Efikasi Gefitinib dan Erlotinib dalam Kanker Paru-paru non-sel-kecil

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ILUSTRASI kanker paru-paru. (Foto: halosehat.com)
ILUSTRASI kanker paru-paru. (Foto: halosehat.com)

Kanker paru-paru adalah jenis kanker yang sering terjadi setelah kanker payudara dan kanker prostat. Kanker paru-paru adalah salah satu penyebab utama kematian pada pria dan wanita di Amerika Serikat. Kanker non-sel-kecil adalah jenis kanker paru-paru yang paling umum, lebih dari 85% dari semua kanker paru-paru. Terapi anti kanker yang saat ini berkembang menghambat kerja epidermal growth factor receptor (EGFR), salah satunya adalah inhibitor tirosin kinase yang bekerja di intraseluler. Gefitinib dan erlotinib adalah dua reseptor faktor partumbuhan epidermal tirosin kinase inhibitor dengan mekanisme serupa dan efikasi klinis hampir sama pada karsinoma non-sel-kecil.

Berdasar pada data dari American Cancer Society pada 2016, angka kejadian kasus baru pada kanker paru-paru diperkirakan sebanyak 224.390 kasus baru atau 14% dari semua kasus kanker dan perkiraan angka kematian disebabkan oleh kanker paru-paru adalah 158.080 atau 27% dari semua penyebab kematian karena kanker. Kematian akibat kanker paru-paru menempati peringkat kedua pada pria 21,8% dan keempat pada wanita 9,1%. Kejadian ini terkait dengan jumlah kebiasaan merokok pada pria yang lebih besar dari wanita. Kebanyakan penderita kanker paru-paru yang datang ke rumah sakit terdiagnosis pada stadium lanjut sekitar 57%, dengan tingkat kelangsungan hidup 1 sampai 5 tahun yaitu 26% dan 4%, sementara penderita yang didiagnosis pada tahap awal hanya sekitar 15% dengan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun 54%.

WHO membagi kanker paru-paru menjadi dua kelas pada biologi, terapi, dan prognosis. Yaitu, kanker paru-paru jenis karsinoma sel kecil dan non-sel kecil (NSCLC). Kanker paru-paru NSCLC adalah yang paling umum, yaitu lebih dari 85% dari semua kanker paru-paru yang terdiri atas non-skuamosa karsinoma (adenokarsinoma, karsinoma sel besar, dan jenis sel lainnya) dan sel karsinoma skuamosa (epidermoid). Adenokarsinoma adalah jenis kanker paru-paru yang paling umum di Amerika Serikat dan merupakan tipe sel yang paling sering ditemukan pada orang bukan perokok.

Gefitinib dan Erlotinib adalah dua epidermal growth factor receptor tyrosine kinase inhibitor (EGFR TKI) yang memiliki mekanisme efikasi klinis yang hampir sama pada kanker paru-paru karsinoma non-sel-kecil. Administrasi Gefitinib dengan dosis 250 mg per hari adalah dosis efektif minimum yang merupakan sepertiga dari dosis maksimum yang ditoleransi saat erlotinib dengan dosis 150 mg per hari. Di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, telah menggunakan terapi EGFR TKI sejak 2012 melalui asuransi kesehatan yang ditanggung oleh pemerintah.

Berdasar dari gambaran di atas, peneliti dari Departemen Pulmonologi dan Respirasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya di salah satu jurnal Internasional terkemuka, yaitu New Armenian. Penelitian tersebut berfokus untuk membandingkan efikasi gefitinib dan erlotinib dalam karsinoma non-sel-kecil yang dirawat di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Riset tersebut menegaskan bahwa efikasi antara gefitinib dan erlotinib tidak berbeda pada karsinoma non-sel-kecil pada penderita kanker paru-paru.

Berdasar hasil penelitian ini, khasiat dari kedua obat tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Ini dapat dilihat dari hasil progresi bebas survival dan keseluruhan survival yang menunjukkan terapi dari kedua gefitinib dan erlotinib serupa. Untuk menentukan kemanjuran gefitinib dan erlotinib dapat dilihat berdasarkan nilai kelangsungan hidup perkembangan bebas dan OS. Hasil penelitian ini lebih rendah dari penelitian sebelumnya. Hasil penelitian ini dalam hal perkembangan kelangsungan hidup bebas dan kelangsungan hidup keseluruhan yang rendah tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan jika dibandingkan dengan studi sebelumnya. Ini bisa disebabkan oleh besar perbedaan jumlah sampel kedua kelompok sehingga ada bias yang luas dan standar deviasi lebih luas.

Penderita tanpa aktivasi mutasi gen EGFR tidak mendapat manfaat dari terapi gefitinib dengan RR 1% dan perkembangan bebas kelangsungan hidup lebih lama jika penderita menerima kemoterapi. Dari tahun 2000 penderita yang menjadi subyek penelitian, 75% adalah perempuan dan 86% bukan perokok. Dikatakan bahwa terapi gefitinib efektif untuk penderita dengan mutasi EGFR dan tidak cocok untuk bentuk kemoterapi standar lainnya karena beberapa alasan lain seperti usia tua atau PS sedikit. Analisis studi TRUST mengkonfirmasi erlotinib adalah pilihan yang efektif dan ditoleransi dengan baik di Indonesia. Penelitian tentang penggunaan erlotinib dengan populasi penderita Asia Timur dan Tenggara dibandingkan dengan populasi penelitian TRUST, diperoleh perkembangan kelangsungan hidup bebas bernilai 5,78 bulan di Asia Timur dan Tenggara, 2,92 bulan di Asia non-Timur dan Tenggara, 3,25 bulan dalam populasi global. Skor OS masing-masing adalah 14,7 bulan, 6,8 bulan, dan 7,9 bulan. (*)


Penulis: Dr. Laksmi Wulandari, dr., SP.P(K)

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di New Armenian Medical Journal berikut

https://ysmu.am/website/documentation/files/838e2c50.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu