Dr. Pinky: Perempuan Indonesia Harus Bekerjasama untuk Melawan Stereotip di Masyarakat

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dr. Pinky Saptandari EP (kanan) saat memberikan penjelasan tentang tantangan perempuan di era revolusi industri 4.0 dalam seminar Women Hero 4.0, pada Sabtu (23/11) di Aula Rumah Sakit Universitas Airlangga. (Foto: Nikmatus Sholikhah)

UNAIR NEWS- “Indonesia saat ini telah memasuki era revolusi industri 4.0 yang membuat teknologi semakin cepat berkembang. Era tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan oleh perempuan untuk menjadi agent of change di Indonesia, namun sayangnya masih banyak perempuan yang justru menyalahgunakan kemajuan  tekhnologi tersebut,” ungkap Dr. Pinky Saptandari EP, Dra., MA.

Kutipan itu melatarbelakangi Dr. Pinky dalam menyampaikan materi di acara seminar bertajuk Women Hero pada Sabtu (23/11/2019). Dalam acara yang bertempat di Aula Dharmawangsa Rumah Sakit Universitas Airlangga (UNAIR) itu, Dr. Pinky menyatakan bahwa masyarakat tidak siap dengan kemajuan informasi dan tekhnologi, sehingga terjadilah penyalahgunaan. Salah satunya adalah meluasnya prostitusi online yang dapat merugikan pihak perempuan.

Dosen gender dan seksual UNAIR itu memaparkan bahwa perempuan selalu dikaitkan dengan moral dalam budaya patriarki masyarakat. Sehingga ketika terjadi kasus prostitusi mereka akan selalu menjadi sorotan.

“Kegiatan prostitusi itu tidak bisa dilakukan hanya perempuan sendiri, laki-laki juga berperan. Tapi dalam setiap kasus prostitusi yang diungkap, pasti hanya pihak perempuan saja yang muncul ke publik untuk meminta maaf sedangkan identitas sang laki-laki tidak diekspos secara dalam. Hal itu menunjukkan bahwa seakan-akan perempuan selalu menjadi pusat kesalahan dengan justifikasi moral,” jelasnya.

Kontributor aktif jurnal perempuan itu juga mengatakan bahwa perempuan di era sekarang ini harus belajar tentang banyak hal. Menurutnya, kebanyakan perempuan yang memegang smartphone dalam kesehariannya itu belum tentu dirinya smart. “Penguasaan teknologi saja itu tidak cukup, perempuan juga butuh banyak belajar tentang budaya, sejarah, dan berbagai bidang lainnya agar dirinya tidak kering,” tambahnya.

Lebih lanjut, Dr. Pinky menyatakan bahwa untuk mengatasi berbagai persoalan di atas, perempuan Indonesia harus bekerjasama untuk melawan atau merekontruksi sosio kultural dan strereotip dalam dominasi patriarki di masyarakat. Seperti yang kita ketahui, dalam tradisi masyarakat Indonesia, perempuan sering dianggap hanya mempunyai tugas 3M (macak, manak, masak) dan berbagai  stereotip lainnya yang merendahkan posisi perempuan.

“Berkerjasamalah untuk menjadi agent of change Indonesia dengan mengubah mindset masyarakat terhadap budaya patriarki dan ciptakan generasi perempuan yang 3M, yaitu multi-media, multi-platform, dan multi-tasking,” pesannya.

Penulis : Nikmatus Sholikhah

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu