Kelebihan Cairan pada Pasien Hemodialisis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi pasien hemodialisis. (Sumber: alodokter)

Hemodialisis atau biasa disebut dengan cuci darah biasa dilakukan pada pasien dengan gagal ginjal tahap V (lima) atau tahap kronis. Terapi ini biasanya dilakukan selama dua atau tiga kali selama sepekan. Seseorang yang menjalani hemodialisis perlu mendapatkan perhatian yang lebih, mengingat manajemen perawatan yang harus dijalani pasien sangat kompleks agar mendapatkan hasil baik. Salah satu permasalahan yang banyak terjadi yaitu kenaikan berat badan yang berlebihan yang diakibatkan oleh cairan yang berlebih di antara waktu hemodialisis.

Data yang dihimpun dari salah satu unit hemodialisis rumah sakit di Surabaya menyebutkan sebanyak 32 persen pasien mengalami kenaikan berat badan akibat kelebihan cairan. Hal ini tentunya akan berakibat pada manajemen perawatan dan juga hasil yang dicapai, karena kelebihan cairan pada pasien hemodialisis berdampak pada kondisi tubuh pasien yaitu bengkak di seluruh tubuh dan yang lebih berbahaya adalah bengkak pada paru (edema paru) yang dapat menimbulkan sesak pada pasien.

Melakukan pengaturan cairan pada pasien yang menjalani hemodialisis memang cukup sulit. Pasien diharuskan membatasi asupan cairan yang mereka minum maupun asupan cairan yang ada dalam makanan mereka. Tenaga kesehatan pada unit hemodialisis selalu melakukan edukasi kepada pasien tentang berapa cairan yang bisa dikonsumsi pasien dan bagaimana melakukan pembatasan cairan agar tidak berlebih. Namun ternyata, upaya ini belum cukup mampu untuk mengantarkan pasien hemodialisis mencapai tujuan terapi yang diharapkan.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahyuni, dkk menyebutkan bahwa ternyata tidak hanya asupan cairan yang menyebabkan berat badan antar waktu hemodialisis meningkat. Selain asupan cairan, rasa haus dan efikasi diri pasien menjadi faktor penting penyebab meningkatnya berat badan yang diakibatkan oleh kelebihan cairan pasien hemodialisis.

Hasil penelitian yang dilakukan Wahyuni, dkk menunjukkan sebanyak 89 persen pasien hemodialisis dengan asupan cairan yang berlebihan memiliki kenaikan berat badan berlebih dari kategori sedang hingga berat. Asupan cairan pada pasien hemodialisis memiliki aturan tertentu sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.  Namun, banyak pasien yang kesulitan untuk dapat mematuhi ukuran yang telah dianjurkan.

Kelebihan asupan cairan akan berakibat pada kenaikan berat badan karena fungsi ginjal pada pasien gagal ginjal sudah tidak lagi dapat berfungsi secara optimal dalam melakukan eliminasi. Kenaikan berat badan yang diakibatkan oleh kelebihan cairan menjadikan prognosis yang buruk pada pasien hemodialisis yang dapat berdampak pada menurunnya  angka harapan hidup pasien yang menjalani hemodialisis.

Rasa haus yang dialami pasien hemodialisis juga menjadi salah satu faktor terjadinya kelebihan cairan pada pasien hemodialisis. Hasil penelitian menyebutkan bahwa 34,2 persen pasien yang sering mengalami rasa haus memiliki kenaikan berat badan akibat kelebihan cairan yang berlebih dari tingkat ringan hingga berat. Rasa haus ini berkaitan dengan banyak hal, salah satunya adalah asupan natrium (garam) yang tinggi. Natrium yang tinggi akan berakibat pada retensi cairan dalam tubuh dan hal ini kan menstimulasi rasa haus.

Selain itu, faktor cuaca yang panas juga dapat berpengaruh pada meningkatnya rasa haus pasien. Haus yang dirasakan oleh pasien memicu pasien untuk minum lebih banyak sehingga asupan cairan akan meningkat. Hal ini kemudian berakibat pada kenaikan berat badan pasien hemodialisis.

Faktor penting lain yang berpengaruh terhadap regimen pembatasan cairan pasien hemodialisis adalah efikasi diri pasien hemodialisis. Efikasi diri adalah keyakinan pada kemampuan diri sendiri untuk menjalani suatu tindakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seseorang dengan efikasi diri yang baik  memiliki kenaikan berat badan atau kelebihan cairan yang ringan hingga normal. Hal ini terjadi karena efikasi diri yang baik akan membuat seseorang termotivasi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Sehingga, mereka yakin dan percaya untuk dapat melakukan pembatasan cairan dan melakukan regimen perawatan yang harus dijalani. Efikasi diri juga berkaitan secara langsung terhadap perilaku dan gaya hidup seseorang untuk menuju hasil yang lebih baik.

Berbagai faktor yang terbukti secara ilmiah berperan dalam kasus kelebihan cairan pada pasien hemodialisis perlu diperhatikan oleh tenaga kesehatan untuk mencapai tujuan terapi yang diharapkan. Diperlukan program-program yang tepat sasaran yang berkaitan dengan metode pembatasan cairan, cara menanggulangi atau memanajemen rasa haus, dan juga program agar dapat meningkatkan efikasi diri pasien sehingga pasien juga dapat berperan untuk melakukan manajemen mandiri yang berkaitan dengan kondisi kesehatannya. (*)

Penulis: Erna Dwi Wahyuni

Informasi hasil riset dapat dilihat pada link berikut,

https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/246/1/012034/meta

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu