Kaji Peran Filologi di Era Industri 4.0 Bersama Dosen Universiti Kebangsaan Malaysia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
KULIAH Tamu Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia bersama Dosen Universiti Kebangsaan Malaysia pada Kamis (28/11). (Foto: Fitri)
KULIAH Tamu Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia bersama Dosen Universiti Kebangsaan Malaysia pada Kamis (28/11). (Foto: Fitri)

UNAIR NEWS – Tidak banyak orang yang menaruh perhatian pada naskah kuno. Padahal, naskah kuno menyimpan nilai-nilai dan pengetahuan yang melimpah di dalamnya. Sebagai ilmu yang mengkaji naskah kuno, peran filologi di era industri 4.0 dipertanyakan.

Menjawab hal itu, Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) mengadakan kuliah tamu pada Kamis (28/11/2019) di ruang Siti Parwati. Dalam acara itu, turut hadir Dosen dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) Dr. Junaini Kasdan yang juga merupakan alumnus Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai pemateri.

“Sebenarnya, dari filologilah berkembang teknologi-teknologi yang lain. Tetapi, kita selalu mengasingkan antara filologi dan teknologi,” ungkapnya.

Ia mengambil contoh dari salah satu manuskrip Melayu yang diakui UNESCO sebagai warisan dunia, yaitu Manuskrip Ilmu Bedil. Manuskrip tersebut terkait dengan kemiliteran yang berisi tentang pengetahuan dan teknologi persenjataan pada masa lampau.

“Manuskrip Ilmu Bedil terbagi menjadi dua konsep pemikiran, yaitu tentang teknik penggunaan senjata dan teori menggunakan senjata. Konsep tersebut sama dengan apa yang dipelajari tentara dan polisi saat ini. Sayang, mereka mempelajari itu melalui teknologi Barat, sedangkan teknologi itu sudah ada jauh sebelumnya,” jelasnya.

Tidak jauh berbeda, Menachem Ali, dosen prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, juga mnyebut hal yang sama. “Filologi dengan teknologi itu tidak bisa dipisahkan. Di Eropa, sekarang kajian-kajian manuskrip digalakkan dalam berbagai aspek. Dan, ini ada kaitannya erat dengan industri,” tuturnya.

Tujuannya bukan sekadar membaca manuskrip, lanjut dosen filologi itu, melainkan mengambil pengetahuan di dalamnya untuk kemudian dikembangkan. “Orang Eropa bersusah payah belajar bahasa Arab sehingga dapat membaca manuskrip Timur Tengah. Ditambah dengan mereka menjajah Asia Tenggara, berkembang keilmuan mereka karena menguasai dua ilmu besar, yakni tradisi Timur Tengah dan Asia Tenggara yang merupakan dua peradaban besar pada masa lampau,” terangnya.

Ia menyebut, kini China dan Jepang juga telah mulai mengakaji manuskrip untuk kemudian dikembangkan pada produk-produknya. Hal itu dikarenakan pengetahuan yang terkandung dalam manuskrip begitu kompleks meliputi aspek arsitektur, persenjataan, kimia, farmasi, budaya, dan lain sebagainya.

“Semua basisnya pada manuskrip. Mereka mempekerjakan filolog untuk menggali kembali pada manuskrip supaya dapat dikembangkan di dunia modern sekarang,” pungkasnya.

Pada akhir, Dr. Junaini menyampaikan bahwa saat ini beribu manuskrip telah didigitalkan dan dapat diakses dengan mudah. “Kita tidak perlu bingung jika tidak mempunyai manuskrip atau hanya sedikit manuskrip yang ada di fakultas. Tapi, tanyakan pada diri kita berapa banyak manuskrip yang mampu kita baca dan untuk kita kembangkan,” tegasnya kepada seluruh mahasiswa yang hadir. (*)

Penulis: Lailatul Fitriani

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu