Inaya Wahid : Manfaatkan Perbedaan Jadi Kekuatan Capai Bonus Demografi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Inaya Wulandari Wahid saat diskusi di Kajian Titik-Temu yang digelar di Aula Garuda Mukti Kampus C UNAIR. (Foto: Agus Irwanto)

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar Kajian Titik-Temu dengan mengusung tema “Membangun Manusia Indonesia dalam Perspektif Pancasila” pada Rabu (20/11/2019). Salah satu tokoh yang hadir di Kajian Titik-Temu yang digelar di Aula Garuda Mukti Kampus C UNAIR adalah Inaya Wulandari Wahid dari Jaringan Gusdurian.

Dalam pembukaannya, Inaya sapaan akrabnya, membuka diskusi dengan menceritakan perjalanannya ke Korea Utara. Kondisi negara yang ia kunjungi sangat berbeda dengan di Indonesia.

“Waktu saya berkunjung ke Korea Utara, kami dianggap seperti orang asing, padahal pakaian kami biasa. Itu karena mereka menyeragamkan keadaan sosial disana,” ujar Inaya.

Berdasar pengalaman tersebut, Inaya menakutkan bahwa Indonesia akan menyeragamkan keadaan sosial dan akan menyudutkan pihak yang ‘berbeda’. “Ketika terlihat berbeda, langsung dihujat. Ditekan supaya kemudian jadi sama. Kelihatan berbeda sedikit dikira radikal,” jelasnya.

Inaya memantik peristiwa yang sempat viral dulu. Yaitu ketika bapak berjenggot dan memakai celana cingkrang sedang berdiri di depan sekolah Katolik. Dalam situasi itu, masyarakat langsung beralibi ada teroris sedang memantau. Setelah diselidiki, bapak tersebut sedang mengenang istrinya yang dulu bekerja di sekolah tersebut.

“Tanpa tedeng alih-alih, kita men-judge bapak tersebut teroris, atau kebalikannya. Dengan adanya ketakutan dan tekanan seperti itu, akhirnya kita menyamakan semuanya. Jika tidak sama maka bukan golongan tersebut,” ucap Inaya.

Menurut Inaya, kekuatan Indonesia berasal dari perbedaan yang beragam. Perbedaan itulah yang membuat berjalannya demokrasi. Orang dengan latar belakang yang berbeda, memiliki pemikiran berbeda, dan sumber daya yang berbeda. “Indonesia jangan diseragamkan, jangan sia-siakan potensi tersebut,” imbuhnya.

Ada lima langkah yang digagas oleh Inaya kepada pemuda Indonesia untuk menjaga perbedaan. Pertama, menjaga keragaman. Ada kondisi dimana masyarakat perlu sepakat untuk tidak harus sepakat, tidak semua harus disepakati.

Kedua, pemuda Indonesia harus kritis. Jangan menolak mentah-mentah, sehingga memperbanyak narasi. “Jangan mengikuti kelompok yang persis dengan kalian,” ucapnya.

Ketiga, menggunakan privilege, mengecek hak istimewa. Setiap kelompok memiliki hak istimewa yang berbeda. Kalau menetap di kelompok yang sama, masyarakat cenderung berpikir pemikiran yang sama. “Kita cenderung berfikir itu adalah fakta, di lingkungan luar tidak ada fakta tersebut,” jelasnya.

Inaya menambahkan, fokus di hal-hal yang penting, relevan, dan signifikan. Inaya menuturkan, tidak seharusnya kita masih membicarakan terkait perbedaan, masih banyak masalah yang belum terselesaikan.

Saat ini, Indonesia sedang menuju Bonus Demografi, yaitu ketika usia produktif (15-30 tahun) jauh melebihi usia yang sudah tidak produktif. “Kesempatan tersebut harus dimanfaatkan. Kalau tidak akan terjadi bencana demografi,” tegasnya.

Keempat, perbanyak pertemuan di ruang-ruang budaya yang menyatukan masyarakat Indonesia tanpa memandang perbedaan. “Seperti sobat ambyar. Simpul-simpul tersebut yang bisa memperkuat Indonesia,” ucapnya.

Untuk upaya deradikalisasi, tidak serta merta dilakukan secara singkat. Semua membutuhkan proses yang panjang dan butuh kontribusi banyak. Pendidikan, politik, ekonomi, dan factor lainnya memainkan peranan.

Sebagai penutup, Inaya mengutip apa yang pernah diucapkan oleh ayahnya, dari Gus Dur. “Perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi,” tutupnya. (*)

Penulis : R. Dimar Herfano Akbar

Editor    : Binti Q Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu