Pakar: Aspek Psikologis Penting untuk Tingkatkan Kepatuhan Pasien Hemodialisis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Artikel Ilmiah oleh Feri Fenoria

UNAIR NEWS – Pakar Universitas Airlangga Ika Yuni Widyawati mengatakan bahwa distress dan gangguan psikologis merupakan masalah yang signifikan bagi pasien Penyakit Ginjal Kronis Tahap Akhir. Pasien dialisis rentan terhadap stress, terutama karena paparan stresor hemodialisis dan berbagai aturan yang harus diikuti.

Stresor lainnya, menurut Ika, adalah masalah kehidupan, baik yang berkaitan dengan ekonomi, hubungan pribadi dengan pasangan, dengan anak-anak atau anggota keluarga lainnya, hubungan sosial, pekerjaan, bahkan pendidikan.

Fakta itu sesuai dengan penelitian yang dia lakukan bersama tim. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa 89,6% pasien hemodialisis menunjukkan kepatuhan yang rendah terhadap pembatasan cairan dan 91% di antaranya berada dalam kategori tingkat stres yang sangat tinggi.

“Tingkat stres merupakan prediktor utama dalam kepatuhan terhadap pembatasan cairan. Tingkat stres yang sangat tinggi meningkatkan risiko ketidakpatuhan pasien dialisis. Pasien dialisis yang mengalami stres akan menunjukkan kepatuhan pembatasan cairan 11,4 kali lebih rendah daripada pasien dialisis lain setelah mengendalikan variabel keparahan,” ucap Ika.

Dikatakan Ika bahwa hasil penelitiannya dan tim sejalan dengan penelitian lain yang memprediksi hubungan antara kepatuhan dengan kondisi psikososial. Penelitian itu menyatakan bahwa kondisi psikologis adalah prediktor kepatuhan pengikat fosfat, selain usia dan pekerjaan. Dalam penelitian itu juga dinyatakan bahwa variabel depresi, kecemasan, dan stres dapat menjadi risiko kepatuhan minum obat.

Dari sumber penelitian lain disebutkan Ika bahwa masalah psikologis yang paling banyak adalah masalah makanan dan cairan, pengangguran, masalah seksual, perubahan penampilan tubuh, keterbatasan dalam kegiatan fisik, sering dirawat di rumah sakit, lamanya waktu dialisis, ketidakpastian tentang masa depan, perubahan dalam kehidupan gaya, peningkatan ketergantungan, dan gangguan tidur. Mengenai stres fisiologis, masalah termasuk kelelahan, nyeri selama kanulasi, kram otot, gangguan kulit, mual dan muntah.

“Stresor psikososial diketahui terkait dengan penggunaan mekanisme koping yang berorientasi pada pemecahan masalah. Penelitian ini menegaskan bahwa stresor psikososial (termasuk yang terkait dengan stresor restriksi cairan) lebih mudah disesuaikan dengan pasien, tentu saja jika mekanisme koping yang dimiliki oleh pasien berfokus pada penyelesaian masalah,” ucap Ika.

Pasien dialisis yang mengalami stresor berulang, lanjut Ika, akan menunjukkan keterampilan dalam mengatasi stresor atau juga dapat menyebabkan eksaserbasi gejala depresi dan berdampak pada kepatuhan.

Dari penelitian itu, Ika dan tim menemukan bahwa perubahan fisik dan psikososial yang dialami oleh pasien dialisis berkontribusi pada pencapaian kepatuhan pembatasan cairan. Studi itu menunjukkan bahwa perubahan psikologis, yaitu stres yang dialami oleh pasien dialisis menjadi prediktor utama dalam kepatuhan pembatasan cairan.

“Perawat dialisis perlu mempertimbangkan perubahan psikologis yang dialami oleh pasien dan merencanakan intervensi yang sesuai dengan kondisi psikologis yang dialami,” tambahnya. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh
Editor: Khefti Al Mawalia

http://www.indianjournals.com/ijor.aspx?target=ijor:ijphrd&volume=10&issue=3&article=096

Widyawati Ika Yuni, Nursalam, Kusnanto, Hargono Rachmat. 2019. Personal Factors that Affect Adherence of Fluid Restriction in Patient with Hemodialysis. Indian Journal of Public Health Research & Development, Volume : 10, Issue : 3.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu