Difi Ahmad Johansah: EJAVEC dapat Dijadikan sebagai Acuan dalam Kebijakan Ekonomi Jatim

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
DIFI Ahmad Johansah selaku Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Jatim saat memberikan sambutan sekaligus membuka acara Konferensi 6th East Java Economic (EJAVEC) Forum 2019, pada Selasa (26/11/2019). (Foto: Nikmatus Sholikhah)

UNAIR NEWS- Jawa Timur (Jatim) berhasil menempati posisi kedua sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di Indonesia. Meskipun pertumbuhan ekonominya tinggi, namun tingkat kemiskinan dan ketimpangan yang terjadi juga tidak kalah tinggi. Melihat hal itu Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR) bekerjasama dengan Bank Indonesia kembali mengadakan Konferensi 6th East Java Economic (EJAVEC)  Forum 2019.

Shochrul Rohmatul Ajija, S.E., M.Ec., sebagai wakil ketua pelaksana menjelaskan bahwa konferensi yang sudah enam tahun dilakukan secara berkala itu merupakan salah satu upaya dari pihak akademisi dan peneliti Jatim untuk mencari gagasan-gagasan terbaik dari seluruh peserta berskala nasional dan internasional demi kemajuan ekonomi Jatim.

“EJAVEC adalah forum pembahasan perekonomian Jatim dalam bentuk paper tentang berbagai isu strategis ekonomi untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang perkembangan ekonomi,” jelasnya.

Dalam pembukaan EJAVEC pada Selasa (26/11/2019) di Aula Fadjar Notonagoro FEB UNAIR itu, Difi Ahmad Johansah sebagai Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Jatim berharap bahwa kegiatan yang diikuti oleh 92 peserta dari berbagai peneliti di Indonesia itu dapat menjadi ikon Jatim.

“Dengan branding yang baik, semoga EJAVEC bisa menjadi sebuah icon yang selalu dijadikan sebagai acuan dalam kebijakan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas ekonomi di Indonesia pada umumnya dan Jatim pada khususnya,” terangnya.

Tidak tanggung-tanggung, dalam pembukaan EJAVEC hadir pula Wakil Gubernur Jawa Timur yaitu Dr. H. Emil Elestianto Dardak, M.Sc. dalam pemaparan materinya, dia menjelaskan bahwa kontribusi perekonomian di Jatim 30 persen disumbang oleh faktor manufacturing, 20 persen oleh jasa dan perdagangan, dan 10 persen oleh pertanian.

“Sisa presentase 40 persen lainnya disumbang dari sektor government, education, dan lain sebagainya,” tambahnya.

Konferensi yang bertajuk ‘Transmofmasi Ekonomi Jawa Timur: Menekan Ketimpangan, Meraih Pertumbuhan Berkelanjutan” itu akan berlangsung selama dua hari, yaitu mulai Selasa (26/11/2019) hingga Rabu (27/11/2019). Dalam puncak acara tersebut rencananya akan dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawangsa untuk mendengarkan secara langsung kesimpulan gagasan ilmiah seluruh peserta EJAVEC yang nantinya dapat dipertimbangkan untuk diaplikasikan dalam kebijakan perkembangan perekonomian Jawa Timur.

Penulis : Nikmatus Sholikhah

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu