Gelar Seminar Women Hero 4.0, Rana Shofwatul: Sesama Perempuan Harus Saling Mendukung, Jangan Menjatuhkan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Suasana saat penyampaian materi di seminar Women Hero 4.0, dari kanan Dr. Pinky Saptandari EP, Dra., MA., Dr. Sri Sumarmi, S.K.M., M.Si,, Evilita Andriani, Juliana Evawati, S.H., M.Kn dan moderator Nadya Tiarasari, pada Sabtu (23/11) di Aula Dharmawangsa lantai 8 Rumah Sakit UNAIR. (Foto: Nikmatus Sholikhah).

UNAIR NEWS – Dewasa ini banyak sekali kegiatan yang menyerukan gerakan terhadap pemberdayaan perempuan. Namun, arti pemberdayaan itu sendiri masih sering disalahartikan dengan menyebutkan bahwa perempuan mampu ikut berkontribusi dalam berkarir untuk menghasilkan uang sendiri. Melihat hal itu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan BEM Universitas Airlangga (UNAIR) menyelenggarakan seminar Women Hero 4.0 pada Sabtu (23/11/2019) lalu.

“Makna pemberdayaan itu sendiri bagi kami adalah bagaimana perempuan bisa berguna untuk sesama dan menjalankan fungsi-fungsinya dengan baik. Untuk meluruskan pengertian itu, maka kami berinisiatif untuk melaksanakan seminar ini,” ungkap Rana Shofwatul sebagai ketua pelaksana.

Bertempat di Aula Dharmawangsa lantai 8 Rumah Sakit UNAIR, seminar yang diikuti 120 peserta itu mengusung tema “Perempuan Inklusif: Empowered Women, Empower Women.” Dalam sesi diskusi pertama, acara tersebut mengundang empat pemateri, yaitu Dr. Pinky Saptandari EP, Dra., MA., Dr. Sri Sumarmi, S.K.M., M.Si,, Juliana Evawati, S.H., M.Kn dan Evilita Andriani.

Juliana Evawati, S.H., M.Kn sebagai anggota legislatif termuda di DPRD Surabaya membahas perempuan dari segi politik. Dia menuturkan bahwa keterlibatan perempuan dalam dunia politik itu sangat perlu, karena jika tidak dimulai dari diri sendiri yang terlibat, maka akan terlalu lama untuk menunggu orang lain menyuarakan kepentingan perempuan dalam pemerintahan. Alumni Fakultas Hukum UNAIR itu juga menilai bahwa keaktifan perempuan di bangku pemerintahan kini sudah cukup baik.

“30 persen kursi DPRD di Surabaya diduduki oleh perempuan, Staff Khusus Presiden yang baru saja diumumkan juga didominasi oleh perempuan. Selain itu, ada beberapa perempuan juga yang terlibat dalam kementerian. Hal itu menunjukkan bahwa kiprah perempuan di bidang politik sudah cukup aktif,” imbuhnya.

Berbeda dengan Juliana, Dr. Pinky Saptandari EP, Dra., MA., membahas tentang pemberdayaan perempuan secara keseluruhan. Dosen gender dan seksual UNAIR itu menekankan bahwa perempuan Indonesia harus mampu mengubah budaya di masyarakat yang masih didominasi oleh patriarki. Dia juga menghimbau kepada seluruh perempuan untuk saling bekerja sama.

 “Perempuan yang sudah berdaya harus ikut mambantu dalam memberdayakan perempuan lainnya,” jelasnya.

Dari berbagai materi yang telah disampaikan, Rana berharap bahwa peserta seminar dapat mengaplikasikan bekal yang telah diterimanya. “Sesama perempuan mari saling mendukung satu sama lain, jangan menjatuhkan. Itulah salah satu poin penting dala pemberdayaan perempuan,” pungkasnya.

Penulis: Nikmatus Sholikhah

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu