Dosen UNAIR Lakukan Survey Cross-Sectional untuk Menemukan Penyebab Stunting

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Artikel Ilmiah oleh Feri Fenoria

UNAIR NEWS – Stunting atau pengerdilan menurut WHO adalah kegagalan pertumbuhan anak akibat gizi buruk, terkena infeksi berulang kali, dan kekurangan stimulasi psikososial. Angka stunting di Indonesia terbilang cukup tinggi, mencapai 30,8%.

Susy Katikana Sebayang S.P., M.Sc., Ph.D, dosen FKM PSDKU UNAIR di Banyuwangi memutuskan untuk melakukan penelitian dengan metode survey cross-sectional terkait hal ini bersama timnya. Tujuan dari penelitian ini, jelas Susy, adalah untuk mengidentifikasi penyebab-penyebab stunting pada anak berusia 0 hingga 23 bulan dan kemudian menginformasikan mengenai rancangan kebijakan dan program yang sesuai.

“Sebanyak 1.366 anak dari tiga kabupaten terlibat dalam penelitian yang dilakukan pada tahun 2011 ini. Penelitian ini juga merupakan proyek European Union funded Maternal and Young Child Nutrition Security Initiative (MYCNSIA) yang memang dirancang untuk mengurangi stunting pada anak di bawah tiga tahun dan anemia pada wanita hamil melalui peningkatan intervensi gizi-spesifik dan gizi-sensitif,” pungkasnya lebih lanjut.

Tiga kabupaten yang dipilih oleh proyek MYCNSIA adalah Sikka di NTT yang memiliki prevalensi tertinggi di Indonesia, Jayawijaya di Papua yang indikator sosial dan kesehatannya jauh di bawah rata-rata nasional, serta Klaten di Jawa Tengah yang memiliki angka beban stunting tertinggi. Persyaratan sampel yang diambil adalah rumah tangga yang memiliki anak usia 0 hingga 35 bulan.

“Hasil dari penelitian ini menunjukkan prevelansi stunting berada di angka 28,4% sedangkan stunting berat di angka 6,7%. Faktor-faktor yang diidentifikasi paling signifikan adalah sanitasi rumah tangga, pengolahan air rumah tangga, dan jamban yang tidak diperbaiki. Faktor signifikan lainnya meliputi jenis kelamin laki-laki, usia anak yang lebih tua, kuintil kekayaan yang lebih rendah, tidak adanya perawatan antenatal di fasilitas kesehatan, dan partisipasi ibu dalam keputusan tentang makanan apa yang dimasak dalam rumah tangga,” jelas Susy.

Sebagai kesimpulan, Susy bersama timnya menunjukkan bahwa sanitasi rumah tangga dan pengolahan air minum menjadi faktor kuat stunting pada populasi anak-anak berusia 0-23 bulan di Indonesia. Temuan ini menambah bukti baik dalam skala nasional dan global tentang keterkaitan antara water, sanitation, and hygiene (WASH) terhadap pertumbuhan linear di awal kehidupan.

“Penelitian ini juga menunjukkan bahwa perlu adanya perhatian yang lebih besar pada intervensi WASH di Indonesia untuk merancang kebijakan dan program kesehatan dalam mengatasi stunting,” pungkasnya.

Penulis: Tsania Ysnaini Mawardi

Editor: Nuri Hermawan

Hasil penelitian lebih lanjut dapat dilihat pada 6. 2016 – Determinants of stunting in Indonesian children: Evidence from a cross-sectional survey indicate a prominent role for the water, sanitation and hygiene sector in stunting reduction – BMC Public Health – Torlesse, Harriet; Cronin, Aidan Anthony; Sebayang, Susy Katikana; Nandy, Robin

https://www.scopus.com/record/display.uri?eid=2-s2.0-84979702240&origin=resultslist&sort=plf-f&src=s&sid=59adc67eafbca135a01c7ae54e894937&sot=autdocs&sdt=autdocs&sl=18&s=AU-ID%2824068188900%29&relpos=5&citeCnt=17&searchTerm=

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu