Fraksi Trombosit yang Belum Matang dan Perubahan Trombosit Penderita Demam Berdarah

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI nyamuk penyebab demam berdarah. (Foto: Istimewa)
ILUSTRASI nyamuk penyebab demam berdarah. (Foto: Istimewa)

Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) atau yang juga dikenal sebagai Demam Berdarah Dengue (DBD) ini disebabkan oleh infeksi virus Dengue dan diperkirakan infeksi ini akan terus meningkat setiap tahun. Tanda gejala dari infeksi virus Dengue sangat bervariasi mulai dari yang asimtomatik/tanpa gejala hingga munculnya demam, akan tetapi satu hal yang diyakini sebagai tolak ukur untuk pemulihan penderita DBD, yaitu adanya peningkatan jumlah trombosit. Dalam hal ini, fraksi trombosit yang belum matang (Immature Platelet Fraction/IPF) dapat digunakan untuk memperkirakan perubahan jumlah trombosit dalam 1-2 hari ke depan setelah penderita terjangkit DBD.

IPF merupakan tolak ukur tambahan yang dapat digunakan untuk memprediksi pemulihan jumlah trombosit. Nilai normal pada orang sehat, yaitu 1,1-6,1%. Perjalanan penyakit DBD memang sulit diprediksi, penderita dengan hasil pemeriksaan laboratorium dan kondisi awal yang tampaknya sehat dalam waktu singkat bisa saja memburuk hingga sulit diobati. Akan tetapi, juga terdapat banyak penderita DBD dengan kondisi awal yang tampaknya sehat akan terus berlanjut sembuh dari penyakit.

Berdasar dari gambaran di atas, enam peneliti dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, RSUD Dr. Soetomo, Universitas Airlangga, Surabaya, berhasil mempublikasikan hasil penelitian ini di salah satu jurnal Internasional terkemuka, yaitu New Armenian. Penelitian tersebut berfokus untuk mengevaluasi hubungan antara fraksi trombosit yang belum matang (IPF) dengan perubahan jumlah trombosit pada penderita demam berdarah. Rata-rata perubahan jumlah trombosit pada pemeriksaan pertama lebih rendah sehingga pada tahap pemulihan terjadi selama dalam perjalanan penyakit demam berdarah. Terjadi peningkatan yang lebih besar dalam jumlah trombosit diukur pada pemeriksaan kedua karena akan terlihat jumlah trombosit mendekati nilai normal. Rata-rata dari jumlah trombosit dalam pemeriksaan pertama dalam penelitian ini lebih rendah karena kemungkinan pemeriksaan dilakukan pada demam hari ke 4/5 atau hari pertama penderita masuk ke rumah sakit.

Sampel penelitian dengan nilai IPF lebih tinggi juga terjadi peningkatan jumlah trombosit yang lebih tinggi. Kenaikan atau penurunan jumlah trombosit sejalan dengan terjadinya kebocoran plasma sesuai dengan perjalanan klinis penderita DBD. Penderita dengan jumlah trombosit menurun, kebocoran plasma masih memburuk dan sebaliknya. Pemberian terapi cairan pada penderita demam berdarah dengan kebocoran plasma yang memburuk seharusnya ada manajemen yang tepat untuk menghindari jatuh/shock, sementara pada penderita dengan kebocoran plasma yang membaik tidak terlalu agresif dalam pemberian terapi cairan dan harus waspada karena dapat terjadi kelebihan ketika terapi cairan terlalu agresif. Jadi, dengan data IPF pada penderita DBD sangat berhubungan positif dengan perubahan jumlah trombosit sejalan dengan terjadinya kebocoran plasma dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan dari terapi cairan pada penderita dengan DB.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan antara IPF dan perubahan jumlah trombosit pada penderita DBD diperoleh r = 0,746 dengan p = 0,000 (α = 5%). Berdasar hasil perhitungan statistik terdapat hubungan antara IPF dan perubahan jumlah trombosit pada penderita DBD di Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya. Selain itu, nilai r = 0,746 menunjukkan hubungan yang kuat. Dibuktikan dengan arah hubungan positif atau searah  yang berarti bahwa ketika IPF meningkat, maka perubahan jumlah trombosit juga akan meningkat. Sebanyak 84,3% dari penderita mengalami peningkatan jumlah trombosit dalam waktu 24 jam setelah IPF meningkat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa IPF dapat digunakan untuk memantau jumlah trombosit ketika pemulihan pada penderita DBD. Apabila 120 penderita DBD ditemukan nilai IPF >6,25%, maka ada kemungkinan 67% peningkatan trombosit dari 20.000/ml dalam waktu 48 jam. Sedangkan ditemukan nilai IPF >10,6% maka ada peningkatan jumlah trombosit 100% dari 20.000/ml dalam 48 jam.

Fakta penting dari penelitian ini adalah adanya hubungan yang kuat antara tingkat IPF dan perubahan jumlah trombosit pada penderita DBD. Ini disarankan agar IPF dapat digunakan untuk memantau DBD karena kemampuannya untuk memprediksi awal perubahan jumlah trombosit dalam 1-2 hari ke depan. (*)

Penulis: Prof. Usman Hadi MD, PhD

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di New Armenian Medical Journal berikut

https://ysmu.am/website/documentation/files/fd6f4786.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu