Rasio Neutrofil Limfosit dan Kadar Prokalsitonin pada Penderita Sepsis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI infeksi darah. (Foto: doktersehat.com)
ILUSTRASI infeksi darah. (Foto: doktersehat.com)

Sepsis merupakan suatu respons sistemik peradangan dari tubuh manusia terhadap munculnya infeksi peyakit. Angka kejadian sepsis di dunia masih tergolong tinggi. Di Amerika, diperkirakan terjadi sekitar 13 juta kejadian dengan 4 juta kematian tiap tahunnya. Seiring dikembangkannya penanda sebagai upaya deteksi dini infeksi dan peradangan pada tubuh, saat ini Prokalsitonin digunakan sebagai penanda (marker) cepat untuk mendeteksi sepsis. Munculnya infeksi bakteri biasanya ditandai dengan adanya neutrofilia dan limfositopenia. Beberapa literatur menyebutkan bahwa kadar neutrofil limfosit telah teruji sebagai penanda yang baik untuk infeksi bakteri dibandingkan dengan Protein reaktif-C (CRP) dari segi sensitifitas, spesifisitas, dan keakuratan.

Pada kampanye kelangsungan hidup penderita sepsis (SSC) yang dilaksanakan pada tahun 2012 diketahui bahwa tingkat keparahan dari sepsis dikategorikan menjadi dua, yakni sepsis parah (severe sepsis) dan sepsis syok (septic shock). Tingkat kefatalan (kematian) dari dua kategori ini masing-masing mencapai 50% untuk sepsis parah (severe sepsis) dan 80% untuk penderita sepsis syok (septic shock).

Penelitian yang pernah dilakukan membeberkan fakta menarik yang diketahui bahwa keterlambatan administrasi pemberian antibiotik yang sesuai akan meningkatkan risiko kematian pada penderita sepsis. Satu jam terlambat memberikan antibiotik pada 6 jam pertama setelah terjadi tekanan darah rendah akan mengurangi tingkat kelangsungan hidup penderita sebesar 7,6%. Sebaliknya, pemberian antibiotik yang sesuai dalam 1 jam dapat meningkatkan peluang 79,9% kelangsungan hidup penderita. Terlebih, biaya perawatan untuk penderita sepsis ini sangat tinggi.

Sebuah penelitian telah dilakukan oleh peneliti dari Departemen penyakit dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, yang bertujuan untuk menguji hubungan antara rasio neutrofil-limfosit dengan kadar prokalsitonin pada penderita sepsis. Rasio neutrofil diukur menggunakan Sysmex XN 1000 hematologyanalyzer, sedangkan kadar prokalsitonin diukur menggunakan VIDAS®BRAHMS PCT dengan prinsip enzyme-linked fluorescence assay. Hasil penelitian ini telah berhasil dipublikasikan di salah satu jurnal Internasional terkemuka, yaitu New Armenian.

Poin penting dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa sumber infeksi pada penderita sepsis terbanyak bersumber dari infeksi jaringan lunak (56,7%) diikuti infeksi saluran kencing (23,3%) dan pneumonia (20%). Kadar prokalsitonin pada penderita septik syok (septic shock) lebih tinggi daripada pada sepsis parah (severe sepsis) dan sepsis. Rasio neutrofil-limfosit menurut hasil kultur menunjukkan bahwa rasio neutrofil-limfosit pada bakteri gram positif lebih tinggi dibandingkan dengan bakteri gram negatif. Sementara itu, kadar prokalsitonin lebih tinggi pada bakteri gram negatif dibandingkan dengan bakteri gram positif. Kadar prokalsitonin dalam penelitian ini meningkat sesuai dengan tingkat keparahan sepsis. Tingkat prokalsitonin rata-rata 1,79 ± 1,39 ng/ml diperoleh pada subjek sepsis, 3,56 ± 2,79 ng/ml pada sepsis berat, dan 23,19 ± 31,33 ng/ml pada syok septik. Tingkat prokalsinonin dalam sepsis bakteri gram negatif lebih tinggi daripada sepsis bakteri gram positif.

Beberapa studi menyebutkan bahwa faktor risiko sepsis di antaranya adalah usia, jenis kelamin laki-laki serta adanya penyakit penyerta. Beberapa penyakit penyerta yang diyakini juga memengaruhi kerentanan, keparahan, dan mortalitas pada penderita sepsis diantaranya adalah Diabetes Mellitus, hipertensi, gagal jantung kronis, kanker, penyakit paru obstruktif kronis, infeksi HIV, dan kehamilan.

Fakta yang ada saat ini menunjukkan bahwa tingkat kejadian sepsis terus meningkat setiap tahunnya. Menurut data, tingkat kejadian sepsis dari 82,7 kasus per 100.000 populasi meningkat menjadi 240,4 kasus per 100.000 populasi dengan peningkatan 8,7% per tahun. Peningkatan kadar Prokalsitonin berkorelasi dengan tingkat keparahan penyakit. Prokalsitonin dapat meningkatkan ekspresi penanda permukaan CD16 dalam neutrofil dan dilaporkan memiliki efek penekan aktivitas limfosit sel T. Populasi leukosit berubah dengan kinetik yang cepat, sehingga menggambarkan peran neutrofil pada tahap awal respon inflamasi.

Kesimpulan dari penelitian ini diketahui bahwa terdapat hubungan yang kuat antara rasio neutrofil limfosit dan kadar prokalsitonin pada penderita sepsis. Arah hubungan menunjukkan hubungan yang searah (positif) yang berarti bahwa semakin tinggi rasio neutrofil-limfosit pada penderita sepsis, maka semakin tinggi pula tingkat prokalsitonin. Dengan demikian, peningkatan rasio neutrofil-limfosit berpotensi menjadi penanda (marker) tidak langsung peningkatan kadar prokalsitonin. Meskipun ini masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut dengan tes diagnostik.

Penulis: Prof. Usman Hadi MD, PhD

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di New Armenian Medical Journal berikut https://ysmu.am/website/documentation/files/fb329407.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu