Berawal dari Keinginan Jalan-Jalan, Alumni FKM UNAIR Sukses Berbisnis Kuliner

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
NUR Cholis Imam Hanifa saat menunjukkan bisnis kulinernya di salah satu outlet Mushroom. (Foto: istimewa)

UNAIR NEWS – Pusat Pembinaan Karir dan Kewirausahaan (PPKK) Universitas Airlangga (UNAIR) bekerjasama dengan BEM Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNAIR mengadakan seminar Airlangga Entrepreneur Club pada Kamis (21/11/2019) lalu. Bertempat di Aula Parlinah Perpustakaan Kampus B UNAIR, seminar yang rutin diadakan setiap seminggu sekali itu mengangkat tema “Manajemen Risiko Bisnis Kuliner”. Tidak tanggung-tanggung, pemateri yang diundang adalah CEO Mushroom Factory Indonesia, yaitu Nur Cholis Imam Hanifa.

Dalam penyampaian materinya, CEO yang juga sekaligus alumni Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR itu menceritakan bagaimana awal mula masuk dalam bisnis kuliner, tips memulai bisnis, dan juga tantangan yang dihadapinya. Cholis, sapaan akrabnya menuturkan bahwa latar belakang dia memulai usaha kuliner adalah karena keinginannya untuk jalan-jalan ketika masa perkuliahan. Saat itu, dia menjelaskan bahwa salah satu langkah yang paling strategis untuk bisa pergi jalan-jalan gratis adalah dengan mengikuti lomba.

“Kebetulan ketika itu tahun 2005 ada lomba Wirausaha Muda Mandiri yang hadiahnya lumayan besar untuk digunakan jalan-jalan. Akhirnya saya dan teman-teman lain dalam satu tim ikut event tersebut dengan mengangkat topik jamur dan akhirnya sampe sekarang diteruskan menjadi suatu usaha,” jelasnya.

Pemilihan jamur sebagai produk yang dijual bukanlah tanpa alasan. Cholis menyatakan bahwa jamur merupakan salah satu makanan favoritnya. Selain itu, produksi jamur di Indonesia juga banyak, sehingga dia ingin membantu para petani jamur dalam melakukan budidaya jamur.

Lebih lanjut, Cholis memaparkan bahwa usahanya dimulai sejak tahun 2006, namun baru secara resmi masuk sebagai Perusahaan Perseorangan (Persero) pada tahun 2008. Selama kurang lebih 10 tahun menjalankan usaha jamur, dia menuturkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapinya adalah bagaimana cara untuk tetap bertahan dan eksis dalam bisnis kuliner.

“Tidak ada tips khusus bagaimana caranya bisa bertahan dalam satu dekade, intinya harus terus berusaha melakukan segala macam cara untuk tetap mempertahankan usaha ini,” imbuhnya.

Hingga saat ini, Mushroom Factory telah memiliki 15 cabang aktif yang tersebar di seluruh Indonesia. Chorin menuturkan bahwa produk makanannya kebanyakan dijual di kedai atau stand mall. Hal itu dikarenakan menurutnya mall merupakan salah satu tempat yang cukup higienis untuk penjualan makanan.

“Di mall itu suhunya dingin, tidak ada paparan matahari, kendaraan, dan debu sehingga dapat mengurangi intensitas berbagai macam bakteri yang masuk ke makanan. Itulah keistimewaan produk kami, selalu mengutamakan ke-higienisan.” Tambahnya.

Terakhir, Cholis berpesan kepada masyarakat yang masih bingung untuk memilih produk apa yang akan diperjualkan dalam usaha kuliner untuk mengikuti selera jajan apa yang disukainya. “Kamu sukanya apa, jual itu saja. Jangan berharap semua orang suka, itu susah. Yang penting adalah berjualan lah menggunakan hati,” pungkasnya.

Penulis : Nikmatus Sholikhah

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu