Metode ELISA sebagai Metode Deteksi Protein Helicobacter Pylori CagA Tipe Asia Timur

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Artikel Ilmiah oleh Feri Fenoria

UNAIR NEWS – Helicobacter pylori berhasil diidentifikasi pertama kali oleh peraih hadiah nobel, Barry Marshal dan Robin Warren. Sejak saat itu, berbagai studi mengenai H. pylori telah banyak dilakukan oleh peneliti di berbagai belahan dunia.

Infeksi H. pylori menjadi salah satu beban kesehatan di bidang penyakit saluran cerna dengan angka kejadian infeksi bakteri ini cenderung lebih tinggi di negara berkembang.  H. pylori  turut memiliki peranan penting dalam proses patogenesis berbagai penyakit di saluran pencernaan manusia, seperti gastritis kronis, tukak lambung, bahkan kanker lambung.

Peneliti dari Institute of Tropical Disease (ITD) dan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga dr. Dalla Doohan dan dr. Muhammad Miftahussurur, Sp.PD., M.Kes., Ph.D bekerja sama dengan Oita University Faculty of Medicine, Jepang baru-baru ini berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya di salah satu jurnal internasional terkemuka, yaitu Medical Microbiology and Immunology.

“Penelitian ini berfokus pada CagA, yang merupakan salah satu faktor virulensi yang terpenting bagi H. pylori. Riset tersebut membahas mengenai metode diagnostik non-invasif terbaru yang memungkinkan klinisi untuk mendeteksi kadar antibodi terhadap CagA di dalam serum, yaitu metode enzyme immunoassay (ELISA) yang menggunakan protein CagA tipe Asia Timur sebagai antigen,” ujar dosen FK tersebut.

Kesimpulan penting yang dapat diambil dari penelitian ini adalah metode diagnostik yang digunakan terbukti memiliki performa dan tingkat akurasi yang lebih baik untuk mendeteksi pasien yang terinfeksi oleh CagA tipe Asia Timur. Hal ini juga menunjukkan bahwa metode diagnostik ini seharusnya digunakan pada populasi yang lebih dominan terinfeksi oleh CagA tipe Asia Timur, seperti negara Indonesia, Jepang, Korea Selatan, dan China.

“Faktanya, lebih dari 90% isolat H. pylori di berbagai negara dapat memproduksi protein CagA juga mendukung potensi penggunaan metode diagnostik ini sebagai modalitas pemeriksaan untuk mendeteksi status infeksi H. pylori dengan tingkat sensitivitas, spesifisitas, dan akurasi yang tinggi. Tersedianya metode diagnostik yang akurat dan mudah diaplikasikan diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mendeteksi infeksi H. pylori dan melakukan upaya pengobatan sedini mungkin”, harapnya.

Penulis : Dian Putri Apriliani

Editor : Nuri Hermawan

Link : https://link.springer.com/article/10.1007/s00430-019-00634-5

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).