Ibu Terinfeksi HIV Risiko Perburuk Kualitas Hidup Bayi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Malang Times

Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) masih banyak dijumpai terutama di negara yang belum atau sedang berkembang. Mayoritas negara maju telah berhasil mengendalikan kasus HIV sehingga pertambahan dapat ditekan. Penularan utama penderita HIV baru berasal dari ibu ke anak (transmisi vertikal). Transmisi vertikal ini dilaporkan pertama kali pada tahun 1983. Di tahun 2017 diperkirakan ada 1,8 juta anak berusia di bawah 15 tahun yang terinfeksi HIV. Setiap tahun ada 180 000 anak yang terinfeksi baru di seluruh dunia. Kematian anak dengan infeksi HIV mencapai 110 000 per tahun.

Pencegahan utama penularan vertikal adalah melalui Program Pencegahan Ibu ke Anak (PPIA) atau Prevention of Mother to Child Transmission (PMTCT). Sekalipun tidak tertular, bayi yang lahir dari ibu HIV mempunyai kualitas hidup tidak sebaik bayi yang lahir dari ibu yang tidak menderita HIV. Jadi sekalipun tidak tertular, bayi dari ibu HIV mengalami efek paparan terhadap virus yang dapat mempengaruhi beberapa aspek dalam hidupnya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis bayi yang lahir dari ibu HIV di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, terutama dalam hal kematian dan kesakitan, status nutrisi dan imunologis, tumbuh dan kembang, serta insidens anemia.

Studi potong lintang ini dilakukan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada periode 1-30 April 2017. Data diperoleh dari anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan tambahan. Subjek berusia 18 bulan ke bawah, yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV. Status infeksi HIV ditentukan melalui pemeriksaan PCR. Anemia didefiniskan sebagai Hb < 13,5 g/dL. Bayi dibedakan menjadi dua kelompok yaitu terinfeksi virus HIV (HIV Exposed Infected = HEI) dan bayi yang terpapar namun tidak terinfeksi (HIV Exposed Uninfected = HEU).

Didapatkan 40 bayi dengan ibu HIV selama periode penelitian. Hanya 2 bayi yang tertular HIV  dan sisanya dinyatakan sehat. Didapatkan perbedaan bermakna antara kelompok bayi HIV dan sehat dalam hal derajat imunodefisiensi dan hasil uji tapis perkembangan dengan Denver Developmental Screening Test (DDST) II. Dalam hal status nutrisi dan anemia tidak ditemukan perbedaan bermakna antara kedua kelompok. Kedua bayi yang tertular HIV tidak menerima program PMTCT.

Dalam literatur disebutkan risiko bayi HEI lebih besar dua kali lipat dibandingkan HEU untuk mengalami berbagai penyakit dan menjalani perawatan di rumah sakit. Untuk diare dan pneumonia perbedaan risiko ini menjadi 4 kali lipat lebih besar. Viral load (jumlah virus HIV) ibu merupakan salah satu prediktor utama risiko transmisi vertikal.

Insidens anemia pada penderita Aquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) dapat mencapai lebih dari 90 persen.  Anemia tersebut dapat disebabkan oleh perjalanan sakit, penggunaan obat HIV, serta ada tidaknya penggunaan ASI. Dalam penelitian ini tidak didapatkan perbedaan antara HEU dan HEI dalam hal anemia, yang kemungkinan disebabkan minimnya jumlah bayi HEI yang menjadi sampel.

Kelompok HEI menunjukkan keterlambatan perkembangan yang nyata. Hasil ini sejalan dengan beberapa penelitian lain. Di Afrika Selatan, bayi yang mengalami penundaan pemberian obat HIV mempunyai skor perkembangan motorik yang jauh lebih rendah dari pada bayi HEU.

Pertumbuhan yang dinilai dari berat badan, panjang badan, dan usia tidak berbeda bermakna di antara kedua kelompok yang kemungkinan disebabkan oleh sedikitnya jumlah bayi HEI. Keterlambatan pertumbuhan bisa menjadi indikator yang sensitif dalam perjalanan penyakit infeksi HIV. Penggunaan obat HIV kelas tertentu memberi kontribusi dramatis untuk mengatasi persoalan tumbuh dan kembang ini. Bayi HIV lebih sering mengalami stunting dan underweight, namun tidak untuk wasted.

Status imunodefisiensi dapat ditentukan menggunakan CD4. Perubahan CD4 mendahului perubahan klinik sehingga pemeriksaan laboratorium ini merupakan salah satu hal penting yang disarankan dilakukan secara reguler.

Sebagai kesimpulan, infeksi HIV menyebabkan perburukan kualitas hidup bayi yang lahir dari ibu dengan infeksi HIV. Upaya pencegahan pada ibu dan anak untuk membuat bayi tidak tertular adalah kunci utama menurukan penularan vertikal.

Penulis: Dominicus Husada

Detail tulisan ini dapat dilihat di:

https://www.indianjournals.com/ijor.aspx?target=ijor:ijphrd&volume=10&issue=8&article=399

Hapsari Widya Ningtiar, Leny kartina, Dwiyanti Puspitasari, Dominicus Husada, Parwati Setiono Basuki, Ismoedijanto. 2019. The Outcomes of Infants with HIV Infected Mother in a Tertiary Hospital in Indonesia. Indian Journal of Public Health Reserach & Developmen; 10 (8): 2058-62

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu