang memiliki risiko lebih kecil, membantu mengelola stress pekerja wanita dan menghindari atau memberikan dispensasi pada pekerja wanita yang sedang hamil agar sebisa mungkin dapat shift kerja pagi dan diberikan kemudahan untuk dapat bekerja pada shift kerja pagi dan diperhatikan nutrisinya.

Penulis : Tri Martiana

Info detail tentang tulisan ini dapat dilihat di:

https://medic.upm.edu.my/upload/dokumen/20190826155031VOL_15_SUPP3_AUGUST_2019.pdf

Tri Martiana, Firman Suryadi Rahman. 2019. The Correlation between Individual, Occupational, and work Environment factors to reproductive Health of female workers in the Beverage and plastic industries in Sidoarjo, Indonesia. Malaysian Journal of Medicine and Health Sciences Vol.15 Supp 3, Aug 2019 (eISSN 2636-9346).

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu