Deteksi Antibodi Antisperma pada Sapi Perah Kawin Berulang

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi sapi perah. (Sumber: merdeka.com)

Sapi perah merupakan salah satu komoditi utama subsektor peternakan. Dengan adanya komoditi subsektor tersebut, dapat membantu memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia setiap harinya. Berdasarkan data statistik populasi sapi perah di Indonesia semakin menurun jumlahnya yang merupakan kendala bagi usaha peternakan sapi perah di Indonesia. Salah satu penyebab rendahnya populasi sapi perah adalah kasus gangguan reproduksi yang hampir menuju kemajiran ternak betina hingga mengakibatkan rendahnya produktifitas ternak.

Gangguan reproduksi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain gangguan keseimbangan hormon reproduksi, pengelolaan kurang baik, penyakit pada alat kelamin khususnya penyakit kelamin menular, kelainan anatomi alat kelamin yang bersifat genetik, kelainan atau patologi pada alat kelamin dan lingkungan yang kurang serasi.

Gangguan reproduksi pada ternak dapat mengakibatkan rendahnya efisiensi reproduksi. Hal ini dibuktikan dengan rendahnya efisiensi reproduksi sapi perah di Indonesia yang ditandai dengan panjangnya calving interval (18-24 bulan), rendahnya angka konsepsi (<40%) dan tingginya service per conception (>3).

Gejala gangguan reproduksi salah satunya adalah kejadian kawin berulang (repeat breeder). Kawin berulang merupakan suatu keadaan sapi betina yang mengalami kegagalan untuk bunting setelah dikawinkan tiga kali atau lebih tanpa adanya abnormalitas yang teramati Kawin berulang pada dasarnya disebabkan oleh dua faktor utama yaitu kegagalan pembuahan (fertilisasi) dan kematian embrio dini.

Antibodi antisperma yang dihasilkan karena adanya perlukaan pada membran mukosa saluran kelamin betina merupakan salah satu penyebab kegagalan reproduksi secara imunologis. Antibodi antisperma (ASA) adalah antibodi yang dikembangkan melawan spermatozoa dan dapat mempengaruhi kesuburan spermatozoa, sehingga menyebabkan kawin berulang pada manusia dan hewan.

ASA dapat ditemukan dalam serum darah, lendir serviks, cairan oviduk, cairan uterus, serta cairan folikuler. Kehadiran ASA dapat menghambat pelepasan spermatozoa melalui lendir serviks, mencegah perubahan fluiditas membran yang dibutuhkan untuk kapasitasi, mengurangi kemampuan spermatozoa untuk menjalani reaksi akrosom dan mengganggu pengikatan zona pelusida dan fertilisasi.

Penelitian ini dilakukan oleh Fadila Zikri Amanda et al. (2018) yang mengungkap antibody antisperma dari saluran reproduksi sapi perah yang mengalami kawin berulang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang mengambil sampel berupa lendir serviks dan serum darah pada sapi perah yang mengalami kawin berulang. Jumlah sampel lendir serviks dan serum darah diambil sebanyak 11 sampel dari 10 ekor sapi perah yang mengalami kawin berulangdan 1 ekor sapi perah normal. Deteksi antibody antisperma menggunakan teknik ELISA-Indirect.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai konsentrasi antibodi antisperma yang muncul pada sampel lendir serviks maupun serum darah sapi perah FH kontrol (K) memiliki nilai konsentrasi yang lebih rendah masing-masing senilai 0,342 dan 54,860 ng/ml. Nilai konsentrasi sampel lendir serviks dan serum darah yang paling tinggi didapatkan pada sapi perah FH yang mengalami kawin berulang(P10) senilai 233,776 dan 944,531 ng/ml.

Banyaknya jumlah inseminasi yang dilakukan menyebabkan tingginya nilai konsentrasi antibodi antisperma pada sampel lendir serviks dan serum darah, hal ini dikarenakan pada umumnya semen yang mengandung spermatozoa menghadirkan antigen yang muncul di berbagai tahap perkembangan. Antigen ini, hadir sejak awal pada spermatozoa menempel setelah ejakulasi dan terlibat dalam proses pematangan dan fertilisasi, mereka juga bertindak sebagai pelindung terhadap sistem kekebalan tubuh dari saluran reproduksi wanita.

Salah satu karakteristik dasar spermatozoa adalah perubahan terus menerus pada struktur antigeniknya karena hilangnya molekul permukaan selama pematangan dan inseminasi tersebut. Dalam teknologi inseminasi buatan (AI), struktur antigenik spermatozoa berubah karena penambahan pengencer yang berbeda, prosedur pembekuan dan pencairan serta pengurangan volume plasma seminalis.

Kesimpulan dari hasil penelitian tersebut adalah  nilai konsentrasi antibodi antisperma yang tertinggi didapatkan pada sapi perah yang mengalami kawin berulang dan dikawinkan lebih dari 4 kali. (*)

Penulis: Fadila Zikri Amanda

Ulasan ilmiah tentang penelitian ini dapat dilihat pada tautan berikut,

http://ivj.org.in/users/members/viewarticles.aspx?Y=2019&I=794

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu