Mahasiswa UNAIR Olah Tanaman Liar Ketul Jadi Obat Sariawan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
DARI KANAN: Timotius Dwi, Desti Nayunda, Annisa Fitri Purnamasari, Desi Syahfitri, dan Alfiana Nur Halimah meraih medali perak atas inovasi tumbuhan ketul untuk sariawan, di Singapura. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Advenced Innovation Global Competition (AIGC) kembali digelar pada hari Jumat (15/11/2019) hingga Minggu (17/11/2019) di Nanyang Technological University (NTU), Singapura. Pada kompetisi yang fokus dalam bidang inovasi itu, delegasi Universitas Airlangga dari Fakultas Keperawatan (FKp) berhasil meraih medali perak.

Tim yang beranggotakan Annisa Fitri Purnamasari, Alfiana Nur Halimah, Desi Syahfitri, Desti Nayunda, dan Timotius Dwi mahasiswa angkatan 2016 FKp itu mengusung inovasi Bidens Pilosa for Stomatitis. Yaitu, prototype produkdari tanaman ketul yang diubah menjadi obat stomatitis (sariawan). Menurut Annisa selaku ketua tim, inovasi tersebut muncul karena telah dilarang produksinya salah satu merek obat sariawan.

Gak banyak orang tahu tentang tanaman ketul yang biasanya ada dipinggir-pinggir jalan, hutan, atau sawah, padahal tanaman itu banyak manfaatnya,” ujar Annisa.

Dari inovasi itu, tanaman ketul diubah menjadi obat sariawan. Seratus persen dari ekstrak tanaman ketul tidak menggunakan campuran bahan kimia, sehingga aman untuk digunakan.

Sebelum mengikuti kompetisi itu, Annisa beserta tim harus membuat abstrak yang diseleksi hingga lolos. Annisa mengatakan bahwa setelah mengetahui abstrak mereka lolos, kemudian mereka mempersiapkan full paper, poster, serta produk inovasi yang mereka presentasikan ke Singapura.

“Jadi selama dua hari, aula kompetisi akan terbuka bagi siapapun yang hadir, jadi kita mempromosikan produk kita, dan juga di sana kita presentasi didepan juri dari dosen profesional dan peneliti selama sepuluh menit. Selain, itu kita juga harus presentasi ke setiap orang yang datang di booth kita,” jawab mahasiswi semester tujuh tersebut.

Annisa menjelaskan, terdapat tiga poin penting dalam penilaian juri. Yakni, inovasi yang diusung, presentasi, dan performa serta kepraktisan inovasi yang dinilai langsung dari booth mereka. Menurutnya, kelebihan inovasi yang mereka usung sehingga mendapat medali perak adalah inovasi mereka dibidang kesehatan yang menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan di Indonesia.

“Ditambah kita mempersiapkan presentasi sesuai dengan kriteria penilaian juri, mengingat banyak banget tim dari berbagai negara yang inovasinya bagus-bagus,” ucapnya.

Annisa melanjutkan, hasil yang telah mereka dapatkan itu telah terbayarkan dan bersyukur dapat membawa medali perak dan membanggakan Indonesia, terutama UNAIR. Di akhir wawancara, Annisa memberikan sebuah pesan untuk mahasiswa-mahasiswa UNAIR, terkhusus untuk para mahasiswa FKp.

“Banyak kesempatan di depan mata, dan carilah pengalaman sebanyak-banyaknya selagi masih menjadi mahasiswa,” tutupnya. (*)

Penulis: Febrian Tito Zakaria Muchtar

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu