Bermacam Pengalaman Lansia Penuhi Kebutuhan Nutrisi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi lansia penuhi nutrisi. (Sumber: hellosehat)

Lanjut usia (lansia) umumnya memiliki keinginan untuk menikmati hari tua mereka dengan keluarga mereka. Akan tetapi, dalam keadaan tertentu dan untuk alasan tertentu, mereka memutuskan untuk hidup sendiri. Lansia yang tinggal sendirian harus dapat memenuhi kebutuhan nutrisi mereka secara mandiri.

Berdasarkan sebuah penelitian di Indonesia, kejadian gizi buruk pada lansia banyak terjadi pada lansia yang berusia 70 tahun yang tinggal sendirian. Selain itu, angka kejadian malnutrisi cukup tinggi pada lansia yang tinggal di daerah pedesaan karena dietnya tidak sesuai untuk kebutuhan tubuhnya.

Keputusan untuk hidup sendiri bisa datang dari diri lansia sendiri atau karena keluarga tidak mau dan atau tidak mampu untuk merawat mereka. Beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi orang dewasa yang lebih tua di hidup sendiri adalah faktor budaya, latar belakang keluarga, dan kepribadian. Budaya Indonesia menganut sistem sosial yang bersifat kolektif dan sebagian besar masih mematuhi sistem keluarga besar. Dalam satu rumah terdiri dari beberapa keluarga inti termasuk kakek-nenek. Jadi di kebudayaan Indonesia sangat wajar lansia hiduo bersama keluarganya.

Konflik yang terjadi di dalam keluarga juga dapat menjadi alasan bagi lansia untuk hidup sendiri. Selain itu, beberapa lansia cenderung menginginkan menjadi lansia yang mandiri, aktif menjalin komunikasi dengan tetangga mereka, bebas untuk melakukan kegiatan, dan tidak ingin membebani keluarga mereka. Namun, ada konsekuensi keputusan lansia untuk tingga sendiri salah satunya adalah pemenuhan kebutuhan gizi yang tidak tercukupi.

Penelitian mengenai lansia yang hidup sendiri telah dilakukan seblumnya. Namun, belum ada penelitian mendalam tentang pengalaman lansia hidup sendirian dalam memenuhi kebutuhan nutrisi. Oleh karena itu, peneliti tertarik menggunakan metode penelitian kualitatif dengan fenomenologis desain untuk mengeksplorasi kesulitas lansia yang tinggal sendiri di daerah pedesaan Magetan dalam memenuhi kebutuhan nutrisinya.

Penelitian ini melibatkan tujuh orang lansia yang hidup sendiri tanpa keluarga atau pasangan, masih memiliki fungsi kognitif yang baik. Lansia yang dipilih mampu membaca dan menulis serta setuju untuk berbagi dan berbicara tentang pengalaman mereka selama hidup sendiri. Lansia yang terlibat dalam penelitian ini rata-rata berusia 64 tahun, mayoritas bekerja sebagi petani dan buruh tani. Penghasilan mereka dalam satu bulan diantara 500rbu hingga 1,5 juta rupiah. Empat orang lansia mengalami resiko malnutrisi.

Berdasarkan pengalaman lansia yang terlibat dalam penelitian ini ada tiga strategi yang mereka lakukan untuk dapat memenuhi kebutuhan nutrisinya, yaitu membeli makan jadi dari warung, memasakan makanan sendiri dan memperoleh bahan makanan dari kebun. Hambatan pemenuhan nutrisi pada lansai yang tinggal sendiri adalah usia yang semakin tua, penyakit yang diderita dan ketidak cukupan finansial.

Makanan jadi yang biasa dibeli oleh lansia sangat beragam mulai dari aneka kue, nasi lengkap dengan lauk pauk dan juga bakso. Bahan makanan yang diperoleh dari kebun biasanya adalah aneka sayur mayur, buah—buahan dan beberapa umbi-umbian. Sayur yang biasanya banak digunakan adalah bayam, kacang panjang dan daun singkong. Pisang, manga dan papaya menjadi buah-buahan yang paling umum tersedia di kebun serta macam ketela rmbat dan singkong seringkali dimanfaatkansebagai bahan makanan bagi lansia yang tinggal sendiri.

Pengolahan bahan makanan dilakukan dengan cara yang lebih sederhana, biasanya mereka tidak memperhatikan tata cara penyajian. Makanan tidak ditata diatas meja hanya diletakkan didalam panci atau wajan. Kebanyakan lauk yang dibeli di warung adalah tahu dan tempe.

Hambatan paling besar dirasakan lansia dalam pemenuhan keutuhan nutrisi adalah kondisi penyakitnya seperti penyakit asam urat, kaku sendi, dan rematik. Asam urat menyebabkan lansia harus membatasi varian makanan yang tinggi purin dan pirimidin. Kondisi kaku sendi dan rematik menyebabkan lansia tidak dapat berjalan jauh untuk membeli makanan atauoun memasak untuk dirinya sendiri. Kondisi penyakit tersebut diperparah dengan beberapa gangguan akibat proses penuaan missal gigi yang tanggal dan sulit menelan.

Pengaruh proses penuaan dapat menyebabkan berbagai masalah, baik secara fisik, biologis, mental, dan secara sosial ekonomi. Lansia akan mengalami kemunduran, terutama pada kemampuan fisik. Selain itu, Maryam et al. (2011) menjelaskan kerusakan gigi (ompong) akan mengurangi kemampuan mencerna makanan. Di usia tua, gigi permanen menjadi lebih rapuh,warnanya lebih gelap, dan bahkan beberapa gigi sudah tanggal.

Tantangan untuk hidup sendiri lebih besar pada lansia dibandingkan usia dewasa. Lansia sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti makan, mandi, dll. Menurut Maslow, lansia yang hidup sendiri mungkin kekurangan gizi dan kehilangan berat badan karena mereka tidak mampu membeli makanan yang cukup. Mereka juga terlalu lemah untuk menyiapkan tiga kali makan per hari.

Beberapa orang tua tidak punya nafsu makan karena mereka sakit atau kesepian, dan tidak bisa mendapatkan makanan secara teratur. Tambahan, lansia juga mengalami penurunan fungsi pencernaan, depresi, perubahan kondisi ekonomi, kurangnya pengetahuan tentang nutrisi, ketidakmampuan fisik, seperti kesulitan berbelanja dan memasak, yang semuanya dapat menjadi masalah dalam pemenuhan nutrisi pada lansia tinggal sendiri.

Hambatan ini harus diatasi dengan melibatkan kerja sama dari pemerintah, petugas kesehatan dan masyarakat. Keterlibatan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi lansia yang hidup sendiri sangat diperlukan. Keterlibatan tersebut dapat berupa perhatian dan pengawasan khusus oleh kader lansia. Petugas kesehatan di Puskesmas perlu melakukan kunjungn rumah pada lansia yang tinggal sendiri untuk mengecek status kesehtan dan juga pemenuhan kebutuhan nutrisi.  Kegiatan Posyandu lansia juga perlu digiatkan untuk membantu mengecek status gizi lansia. Selain itu keluarga tetap harus memberikan support dan kunjungan secara regular pada lansia yang tinggal sendiri.

Penulis: Rista Fauziningtyas

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://doi.org/10.5958/0976-5506.2019.02282.4

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu