Ilmuan UNAIR Teliti Penyebab Kekerasan Siswa yang Terjadi di Sekolah

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Artikel Ilmiah oleh Feri Fenoria

UNAR NEWS – Persoalan dunia pendidikan seringkali diwarnai dengan kasus kekerasan yang melibatkan guru ketika menghukum atau senior yang ingin mendisiplinkan juniornya. Hal inilah yang menarik Tutik Budi Rahayu dan rekannya dalam meneliti aakar penyebab dari kasus kekerasan yang ada di sekolah. Menurutnya, konflik kekerasan seperti ini menyebabkan ketidakseimbangan relasi antar pelaku dan korban kekerasan tersebut.

Ia menemukan fakta di sekolah bahwa sebagian besar siswa pernah mengalami kekerasan baik di sekitar sekolah maupun di luar sekolah, dan kekerasan yang lebih banyak terjadi adalah di lingkungan sekolah.

“Pelaku dan korban kekerasan pada umumnya adalah sesama siswa di sekolah. Namun  di setiap jenjang pendidikan yang dilalui siswa,  pelaku kekerasan berbeda-beda. Di jenjang SD dan SMA pelaku kekerasan terbanyak adalah sesama siswa, sedangkan di jenjang SMP, pelaku kekerasan terbanyak adalah guru di sekolah,” ungkapnya.

Kekerasan itu, sambungnya, memiliki beberapa penyebab. Yaitu adanya murid yang terlampau nakal, ketidakpahaman guru terhadap makna kekerasan dan dampak negatif yang akan terjadi setelahnya. “Guru seringkali menggunakan legitimasi yang dimilikinya. Hal itu disebabkan oleh banyaknya guru yang beranggapan bahwa dengan memberi hukuman pada murid, maka murid tersebut akan jera dan tidak mengulangi kesalahannya lagi,”ujarnya.

Padahal jika diketahui, sambungnya, dampak kekerasan akan mengakibatkan murid tidak sopan dan cenderung untuk membenci gurunya. Penyebab masalah ini dilatarbelakangi oleh kelemahan lembaga pendidikan saat ini. Ia menegasakan bahwa dengan adanya pergantian kurikulum yang cenderung statis, kurikulum yang membebani guru dan murid, pembelajaran yang padat serta tidak adanya pengawasan dari dinas pendidikan kerap menjadi salah satu penyebab kekerasan terjadi di sekolah. Apalagi melihat banyak orang tua murid yang berani dalam mengadu ppersoalan tersebut.

“Banyak orangtua murid tidak berani bersuara dan tidak berdialog dengan anak untuk memantau perkembangan anak di sekolah. Sehingga pengawasan pada anak-anak juga tidak berjalan dengan baik,” tuturnya.

Dari hasil penelitian ini Tutik mengidentifikasi bahwa hampir sebagian besar siswa pernah mengalami kekerasan, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Jenis kekrasan yang pernaah dialami adalah kekerasan verbal, fisik, tidak langsung, dan represif.

“Tapi dari 4 jenis kekerasan tersebut, kekerasan fisik, verbal dan tang langsunglah yang memiliki intensitas paling tinggi,” tandasnya.

Namun, hal ini bias diatasi dengan iklim akademik yang kondusif. Sehingga dapat menurunkan angka terjadinya kekerasan yang dialami siswa dan siswa pun juga dapat menikmasi suasana kegiatan belajar dan mengajar yang nyaman dan menyenangkan.

“Iklim akademik itu bias meliputi ragamnya kegiatan yang menunjang kebutuhan belajar siswa, kegiatan intra/ekstra kurikuler di sekolah, ketersediaan sarana-prasarana yang memadai di sekolah, dan perhatian yang adil/seimbang dari para guru terhadap sisiwanya,” tutupnya.

Penulis: Khefti Al Mawalia

Editor: Nuri Hermawan

Referensi:

https://www.atlantis-press.com/proceedings/icocspa-17/55909019

Tuti Budirahayu, Novri Susan. 2018. Violence at School and Its Root Causes. Proceedings of the International Conference on Contemporary Social and Political Affairs (IcoCSPA 2017).

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).