Cegah Diare pada Bayi Melalui Vaksinasi Rotavirus

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Halodoc

Rotavirus merupakan virus penyebab diare paling sering pada bayi dan anak yang ditularkan melalui kontak dengan tinja penderita atau pembawa virus yang sehat. Diare yang parah menyebabkan dehidrasi dan bahkan kematian jika tidak ditangani dengan baik. Data terbaru World Health Organization memperkirakan 215.000 kematian anak di seluruh dunia akibat infeksi saluran cerna oleh rotavirus pada tahun 2013.

Vaksin rotavirus secara resmi diwajibkan pada tahun 2006 di beberapa negara benua Amerika. Dua vaksin yang telah berlisensi adalah RotaTeq® (Merck & Co., Inc., West Point, PA, USA) dan Rotarix® (GSK Biologicals, Belgium). Rotarix® terdiri dari satu jenis rotavirus yang menginfeksi manusia dan diberikan dua kali pada usia 2 hingga 4 bulan. Sedangkan, RotaTeq® mengandung lima jenis kombinasi rotavirus yang menginfeksi manusia dan sapi, diberikan tiga kali pada usia 2, 4 dan 6 bulan. Kedua jenis vaksin diberikan secara tetes melalui mulut.

Sesuai dengan penelitian di banyak negara, vaksin rotavirus efektif mencegah diare akibat rotavirus pada bayi dan anak. Hingga Agustus 2018 tercatat 98 negara telah mewajibkan vaksinasi rotavirus dalam program imunisasi nasional mereka. Bahkan lebih dari 30 negara di Benua Afrika telah melakukan vaksinasi rotavirus terhadap semua bayi dengan bantuan Global Alliance for Vaccines and Immunizations (GAVI).

Di negara-negara Afrika, vaksin rotavirus terbukti menurunkan angka perawatan di rumah sakit akibat infeksi saluran cerna oleh rotavirus hingga 70% (rentang 32-70%). Sedangkan di negara maju, angka tersebut mencapai 94% (rentang 45-94%). Angka kematian anak akibat diare secara keseluruhan juga turut serta menurun hingga 64%.

Para peneliti di Lembaga Penyakit Tropis (ITD) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali mengemukakan hasil evaluasi menarik dalam publikasi terbarunya yang berjudul “Post-vaccinated asymptomatic rotavirus infections: A community profile study of children in Surabaya, Indonesia”.

Penelitian yang dimuat dalam Journal of Infection and Public Health tahun 2019, volume 12, halaman 625-629 tersebut mengikuti  perkembangan pada 30 bayi dan anak di Surabaya yang telah mendapatkan vaksin rotavirus lengkap selama 1 tahun. Tinja bayi dan anak yang terdaftar dikumpulkan setiap bulan satu kali. Jika bayi / anak mengalami diare juga diminta untuk mengumpulkan sampel diare. Penelitian tersebut dilaksanakan pada tahun 2016 di saat vaksin rotavirus mulai tersedia luas, sehingga jumlah anak yang dapat diikuti masih terbatas. Tempat tinggal 30 subjek ini tersebar di kota Surabaya untuk memastikan hasil yang mewakili lingkungan yang berbeda-beda (Gambar 1).

Dari analisis seluruh tinja bayi sehat yang dikumpulkan, ditemukan dua yang positif rotavirus, sedangkan semua tinja bayi dengan kondisi diare yang dialami 8 bayi / anak selama masa penelitian, hasilnya tidak ditemukan rotavirus. Hal ini ditunjukkan dengan tidak adanya gejala infeksi rotavirus pada kedua bayi yang tinjanya positif rotavirus tersebut.

Sampel yang positif rotavirus kemudian diperiksa lagi menggunakan teknik sekuensing / pengurutan materi genetik virus. Sekuensing dilakukan untuk menentukan identitas tipe genetik virus yang terisolasi. Hasilnya menunjukkan bahwa identitas rotavirus yang ditemukan dalam tinja bayi sehat ternyata sama dengan identitas rotavirus-rotavirus yang ditemukan pada bayi / anak yang sebelumnya dirawat di rumah sakit karena diare pada masa yang sama.

Temuan ini mendukung banyak penelitian sebelumnya yang menyatakan vaksin rotavirus efektif mencegah diare akibat rotavirus karena pada penelitian ini, bayi yang tinjanya positif rotavirus justru tidak mengalami diare dan tetap sehat. Sedangkan, diare yang dialami subjek selama masa penelitian kemungkinan disebabkan oleh infeksi atau penyebab lainnya karena hasil rotavirusnya negatif.

Hingga saat ini vaksin rotavirus masih tergolong imunisasi pilihan (tidak wajib) di Indonesia, artinya belum menjadi program imunisasi nasional. Mengingat bahwa pada semua bayi dengan vaksinasi lengkap rotavirus yang diteliti, tidak didapatkan diare yang mengandung rotavirus, maka sangat disarankan imunisasi rotavirus pada semua bayi menjadi program nasional di Indonesia.

Selain itu, dalam kondisi imunisasi yang tidak merata, bayi sehat yang tinjanya positif rotavirus dapat disebut sebagai ‘karier (pembawa) sehat’ yang berpotensi menularkan virus tersebut kepada bayi dan anak lainnya. Oleh karena itu, sekali lagi, pemerataan imunisasi rotavirus sangatlah penting untuk mencapai kekebalan komunitas.

Penulis: M. Inge Lusida

Detail tulisan ini dapat dilihata di:

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1876034119300863

Emily Gunawana, Takako Utsumi, Rury M. Wahyuni, Zayyin Dinana, Subijanto M. Sudarmo, Ikuo Shoji Soetjipto, Maria I. Lusida. 2019. Post-vaccinated asymptomatic rotavirus infections: A community profile study of children in Surabaya, Indonesia. Journal of Infection and Public Health, Volume 12, Issue 5, Pages 625-629.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu