Genggaman Budaya pada Perawatan Kehamilan Masyarakat Madura

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi kehamilan. (Sumber: alodokter)

Penyebab masalah kesehatan ibu hamil meliputi tingkat pengetahuan mengenai kesehatan, kemiskinan serta budaya (Devy, 2013). Faktor yang paling sering diabaikan adalah budaya masyarakat. Budaya berkaitan erat dengan nilai-nilai, kepercayaan dan perilaku masyarakat, mitos dan magis yang bertentangan dengan ilmu medis modern.

Mengapa budaya hadir pada perawatan kehamilan? Perawatan kehamilan merupakan proses penting pada masa hamil. Masyarakat Madura memiliki budaya yang bertujuan untuk mencegah terjadinya permasalahan kesehatan. Budaya Madura berperan sangat dominan dalam perawatan kehamilan. Perawatan kehamilan yang mengacu pada budaya Madura di wariskan dari generasi ke generasi.

Upaya pencegahan dan perilaku tertentu

Masyarakat pada umumnya sangat meyakini bahwa budaya akan memberikan kondisi yang terbaik bagi ibu dan bayi yang dikandungnya. Namun, masyarakat tidak memprioritaskan upaya pencegahan yang sesuai dengan pandangan medis, seperti memeriksa kehamilan secara rutin dan makan makanan bergizi.

Masyarakat lebih condong pada upaya pencegahan yang diterapkan dari sisi pandangan budaya, yaitu tabu makanan dan melakukan perilaku tertentu. Perilaku tertentu yang dimaksud adalah perawatan kehamilan yang mengacu pada budaya Madura, antara lain memilih memeriksakan kehamilan awal ke dukun bayi, penggunaan jimat untuk menghindari kemalangan, pijat dan minum jamu.

Kepercayaan

Ibu hamil beserta suami mempercayai bahwa memeriksakan kehamilan ke dukun bayi memiliki manfaat untuk ibu dan bayinya. Dukun dianggap memiliki kemampuan untuk mengetahui dan mengatur posisi bayi. Sementara bidan memiliki kemampuan mengetahui kondisi kesehatan ibu hamil, misalnya: memberikan suntikan, mengukur tingkat tekanan darah, memeriksa detak jantung bayi dan memberi vitamin.

Realitanya, perawatan kehamilan yang dilakukan oleh ibu hamil masih didominasi oleh perawatan tradisional. Perawatan tradisional bertujuan untuk menjaga kesehatan dan keselamatan ibu dan bayi di dalam rahim. Namun, seringkali bertentangan dengan ketentuan medis modern.

Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, dilakukan di wilayah Kabupaten Bangkalan (Puskesmas Trageh) dan Kabupaten Sampang (Puskesmas Omben) di Pulau Madura. Durasi penelitian ini 4 bulan (Agustus-November 2016). Informan yang termasuk dalam penelitian ini adalah ibu hamil yang memiliki keriteria inklusi 1) bersedia menjadi subjek penelitian 2) berasal dari pulau Madura 3) penduduk lokal yang tinggal di lokasi penelitian.

Subjek penelitian terdiri dari 18 orang informan yang terdiri dari 6 ibu hamil, 1 koordinator bidan, 2 bidan lokal, 3 dukun dan 6 anggota keluarga ibu hamil. Pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam dan observasi kepada informan. Untuk mendapatkan data yang valid dalam penelitian ini, kredibilitas data atau informasi diperoleh dengan melakukan triangulasi data, melakukan pemeriksaan anggota dan melakukan obsrvasi pada informan.

Hasil penelitian Devy (2013), yang menyatakan bahwa beberapa alasan lain mengapa wanita hamil tidak melahirkan kepada petugas kesehatan adalah karena pengetahuan kesehatan ibu hamil tentang perawatan kehamilan kurang, biaya persalinan ke petugas kesehatan dianggap mahal, keluarga ikut campur dalam pengambilan keputusan, ibu takut operasi dan pengobatan medis modern.

Pemanfaatan layanan kesehatan pada ibu hamil cukup baik. Namun, tersisa masalah ketidakmurniaan pada kunjungan pertama (K1) diantara ibu hamil. Mereka masih memilih melakukan K1 di dukun bayi bukan di tenaga kesehatan. Selama masa kehamilan pula, ibu hamil melakukan perawatan tradisional dan modern. Hal ini karena, budaya masyarakat yang mengharuskan mereka untuk mematuhi perawatan tradisional seperti memeriksakan kehamilan awal ke dukun bayi, penggunaan jimat untuk menghindari kemalangan, pijat dan minum jamu.

Ibu hamil tidak memiliki wewenang atas perawatan kehamilannya. Hal ini karena, otoritas perawatan kehamilan seorang ibu hamil terletak pada figur ibu kandung atau ibu mertua. Sebagian besar ibu hamil patuh terhadap ibu kandung atau ibu mertuanya karena mereka takut terjadi suatu hal dengan bayinyanya kemudian disalahkan. Sehingga, mau tidak mau seorang ibu hamil harus mematuhi perintah dari ibu kandung atau ibu mertuanya.

Persepsi masyarakat ini perlu diluruskan agar tidak terjadi kesalahpahaman antara perawatan kehamilan tradisional dan modern. Penggunaan forum keagamaan di komunitas (pengajian) sebagai media untuk meluruskan persepsi masyarakat yang tidak tepat mengenai perawatan ibu hamil merupakan salah satu bentuk metode pendekatan terbaik untuk memberikan informasi kepada masyarakat Madura. Namun, pendekatan tersebut harus dilakukan secara rutin. Fungsinya adalah untuk mendapatkan kedekatan dan kepercayaan dari masyarakat, sehingga nantinya informasi tentang kesehatan akan dengan mudah diterima oleh masyarakat.

Penulis : Shrimarti Rukmini Devy

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://www.indianjournals.com/ijor.aspx?target=ijor:ijphrd&volume=10&issue=3&article=138

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu