UNAIR dan ITB Kolaborasi Gagas Pengembangan Teknologi untuk Kemanusiaan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ALLYA P. Koesoema, Ph. D. bagian dari IEEE ketika memberikan paparan di acara workshop Pendanaan Untuk Teknologi Kemanusiaan pada Jumat (22/11/2019). (Foto : Erika Eight Novanty)
ALLYA P. Koesoema, Ph. D. bagian dari IEEE ketika memberikan paparan di acara workshop Pendanaan Untuk Teknologi Kemanusiaan pada Jumat (22/11/2019). (Foto : Erika Eight Novanty)

UNAIR NEWS Institute of Electrical and Electronics Engineers Special Interest Group Humanitarian Technology (IEEE SIGHT), salah satu organisasi internasional yang menggagas pengembangan teknologi untuk kemanusiaan mengadakan diskusi dan workshop di Universitas Airlangga (UNAIR). Tepatnya melalui PIPS, UNAIR kembali berkolaborasi dengan ITB menghadiri diskusi dan workshop mengenai pembuatan proposal pendanaan pengembangan teknologi untuk kemanusiaan. Kegiatan itu berlangsung selama dua hari, pada Jumat-Sabtu (22-23/11/2019) di Ruang Pertemuan PIPS, Gedung Manajemen Kampus C, UNAIR.

Kegiatan itu dihadiri oleh Allya P. Koesoema, Ph. D. dan Dr. dr. Yoke S. Irawan, dari Institut Teknologi Bandung (ITB) hadir sebagai pemateri. Di sisi lain, Ketua Pusat Inovasi dan Pembelajaran dan Sertifikasi (PIPS) UNAIR Yuni Sari Amalia, S.S., M.A., Ph.D., mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan kerja sama untuk menimba ilmu terkait penulisan proposal pendanaan internasional oleh IEEE.


Kegiatan diskusi tersebut juga melibatkan pakar dari ITB dan merupakan suatu kolaborasi lanjutan dari program yang dibuat antara UNAIR dengan ITB diinisiasi oleh PIPS. Yakni, terkait sistem dan bahan ajar pembelajaran berbasis Virtual Reality (VR) di bidang medis yang sebelumnya juga mendapatkan pendanaan dari LPDP Rispro.

“Kemudian, dari sana kami berbincang-bincang, bagaimana kolaborasi yang indah ini tetap berlanjut,” katanya.

Maka dari itu, lanjut Yuni, kali ini diadakan sebuah kegiatan yang tidak hanya merupakan sosialisasi, tapi juga diadakan pembimbingan bagaimana membuat proposal yang baik sehingga mendapatkan pendanaan dari luar negeri bisa banyak mengalir ke universitas-universitas yang ada di Indonesia. Yuni menambahkan, kegiatan tersebut terinisiasi lantaran pendanaan dari luar negeri untuk proposal lebih banyak jatuh ke negara-negara lain seperti India, dan Afrika.

“Ternyata masalahnya adalah karena kita tidak tahu informasi sehingga tidak banyak yang mengumpulkan dari Indonesia,” katanya.

IEEE sendiri adalah organisasi internasional, beranggotakan para insinyur, yang memiliki tujuan untuk mengembangkan teknologi kemanusiaan. IEEE juga merupakan kontributor sitasi terbesar dan karya-karyanya banyak terindeks oleh Scopus.  

“Sangat sulit untuk menembus IEEE karena sangat bergengsi. Nah, Kami sangat senang dan berterima kasih tentunya karena disumbang ilmunya oleh IEEE,” pungkas Yuni.

Kegiatan itu diharapkan menjadi awal munculnya berbagai kolaborasi-kolaborasi lainnya. “Kita bisa lihat ternyata antusias peserta dari UNAIR sangat besar. Sebenarnya hanya terbatas 20 kursi, namun ternyata yang datang hampir 30 orang,” ungkapnya.

“Siapa tau nanti kita juga bisa menjadi pemenang pendanaan berikutnya,” imbuh dia.

Melalui kegiatan itu, Yuni juga berharap ada lebih banyak pakar dari Indonesia yang ikut meramaikan IEEE SIGHT. “Membership SIGHT di IEEE itu sangat terbatas. Jadi, mari kita ramaikan,” pungkasnya. (*)

Penulis: Erika Eight Novanty

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu