Wisata Religi Wali Limo/Songo dari Sudut Pandang Perilaku Konsumen

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi salah satu destinasi wisata wali songo. (Sumber: blog darmawisata Indonesia)

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa dari total penduduk Indonesia, sebesar 87,18% adalah muslim. Sebagai umat muslim, selain menjalakan rukum Islam dan rukun Iman, maka umat muslim juga menjalankan tradisi wisata religi. Wujud dari wisata religi yang banyak diikuti oleh umat muslim Indonesia adalah mengikuti ziarah ke makam para wali, baik Wali Limo maupun Wali Songo.

Berbeda dengan wisata pada umumnya, maka wisata religi memiliki karakteristik tersendiri. Demikian juga dengan para peserta wisata religi ziarah ke makam wali ini, semua pesertanya adalah umat muslim dari berbagai tingkat demografis, yang memiliki variasi terkait usia, pekerjaan, jenis kelamin, besaran penghasilan, domisili, dan sebagainya. Untuk itu menarik untuk dikaji anteseden dari para muslim/muslimah yang melakukan wisata religi ke makam para wali, serta mengungkap tingkat kepuasan mereka.

Perilaku Konsumen pada Wisata Religi

Perilaku konsumen dimaknai sebagai proses seseorang dalam melakukan pencarian, memilih, melakukan pembelian, menggunakan, dan mengevaluasi sekaligus melakukan pembuangan terhadap suatu produk/jasa. Bagi para penyaji jasa maupun produsen produk, dituntut untuk memahami perilaku mereka, dengan harapan mereka menjadi puas dan pada akhirnya tercipta loyalitas konsumen. Sementara itu yang dimaksud dengan wisata religi adalah kunjungan ke tempat-tempat keagamaan, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan keagamaan dan rekreasi.

Terkait dengan hal tersebut, maka perlu bagi  pengelola destinasi wisata religi untuk memahami para konsumennya, yaitu para muslim/muslimah yang sedang melakukan ziarah wali limo/wali songo tersebut. Pemahaman perilaku dari para peziarah dalam studi ini meliputi: motif mengikuti wisata religi, manfaat mengikuti wisata religi, ketersediaan sarana dan prasarana ibadah di destinasi wisata religi, ketersediaan penjual makanan halal serta souvenir, kepuasan mereka, dan niat mereka untuk berkunjung kembali di destinasi wisata religi di masa mendatang.

Riset ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan riset kualitatif, yaitu dengan cara menggali informasi dari para informan, dengan cara: (1) Focus Group Discussion dengan berbagai pihak yang terkait dengan wisata religi, antara lain umat muslim yang pernah mengikuti wisata religi, pengelola wisata religi, pakar menajemen pemasaran, dan  tokoh muslim; (2) Melakukan indepth interview umat muslim yang pernah mengikuti wisata religi, pengelola wisata religi, pakar menajemen pemasaran, dan  tokoh muslim.

Hasil analisis menunjukkan bahwa minat umat muslim di Indonesia untuk mengikuti wisata ziarah (wali songo dan wali limo) sangat besar, dan akan terus meningkat di masa-masa mendatang. Mengingat sebagian informan penelitian (para peziarah) mengatakan puas dengan destinasi wisata religi, serta semua partisipan mengatakan berniat untuk terus mengikuti wisata religi tersebut. Dengan demikian peluang besar bagi para pelaku bisnis wisata religi untuk meraih pasar yang lebih banyak lagi.

Berbagai motif yang melatar belakangi wisatawan mengikuti wisata religi, mulai dari untuk meningkatkan tingkat keimanan dan ketaqwaan, mendapatkan ketenangan hati, mendapatkan hidayah dari Tuhan, serta untuk menjalankan sunah rosul. Demikian juga dengan manfaat yang mereka dapatkan setelah mereka mengikuti wisata religi juga beraneka ragam, antara lain menimbulkan rasa ketenangan jiwa, merasa lebih sadar akan adanya kematian, keinginan untuk meneruskan perjuangan dari para wali, dan menjadi  menjadi lebih bertaqwa kepada Tuhan.

Sarana dan prasarana di destinasi wisata religi juga telah mengalami perbaikan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan sarana dan prasarana lima tahun yang lalu. Demikian juga dengan ketersediaan penjual makanan, minuman dan suvenir sangat banyak dan menawarkan produknya dengan harga yang terjangkau. Namun beberapa sarana prasarana perlu ditingkatkan, antara lain terkait dengan kebersihan kamar mandi dan tempat wudlu. Dalam hal ini juga dibutuhkan kesadaran dari para wisatawan untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungannya.

Akhirnya, implikasi riset ini pada berbagai pihak yang terkait dengan keberadaan destinasi wisata religi, antara lain saran kepada pengelola destinasi wisata religi, pemerintah daerah, serta panitia ziarah wali. Semua saran ditujukan untuk kenyamanan dan keamanan dari para wisatawan.

Bagi praktisi pemasaran, hasil studi ini bisa digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk terus meningkatkan layanan di bidang wisata religi di dalam negeri, mengingat potensi berkembang sangat besar. Demikian juga kontribusi studi ini untuk pengembangan ilmu pemasaran, khususnya terkait dengan manajemen pemasaran pada jasa wisata religi. (*)

Penulis: Tanti Handriana

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.emerald.com/insight/content/doi/10.1108/JIMA-10-2018-0188/full/pdf?title=exploration-of-pilgrimage-tourism-in-indonesia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu