Usia dan Shift Kerja Pengaruhi ASI Ekslusif Pekerja Wanita

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh woke.id

ASI eksklusif menurut WHO adalah memberikan ASI pada bayi sejak lahir hingga berumur enam bulan kecuali obat dan vitamin. Pekerja wanita menjadi salah satu faktor yang dianggap menyebabkan kurangnya pencapaian ASI Eksklusif. Hal ini dikarenakan selama bekerja, pekerja wanita akan terpisah  dengan bayinya. Namun, benarkah demikian?. Penelitian ini dilakukan pada pekerja wanita di kawasan industri Kabupaten Sidoarjo, dengan sampel 114 pekerja wanita yang memiliki bayi selama bekerja, dengan tujuan melihat pengaruh faktor karakteristik Individu dan pekerjaan terhadap pemberian ASI Ekslusif pada pekerja Wanita.

Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa  hanya 47,4%  yang memberikan ASI ekslusif, pekerja wanita pada usia 20-35 tahun 58,4% yang memberikan ASI eksklusif, Usia lebih dari 35 tahun 34,1% memberikan asi ekslusif, dan pekerja wanita yang bekerja dengan sistem shift kerja hanya  39,8% yang memberikan ASI Eksklusif. Secara statistik, faktor umur dan shift kerja berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif oleh pekerja wanita.

Angka kematian bayi merupakan salah satu indikator kesehatan yang penting. Berbagai hal yang dapat dilakukan untuk menurunkan dan mencegah kematian bayi adalah dengan meningkatkan pemberian nutrisi saat 1000 hari pertama kehidupan. Pemerintah Indonesia telah memberikan perlindungan kepada ibu menyusui untuk tetap dapat memberikan ASI ekslusif. Perlindungan tersebut termaktub dalam UU kesehatan no 36 tahun 2009. Pada pasal  128 ayat 2 dan 3 yang intinya menyatakan bahwa selama pemberian ASI, pemerintah daerah, keluarga, dan masyarakat harus mendukung ibu secara pernuh untuk dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. Pasal 200 menjelaskan sanksi pidana bagi setiap orang yang menghalangi pemberian ASI Eklsusif. Peraturan lain yang mendukung adalah Peraturan Pemerintah Indonesia No 33 tahun 12 tentang Pemberian Air Susu Ibu  Eksklusif dan Permenkes No 450 tahun 2004 tentang Pemberian ASI Eksklusif di Indonsia.  Permenkes tersebut menetapkan bahwa ASI Eksklusif harus dapat diberikan selama 6 bulan dan dianjurkan untuk tetap dilanjutkan hingga bayi berusia 2 tahun atau lebih dengan memberikan makanan tambahan yang sesuai.

Kementerian kesehatan telah mengeluarkan Permenkes baru tahun 2013 No 15 tentang penyediaan Fasilitas menyusui ditempat kerja. Peraturan tersebut mengatur setiap pengurus tempat kerja dan tempat umum untuk memberikan kesempatan bagi ibu yang bekerja di dalam ruangan dan atau di luar ruangan untuk menyusui dan atau memerah ASI pada waktu kerja di tempat kerja.

Penelitian ini menemukan hasil bahwa umur dan shift kerja secara statistik akan memengaruhi ibu untuk dapat memberikan ASI Eksklusif atau tidak. Pada penelitian ini pekerja wanita pada usia 20-35 tahun 58,4% yang memberikan ASI eksklusif, Usia lebih dari 35 tahun 34,1% memberikan ASI ekslusif. Walaupun secara umum tingkat pemberian ASI Ekslusif masih sangat rendah, hal menarik lainnya adalah adanya penurunan pencapaian pemberian ASI Ekslusif pada pekerja wanita usia lebih dari 35 tahun. Secara teori ada yang menyebutkan bahwa pada usia diatas 30 tahun produksi ASI akan cenderung menurun jika dibandingan dan usia 20-30 tahun. Hal inilah yang kemungkinan menjadi penyebab penurunan pemberian ASI pada tenaga kerja wanita.

Pekerja wanita yang memiliki shift kerja (pagi, sore dan malam) jika dibandingkan dengan pekerja wanita yang bekerja pada bagian Office (jam 08.00-16.00) akan berbeda dalam memberikan ASI eksklusif. Pekerja wanita dengan shift kerja hanya 39,8% yang memberikan ASI eksklusif, sedangkan pekerja wanita yang tidak memiliki shift dan hanya bekerja  pada jam 08.00-16.00 mencapai 73.1% memberikan ASI Ekslusif. Pekerja wanita dengan sistem shift kerja akan memiliki stress kerja dan perubahan hormonal dalam tubuhnya, hal inilah yang menjadi salah satu penyebab mereka tidak memberikan ASI Secara Eksklusif.  Ketika pekerja wanita stress dan pusing maka akan berdampak pada produksi ASI  berkurang. Hal ini cenderung mendorong pekerja wanita untuk lebih memilih memberikan susu formula daripada ASI eksklusif.

Perusahaan kini telah mendukung pemberian ASI Eksklusif ditempat kerja dan pada jam kerja. Hal ini tentu sangat baik agar semua ibu pekerja wanita dapat memberikan ASI Eksklusif. KIE tetap perlu dilakukan secara berkala pada pekerja wanita agar pengetahuan mereka tentang pentingnya ASI Eksklusif dapat meningkat dan mereka dapat memeberikan ASI Eksklusif pada bayi mereka. Dengan Demikian generasi penerus bangsa dapat tumbuh secara optimal pada awal masa kehidupannya.

Penulis : Tri Martiana

Detail tulisan ini dapat dilihat di :

https://www.indianjournals.com/ijor.aspx?target=ijor:ijphrd&volume=10&issue=5&article=265

Tri Martiana dan Firman Suryadi Rahman. 2019.  An Analysis about the Influence between Individual Characteristics and Occupational Factors Toward Exclusive Breastfeeding (EBF) (Study at Industrial Center of Sidoarjo District). Indian Journal of Public Health Research & Development, Volume : 10, Issue : 5.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu